Rabu, 28 Desember 2016

Gelap Aku dan Kamu

Pembohong,
Mereka bilang kamu baik dan peduli. Tapi kamu tidak begitu dengan ku. Laku kasarmu dan tidak berperasaanmu pada ku.
Penjahat,
Mereka bilang kamu sangat tulus dan kamu bilang kamu bukan pemilih. Jelas tatapan dan kata-katamu selalu palsu dan tidak sama dengan ku.
Perhatikan ini,
Aku tidak bisa membencimu barang sedetik pun dan aku tidak bisa berhenti menangis dengan menjadikanmu sebagai alasannya.
Uhh, aku ingin tenggelam bersama gelap.
Aku hampir kehilangan setitik cahaya, dan membuyarkan semua kekacauan yang coba kusembunyikan.
Uhh, bom waktu yang orang bilang.
Aku hanya akan berusaha membuatnya tidak menjadi kenyataan, biarkan orang bilang aku hanya akan terus memandaikan diri ku untuk menyembunyikan semuanya.
Aku pastikan hal ini,
Manusia lain hanya akan tahu apa yang kutunjukan di hadapan mereka.
Satu-satunya manusia yang kupercaya dan kutemui dengan semua sisi sebenarnya aku adalah kamu.
Kamu yang memilih untuk tidak berada di sisi ku lagi dan lebih memilih jalan untuk membahagiakan dan dibahagiakan dengan mereka yang memang sudah sejak lama merasakan bahagia seperti kamu.

Selasa, 27 Desember 2016

Bintang dan Awan Gelap

Kamu satu-satunya yang paling tahu aku selain DIA. Bahkan di hadapan Ibu ku masih bisa ku sembunyikan banyak hal karena aku terlanjur tahu beliau telah menanggung banyak beban. Perasaan bersalah ku padamu mungkin tidak pernah nampak, mungkin karena terlalu tinggi harga diri ku atau terlalu banyak kesalahan ku. Teruntuk kamu, Bintang yang selalu bersinar baik dalam hidup ku atau pun orang lain di sekitarmu.

Bintang selalu disibukkan dengan banyak hal yang tentunya membuat dia semakin bersinar. Dia bisa tertawa dan menikmati indahnya cahaya matahari sebelum malam tiba dan memintanya untuk bersinar. Aku hanya awan gelap yang selalu siap menurunkan hujan dan tentu menghalangi sinarmu, seperti malam yang berawan. Kemarin, setelah hitungan minggu aku tidak bertemu kamu dan rasanya masih sama. Rasanya aku hanya ingin semakin menggelapkan langitmu dengan menahan bendungan air hujan serta petir-petir kecil yang siap mengkilatkan cahaya. Selalu seperti itu bukan aku? Bintang selalu gagal bersinar ketika bersama ku.

Bintang terlalu baik untuk ku. Dia selalu memenuhi kebutuhan ku dan selalu ada untuk ku. Tapi aku? Selalu jadi yang paling gagal memahaminya, selalu sibuk dengan banyak urusan yang berakhir jadi masalah untuk ku kemudian memaksakan pengertiannya atas semua tingkah pola ku. Begitulah aku selama ini, sama dengan awan gelap berisi air hujan dan sesuka angin berhembus menutupi sinar yang coba Bintang pancarkan. Dan dia masih jadi satu-satunya yang paling mengenal dan mengetahui tentang aku dari banyak sisi terburuk ku.

Uhh, Bintang mungkin sudah tahu atau terlalu muak untuk mencari tahu tentang aku. Bukan dia yang meminta ku pergi karena dia tidak sejahat aku. Aku telah memilih untuk melihat dia hidup benar-benar bersinar tanpa ada aku awan gelap tidak tahu diri seperti aku. Aku hanya telah memutuskan untuk melihatnya dari langit bagian lain dan memastikan hanya ada awan gelap kecil yang sesekali menutupinya, tapi bukan aku. Bintang akan bahagia dan aku akan berkelana sambil terus menatapnya dengan cara ku.

*Nangis deui. Inti inspirasinya mungkin sebagian teman terdekat ku tahu. InSyaa Allah lebih dari lima puluh persennya murni kerena angin dan galau mau masuk rumah tapi tak ada kunci.

Senin, 26 Desember 2016

Aku Bukan Kamu

Sore itu aku berjalan sebentar dengan dia yang ku kasihi. Sebentar bersama hari itu menyadarkan seperti apa aku sebenarnya. Aku terlanjur menjadi pribadi yang serba apa adanya, penuh keterbukaan, terkesan berantakan, dan selalu mampu membuat suasana bahagia. Jelas sudah sejauh apa perbedaan antara kamu dan aku. Kamu hidup dalam banyak batasan, aturan mengikat, dan tidak suka kegaduhan yang ku buat untuk membahagiakan orang lain.

Sepuluh menit lalu, sebelum aku berpisah dengan dia aku asih menemukan langit membiru dengan awan tipis dan cahaya matahari. Tapi, sekarang langit menghitam, awan mulai berkumpul menebal, dan cahaya matahari tersimpan rapi di balik awan tebal dan langit menjadi benar-benar hitam. Seburuk itu ternyata usaha melepaskan kamu yang terjaga selama banyak hitungan tahun di dalam hati dan doa ku.

Aku berdiri di halte sore itu menanti bus antar kota yang siap mengantarkan ku ke tempat tujuan. Niat ku kali ini lebih lurus dibanding niat-niat ku sebelumnya. Aku tidak lagi pergi untuk menyembunyikan kamu di balik semua kesibukkan yang ku buat. Tapi aku telah memilih untuk membiarkan kamu tetap di tempatmu dan aku melakukan kesibukan ku untuk menggapai banyak cita-cita yang telah kubuat. Aku membiarkanmu menetap itu seperti gedung-gedung tinggi yang sering ku lihat mereka tetap berdiri gagah disana dan perlahan gedung-gedung besar dan megah lain menutupinya. Benar, ini perihal "waktu" yang sedang coba ku bahas.

Aku lebih pantas merasa kekurangan dalam banyak hal dan lebih tidak tahu diri karena harus tetap menyimpan kamu yang sudah jelas telah menyimpan orang lain di dalam hatimu. Tapi Tuhan meminta ku untuk mencintai orang lain bukan membenci, jadi akan kubiarkan fitrah ku sebagai manusia menetap. Aku hanya percaya Tuhan akan membaikkan kekurangan ku, memaafkan kesalahan ku, mencintai aku apa adanya, maka dengan begitu aku akan merasa sangat bahagia dengan mereka yang ku kasihi meski tidak ada dan tidak dengan kamu.

**Aku tidak tahu hatimu, tapi hati ku tetap memilihmu.

Sabtu, 19 November 2016

#21 Y.O

Assalamu'alaykum.

11 hari lalu, aku rasa berkurang lagi masa aktifku untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Aku hanya ingin berterimakasih untuk Sang Maha Pemilik kehidupan karena telah berbaik hati dengan penuh kasih menemani serta memberi warna hidupku. Aku hanya akan berusaha lebih keras dan bersunguh-sungguh agar mampu menjadi seperti yang DIA mau. Aamiin.

Harapan? Hmm, aku rasa banyak harapan terselip dalam doa yang seringkali ku sampaikan padaNYA. Spesifik harapan akan jadi sulit kupaparkan karena cukup banyak. Satu yang terpenting adalah semoga aku meraih kebahagiaan di dunia hingga akhirat dan diwafatkan dalam keadaan khusnulqotimah. Aamiin.

Terimakasih banyak atas ucapan dan doa yang telah kuterima. Aku yakin doa terbaik kalian akan dikabulkan juga untuk kalian. Alhamdulillah, aku cukup berbahagia karena kalian. Aku tersadarkan bahwa cinta kalian yang mencintai tanpa harap dicintai itu lebih sering kuabaikan atau bahkan kulupakan. Aku sangat berterimakasih pada kalian. Maaf untuk semua kekurangan dan kesalahanku.

21 kali ini aku diminta untuk mengikhlaskan banyak hal. Meski rasanya cukup menyakitkan, mengecewakan, menyedihkan, dan hal kacau lain yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan hal kurang menyenangkan kali ini jadi hadiah terbaik untukku langsung dari DIA. Aku hanya percaya bahwa ada maksud dari yang terjadi dan aku hanya perlu menerima serta berdoa agar ikhlas yang kulakukan sesuai dengan ketentuanNYA.

Terimakasih 21.

Selasa, 08 November 2016

Pas Cinta atau Cinta Pas?

Assalamu'alaykum.
Lama tidak bercerita bukan?
Uhh, sahabat-sahabatku bilang bahwa membahas "cinta" tidak akan pernah ada habisnya. Entah benar atau tidak yang mereka bilang, sepertinya belakangan atau sejak lama aku salah satu dari yang membenarkan apa yang mereka bilang. Kali ini tentang aku dan perjalanan cintaku. Semoga bermanfaat dan dipenuhi kejujuran di dalamnya. Aamiin

Aku dalam pandanganku hanya perempuan biasa yang cukup periang, agak kurang peka, cengeng, dan susah mencintai sekaligus menyudahi. Kalau bagaimana aku dalam pandangan sahabat dan teman-temanku sepertinya bisa ditanyakan langsung pada mereka. Kurang lebih sebagai perempuan biasa aku pastikan masih menyukai lawan jenis karena memang kodratku sebagai mahluk berperasaan. Permasalahannya sudah waktunya kah? Tepat sasarankah? Sesuai cara mencintainyakah? Nah lhoo ada yang bisa jawab?

Pertama, sebagai manusia yang masih diberi waktu untuk sendiri alias tidak berpasangan pasti ada bagian dalam hatiku yang sengaja Tuhan biarkan kosong untuk kemudian diisi oleh semua tentang "kamu". Persoalan satu ini, aku bukan termasuk yang rinci untuk menyusun daftar kriteria lelaki idaman, meski beberapa kali ikut kajian pranikah sebagian Ustadz dan Ustadzah menyarankan untuk membuatnya. Jadi, hal utama daripada yang paling utama menurutku adalah agama. Bagaimana bisa aku yang ilmu agamanya pas-pasan memilih lelaki yang sama denganku? Jelas sisi perfeksionisku lebih memilih si dia yang menurutku agamanya lebih baik dari aku, dengan harapan klasik bisa dibimbing dan berjalan bersama menuju syurgaNYA. Itu si aku beberapa bulan lalu.

Kedua, aku berada di dalam lingkungan yang biasa saja. Maksudku biasa saja adalah tidak sepenuhnya bernuansa islami, segala macam jenis manusia lain dengan keyakinan masing-masing berada tepat di sekitarku. Lantas apa hubungannya dengan cinta? Jelas ada, mereka menjadi salah satu alasan cara yang ku gunakan untuk mencintai. Apalagi, si aku yang periang dan cenderung sangat terbuka ini pasti lebih mudah berbagi cerita yang umum atau biasa saja. Cinta untuk lawan jenis termasuk hal biasa saja bukan privasi menurutku, jadi kalau aku merasa senang, sedih, naksir, suka, mungkin cinta aku akan lebih senang menceritakannya tentu dengan orang-orang terpilih dan terkasih. Kali ini aku katakan begitulah si aku beberapa bulan lalu.

Ketiga, aku sungkan berteman dengan lawan jenis. Urusan satu ini aku rasa karena belajar mengantarkanku. Aku tetap punya teman laki-laki karena sebagian besar kegiatanku di luar kampus bercampur dengan lawan jenis, teman baik laki-laki inSyaa Allah bisa kuhitung dengan jari sekitar 3-5 orang. Itu saja sudah repot mengurusnya, padahal kata orang lebih asik berteman dengan laki-laki karena ga repot. Jadi, pada intinya aku jarang melihat ke arah laki-laki atau tahu jenis-jenis mereka ada yang seperti apa saja. Kecuali memdengar cerita seikhlasnya yang orang lain bagi denganku. Semoga ini adalah hal baik dan sesuai dengan yang Tuhan mau. Ini aku sampai hari ini sejak tiga tahun lalu.

Keempat, aku sulit suka dengan orang (*lawan jenis). Kali ini aku akan menceritakan sedikit, selama SMP zamannya jadi ABG aku cuma sempat suka dengan satu orang teman satu sokelah sampai aku lulus SMP. Berlanjut ke SMA hal itu terulang lagi. Sampai kuliah...? Aku yakin masih sama dan terulang lagi. Entah apa yang salah dari mata, pikiran, dan hatiku karena sampai urusan enteng seperti ini saja aku bisa selebay ini. Kalau aku mau rasanya aku bisa naksir atau mengalihkan rasa tertarik ku pada beberapa laki-laki tapi sepertinya aku tidak mau. Itu aku beberapa bulan lalu, masih sama, cuma kamu.

Keempat plot penjelasan singkat dan mungking kurang jelas di atas aku harap sudah dapat memberi gambaran ke arah mana aku akan melangkahkan jemariku di halaman ini. Sepertinya, inSyaa Allah kalau aku tidak salah ingat, aku pernah membahas urusan "cinta" dengan versi yang berbeda dari yang kutuliskan sekarang. InSyaa Allah arah berakhirnya tulisan ini masih sama kok dengan sebagian tulisanku lainnya.

Kesimpulan dari pertanyaan dan penjelasanku mungkin aku akan coba jawab dengan caraku.

Pertama, urusan waktu itu hal paling termisteri dari segala macam misteri yang tersedia di bioskop-bioskop terdekat. Coba kita ingat, adakah dari kita yang sebelumnya dengan sangat rinci membayangkan hari ini akan terjadi hal yang sama, sesusai, pas, tepat sasaran, dan sesempurnanya bayangan yang kita coba buat di buku agenda harian? Masyaa Allah kalau ada yang bisa melakukannya sesempurna itu. InSyaa Allah banyak dari kita yang ikhtiarnya maksimal jadi agenda harian punya nilai manfaat. Aamiin. Tapi aku rasa untuk detailnya kita lapar di menit kesekian setelah target agenda kesekian atau bertemu si a-z di jam kesekian sebelum menuju agenda kesekian sulit kita bayangkan atau bahkan tidak muncul dalam benak kita bukan? Itu yang kumaksud dengan waktu adalah misteri. Hebatnya Allah ta'ala dengan sebaik-baik aturan dan ketetapanNYA telah lebih dulu menuliskan surat cinta dalam Al-Qur'an surat Ali Imron ayat 14 berisikan tentang bagaimana Allah menjadikan indah pandangan kita hampir disepanjang waktu selama hembusan nafas masih jadi nikmat terindah dariNYA agar bahagia di dunia sekaligus sadar bahwa kembali ke sisiNYA adalah keindahan yang tidak ternilai. Ayat tersebut menyadarkanku bahwa fitrah untuk merasa kagum dan cinta dengan mahluk ciptaanNYA termasuk lawan jenis.

Kedua, urusan tepat sasaran atau mungkin meleset dikit itu salah satu hal yang terkesan ringan tapi berat nyatanya. Coba deh kita bayangin kalau kita disuruh pilih bawa satu plastik yang isinya batu dan satu lagi isinya kapas, pasti kita pilih yang berisikan kapas bukan? Nah kalau sudah tahu gitu kam enak, masalahnya kali ini mata kita ditutup dan hanya punya kesempatan memilih sekali kemudian harus menentengnya dari bundaran HI sampai Monas. Kebayangkan kemungkinan kalau kita pas milih kapas bahagia deh tuh, kalau meleset? Nangis dan pegel-pegel atau pingsan bisa jadi kita. Kali ini Allah lebih dulu menyampaikan di dalam surat cintaNYA, Al Qur'an surat Ar-Ruum ayat 21 berisikan tentang telah Allah ciptakan isteri/suami agar kita merasa tenteram kepadaNYA dan dijadikan pula rasa kasih sayang diantara keduanya sebagai tanda kebesaranNYA bagi kaum yang berpikir. Jelas sekali Allah lebih dulu mencintai kita sebelum kita bisa kenal sama cinta kepada mahlukNYA. Terus kita tahu tepat atau tidaknya dari mana? Dari rasa kasih sayang yang muncul kemudian setelah taat dan berada dalam koridorNYA menjadi pilihan menjalani kesendirian yang bersifat sementara. Jadi, kalau pacaran atau kayak aku naksir berlebihan berani bilang cinta-cintaan berarti kita masih menutup mata dan memilih secara acak tanpa kepastian. Kalau mau tepat sasaran ya itu si dia yang menjaga iman untuk dan karena DIA kemudian datang untuk menghalalkan penuh kemapanan, memunculkan kita dan dimunculkan tepat dihadapan kita lewat malam-malam istikhoroh dan doa-doa terbaik kita. InSyaa Allah bisa kita pastikan dalam lillahita'ala si dia adalah jodoh kita yang tepat sasaran.

Ketiga, kesesuaian cara kita menanti cinta, dicintai dan mencintai ini adalah proses belajar yang kudu musti banget diseriusin biar tidak melewati zona batas aman. Ayat pertama yang Allah tuliskan dalam surat cintaNYA, surat Ali Imron ayat 31 berisikan tentang kewajiban kita mengikuti jejak Rosululloh dalam mencintai Allah agar berlimpah kasih dan pegampunan hidup kita. Ayat kedua, surat Adz Dzariyaat ayat 49 berisikan tentang ketetapan Allah menjadikan kita berpasang-pasangan agar kita mengingat kebesaranNYA. Kedua ayat ini jelas sekali memastikan langkah dan cara kita harus sesuai ketentuan serta ketetapan yang berlaku di dalam ajaran agamaNYA. Coba kita bayangkan kalau lolos uji pembuatan sim C tapi yang dudapat lisensi sim A, ibarat kata kita belajarnya nyetir motor tapi disuruh bawa mobil. Ya resikonya kalau ga mobil rusak, nyawa terancam, dan susah menentukan kebaikan di dalamnya bukan? Sama aja kalau kita maunya dapat cinta yang tepat waktu dan tepat sasaran tapi jalan yang kita pilih tidak sesuai aturan yang berlaku dalam perjalan hidup di dunia? Mungkin kacaunya sama kayak ibarat sim tadi bukan? Jadi, cukup ikuti jalur yang telah ditetapkan InSyaa Allah disampaikan tepat waktu dan sasaran kok.

Alasan terbaik yang bisa kutuliskan kenapa ada kata-kata 'itu aku beberapa waktu lalu' karena aku baru saja menggeser sedikit langkahku dan berusaha menyadarkan diriku bahwa kesenangan sebentar yang Allah pinjamkan diterima dengan cara tidak baik jelas akan terasa sakitnya. Jadi, Bismillah mengantarkan aku pada titik terbaik yang telah Allah tetapkan dalam perjalanan hidupku yang sebentar di dunia ini. Salah dan kesalahan berulang selama ini tentang rasa cinta atau sejenisnya dengan lawan jenis adalah pelajaran termahal sekaligus pengantar terbaik untuk ku dalam usaha menemukan pintu-pintu cahaya yang Allah janjikan pada setiap mahlukNYA yang berusaha mendekatiNYA. Satu langkah kecilku bernilai untuk setiap doa serta harap mendapati ribuan langkah Allah mendekati dan mendekapku lebih erat lagi agar baikku dalam pandanganNYA serta seluruh penghuni alam semesta. ^^

Bagiamana? Udah jujur belum aku? InSyaa Allah teman, ini hal terbaik yang bisa kubagi. Aamiin

Alhamdulillah, terimakasih telah bersedia singgah dan membaca coretan panjang kali ini tentang "Pas Cinta atau Cinta Pas?". Tepat pada #amandemenhati ke-65.

Wassalamu'alaykum.

Jumat, 30 September 2016

Belajar Sebelum Diminta

Assalamu'alaykum sahabat fillah.
Dini hari jelang pergantian tahun hijriah aku ingin menuliskan sedikit kisah sedih dan menyenangkan di penghujung tahun ini.
Bermula dari masuknya tahun kedua ku di perguruan tinggi negeri yang sedang ku jalani sekarang ini. Aku kembali melakukan aktifitas ku seperti mahasiswa pada umumnya. Aku rasa memang sedang waktunya, satu bulan pertama kuliah ku kali ini dipenuhi dengan kebahagiaan yang belum pernah ku bayangkan sebelumnya. Rumah ku yang biasanya hanya ramai di malam hari, sekarang mulai ramai hampir setiap hari. Personil yang biasanya hanya ada dipertengahan tahun, belakangan sering hadir diantara aku, Mama, dan adik ku. Tapi tak berlangsung lama, cukup satu bulan kata Allah.
Kejadian kedua adalah tentang satu buku yang kugunakan satu setengah tahun lalu. Aku adalah pribadi yang terlalu perasa dan baik dalam mengingat hal kecil. Aku hanya mengatakan tentang aku yang sebenarnya, jika ada perbedaan dalam penilaian tentang aku mohon maaf. Sejarah di balik buku ini sangat berkesan untuk ku, meski mungkin tidak berlaku sama dengan sosok yang ada di dalam sejarah buku ini. Singkatnya aku cukup menghargai keberadaan buku ini, sampai akhirnya dosen mata kuliah ku saat ini melihatnya dan meminta untuk kepentingan mengajarnya. Dengan sedikit berat hati aku memberikan buku ini dan berharap amal baiknya bisa berguna bagiku, sosok di dalamnya, dan tentunya Dosen ku. Aamiin
Kalian bisa menangkap alur atau arah curhatan singkat ku kah? Pada intinya aku sedang diajarkan oleh Allah ta'ala makna sebenarnya dari "belajar memberi tanpa diminta". Kalian tahu sahabat, beratnya melepaskan sesuatu yang berarti dan sangat kita sayangi? Pasti masing-masing dari kit pernah ada di posisi ini. Sakit, nangis, galau, dan lain-lain respon manusiawi yang muncul karena sebuah kejadian yang belum sempat dipersiapkan kedatangannya. Alhamdulillah, dua kejadian yang ku alami mengijinkan aku untuk belajar mempersilahkan sebelum diminta. Siapa yang bisa prediksi bahwa ramai rumah ku hanya berlaku sebulan kemudian berubah jadi sepi bahkan seperti penuh duka setelahnya? Siapa juga yang mau peduli kalau ada sejarah yang berkesam di dalam sebuah buku? Sebelum semuanya terjadi aku lebih dulu belajar bahwa di dunia ini memang tidak ada yang abadi dan menyerahkan yang akan terjadi pada Yang Maha Memiliki Kehidupan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. Aku hanya mengajarkan pikiranku untuk menerima apa pun bentuk keputusanNYA atas kehidupan ku dengan begitu respon manusiawi ku akan terjaga dan berwujud dalam bentuk yang tidak sama. Alhamdulillah, sampai hari ini kalau teringat dan harus menghadapi personil yang belum beralih dari respon manusiawinya aku hanya perlu melebarkan telinga dan bahu ku, mengucapkan hal baik dan menenangkan, dan mendoakan agar segera membaik semuanya. Perihal buku bersejarah sebelumnya sudah kusampaikan, aku hanya akan senyum-senyum sendiri dan mendoakannya.
Kali ini rinduku memang harus tertanam dengan baik di dalam hati dan membiarkan waktu menimbunnya dengan bahagia atau menguapkannya dengan airmata. ^^

Rabu, 28 September 2016

Digigit Semut

Digigit Semut

Aku duduk di atas rumput tepat di bibir danau ketika petang baru sebagian datang menyapa

Tanganku mulai menyapa rumput dan beberapa kali memetik mereka tanda aku telah mengakhiri masa hidup mereka

Kali ini aku biarkan angin yang bertiup cukup kencang menggerakan penutup kepalaku dan rasanya menjadi lebih damai

Aku hanya ingin membiarkan angin membawa pergi kata dan kejadian yang ku benci dari dalam pikiran serta hatiku

Aku terlalu bosan mendengar umpatan yang terucap bukan dari hati dan mengatas namakan hati, terlalu munafik

Aku juga terlalu benci mendengar pujian dan rayuan tapi hanya dari rongga mulut yang berisikan lidah tak bertulang, terlalu pandai berdusta

Berkali-kali aku katakan tanpa suara pada mereka untuk diam dan berhenti mengucapkan hal-hal yang hanya membuat hati ku berantakan

Kalau saja berteriak di hadapan danau bisa buat mereka mendengar ingin ku pasti sudah ku lakukan sejak dulu

Sayang, danau tak bertelinga, angin hanya bersuara, dan rumput sesekali bergoyang kemudian pasrah dipetik atau terinjak

Aku sudah tak peduli lagi siapa yang benar dan salah, bahkan aku tak lagi mau peduli dengan keadaan hati ku saat ini

Ahh angin, kata mu Tuhan Maha Baik dan Maha Pengasih?

Tapi kenapa DIA biarkan semut di balik rumput-rumput ini menggigit tanganku yang sedang menyapa mereka?

Kamu tahu angin, sakitnya gigitan mereka buatku tak bisa berteriak, air mata ku mengalir dengan deras, dan meninggalkan bekas yang perlahan memerah di tanganku

Angin, sampaikan pada Tuhan untuk keringkan air mata ku petang ini dan biarkan aku untuk selalu membagikan senyum sederhana ku sampai habis waktu ku di dunia

Aku hanya perlu pertolonganNYA untuk selalu membahagiakan dan membaikan hati mereka yang memilih dan dipilih untuk ada di sisi ku

Karena digigit semut itu sakit dan hidup terlalu baik untuk ditangisi

Senin, 26 September 2016

Bawa Aku Pulang

Semburat jingga petang ini tidak sendiri, dia ditemani angin yang bertiup cukup ramah kemudian menyapa ku yang sedak duduk di salah satu bangku taman pinggir danau.

Aku tidak meminta untuk dibiarkan sendirian tapi manusia lain memang sedang asik dengan urusan dan seakan mengabaikan hal kecil yang menyapa mereka.

Perlahan aku tak lagi mendengar tawa canda mereka, hanya suara angin yang bermain dengan air danau di hadapan ku kali ini yang kudengar seperti suara anak-anak ramai di taman bermain.

Aku tersenyum agar tak ada satu pun yang curiga, bahkan angin dan langit petang itu tak ku ijinkan untuk tahu tentang hal yang selalu ku sembunyikan.

Aku kembali mengingat suara berat dan khas itu yang berbisik "kamu pasti kuat, kamu harus kuat karena peranmu".

Ah, rasanya aku ingin melemparkan diri ku ke dalam danau yang aku tak pernah mau tahu di mana dasarnya dan berharap akan bersama dengan ikan kecil serta lumut yang menetap di dalamnya.

Aku ingin mengakhiri setiap kebahagian yang kudengar, kutemui, dan bahkan yang sekedar menyapaku karena terlalu menyakitkan untuk bisa menikmatinya.

Tuhan, kalau membenci adala hal yang Engkau halalkan. Aku pasti memilih untuk membenci sejak hari itu, sejak langit biru menjadi hitam, matahari bersinar ramah menjadi terlalu panas seperti ingin membakar, bulan dan bintang menganggu indahnya gelap bagi ku.

Tapi Engkau selalu saja menuntun hati ku untuk mengalahkan inginku kemudian aku hanya akan bersikap seperti menerima, tersenyum seakan semua baik-baik saja, dan riang seakan tak pernah ada yang terjadi di baliknya.

Petang kini berganti malam, tak ada lagi angin, jingga, dan permukaan danau yang ramah. Semua selesai ketika aku beranjak dari bangku taman, kemudian gelap, malam, dan bantal di kamar ku akan meminjam sebentar semua yang ku simpan atas tuntunanMU.

Aku hanya perlu melakukannya selama waktu yang tak pernah ku pertanyakan padaMU kapan berakhirnya. Aku hanya akan terus percaya dan menyerahkan langkah ku dalam ketetapan dan kasih MU. Aku yang ingin membenci dan berakhir tetap mencintai karena dan hanya untuk MU.

Minggu, 25 September 2016

Rindu Tak Berujung



 Sabtu pagi ini, sisa hujan masih nyata dalam pandangan, kutemukan daun yang basah, bau khas habis turun hujan masuk bersama dengan udara yang ku hirup, keduanya begitu menenangkan dan kuharap bisa menemukan mereka di setiap pagi. Aku tidak cukup banyak memiliki agenda untuk dilakukan karena sebagian besar agenda ku hari ini untuk memanjakan diri dan mngistirahatkan pikiran ku dari rutinitas hari-hari biasanya. Kemudian suasana pagi ini mengantarkan ku untuk tenggelam sebentar dalam gelap dan sunyi di kamar dengan sisa hujan yang kutemui.
            Aku berjalan perlahan di dalam pikiran ku, berharap bisa menemukan sesuatu yang cukup lama kusimpan rapi dalam laci hati ku. Aku ingin menyapa sebentar rindu ku untuk dia yang kubiarkan berdebu dalam laci yang ku kunci rapat untuk waktu yang cukup lama. Laci itu berisikan dia yang selama ini kubiarkan menetap dan tidak tergantikan meski hanya untuk hitungan persekian detik dengan sosok lain. Entah dia akan berbahagia atau menghilang seperti debu kah ketika dia mengetahui apa yang ku lakukan untuknya. Aku memutuskan untuk menyimpannya bukan tanpa alasan dan usaha ku menemukan alasan terbaik melakukan hal ini masih belum sempurna.
            Aku berhasil menemukan dia tepat di laci ketujuh yang ku miliki di dalam hati ku. Aku mengajaknya keluar dan duduk berhadapan agar aku bisa mengingat wajahnya dengan baik dan coba menemukan rindu yang sudah kusimpan cukup lama.  Aku di dalam pikiran ku tetap tidak pandai untuk bersikap ramah padanya, aku hanya bisa terdiam dan sesekali tersenyum seakan aku tahu bahwa dia dalam keadaan baik dan sedang berbahagia. Aku di dalam pikiran ku coba berimajinasi kalau hal ini benar menjadi sebuah kenyataaan akan seperti apa jantung ku bekerja dan berusaha untuk berdetak normal agar aku bisa bernafas dan tetap hidup ketika berhadapan dengannya. Aku masih asik memandanginya di dalam pikiran terbaik ku pagi ini.
            Aku mengajak dia berjalan sebentar menyusuri jalan panjang yang pernah kami lalui bersama, itu adalah jalan waktu. Aku mengenal dia sejak enam tahun lalu dan keadaannya masih sama aku hanya membiarkan dia diam di dalam laci hati ku dan memendam sedalam mungkin rindu yang aku sendiri belum ingin dia mengetahuinya. Aku tidak sebaik mereka yang pandai memendam dan menyimpan rindu. Beberapa kali setiap sedih dan hujan datang aku mengingatnya kemudian hanya bisa bicara dengan hati ku semoga dia dalam keadaan baik dan kadang sedikit berharap akan ada waktu untuk dia bisa menemani ku ketika sedih dan turun hujan. Sepanjang perjalanan di dalam pikiran ku, aku coba menunjukkan kepada dia setiap bagian cerita sehari-hari ku yang ku tinggalkan di sisi-sisi jalan waktu. Hal itu ku lakukan seakan-akan dia yang ku simpan dalam laci dapat mendengar setiap cerita ku. Aku berjalan tepat di belakang dia dan coba menjelaskan seperti pemandu wisata tanpa bicara sepanjang perjalanan kami. Aku berjalan dengannya sampai pada penghujung jalan yang berkabut dan tidak terlihat apa pun di dalamnya.
            Aku sudah berada di depan pintu keluar dari pikiran ku dan harus membiarkan dia kembali ke dalam laci hati ku. Pertemuan sebentar aku dengan dia berkahir di penghujung jalan berkabut yang entah akan berhenti sampai situ atau akan berlanjut sampai dia benar-benar pergi dari atau menetap di hati ku untuk menempati hati yang dia pilih. Aku hanya akan tetap seperti ini untuk waktu yang aku sendiri  tidak benar-benar mengetahui kapan bisa ku akhiri. Aku kembali membuka mata dan membiarkan sunyi perlahan berubah menjadi alunan suara musik klasik dan kicauan burung yang hinggap di dekat jendela kamar ku. Aku temukan setitik air mata di pelipis mata ku tanda aku benar merindukan dia dan diam menjadi cara terbaik ku untuk menyimpannya sendiri.

Kamis, 07 Juli 2016

Cinta Untuk Bahagia

Assalamu'alaykum Warrohmatullahi wabaroatuh..
Hola sahabat, long time no see. ^_^
Aku merindukan berbagi kisah dengan kalian, buku diariku terlalu penuh dengan kisah si hati yang belum juga lmau usai. ^_^ Semoga kali ini kisahku bisa bermanfaat untuk aku dan kalian yang diijinkan untuk membacanya. Aamiin.
• • •
Tahun ini InSyaa Allah aku disampaikan pada perhitungan usia dunia ke-21. Aamiin
Sebelum hal tersebut terjadi, aku ingin berbagi sedikit kebahagiaanku. Mungkin sebelumnya aku pernah mengisahkan tentang sahabat-sahabat jannahku. Kali ini aku kembali ingin berkisah tentang "cinta untuk bahagia".
• • •
Perjalananku mencari "bahagia" ternyata kurang sebaik rencanaku, tetapi sangat baik untukku. Aamiin. Sebelumnya aku pernah bercerita tentang aku dan pulau dewata setahun lalu. Hari ini tepat setahun aku belum mengunjunginya lagi. Aku belum cukup siap untuk berada jauh dari orangtua dan keluargaku, khususnya Ibuku. Kalian cukup tahu itu alasan utamaku untuk mengambil sebuah keputusan yang kebanyakan kawanku bilang "buang-buang waktu aja".  Sudah ada disini dan alhamdulillah hadiah terindah di usia ke-20 ku adalah inSyaa Allah dapat berkumpul lengkap dengan Ibu dan Adikku.  Mereka adalah satu-satunya tempat pulang yang paling bisa memahami dan menerimaku, ketika yang lain hanya menilai, mencibir, dan melihatku aneh tapi mereka selalu ada untuk mendukung dan mendoakan segala hal baik yang sampai hari ini selalu bisa kuterima serta kunikmati. Sedikit intermezo tentang aku hari ini.
• • •
Foto terlampir adalah anugerah terindah yang pasti adalah bagian dari sejuta doa untukku dari keluargaku. Mereka tidak kuminta untuk ada dan menetap di sisiku tapi Tuhan dengan kasihNYA mengantarkan mereka untuk menjadi bagian dari kisah baruku. Mereka memang belum pernah muncul barang sedetik dalam mimpi-mimpi di tidur malamku, mungkin karena aku memang jarang mendapatkan bunga tidur. Aku hanya bisa bersyukur pada Tuhan Yang Maha Pengasih karena DIA selalu memberi yang kubutuhkan. Aku mungkin belum baik untuk jadi teman bahkan sahabat dan atau kakak untuk mereka, tapi aku hanya sedang terus belajar untuk mencintai dan dicintai secara bersamaan. Aku terlalu sering mencintai dan diabaikan, bukan karena mereka tidak memahamiku tapi aku belum bisa menerima cinta dalam banyak bentuk. Dulu, aku punya bayangan tersendiri tentang cinta dalam sebuah persahabatan karena hal itu aku gagal mengartikan dan memahami cinta dalam wujud nyata yang berbeda. Sesuatu yang sempurna dan selalu ingin berbalas, itu "cinta" dalam bayanganku dulu. Hari ini aku belajar dari mereka, bahwa butuh bicara, keterbukaan, kejujuran, kebijaksanaan, ketulusan, dan keikhlasan dalam menjalin "cinta untuk bahagia". Salah satu dan atau sebagian besar dari kami adalah pribadi dengan watak keras kepala, kemudian sebagian lagi begitu lembut dan sensitif, sehingga ketika dihadapkan pada satu kejadian kami dengan masing-masing watak akan menjadi diri kami sebenarnya. Aku menemukannya, "cinta untuk bahagia" yang mereka yakini dapat menyatukan semua perbedaan yang ada. Kami akan menghadapinya dengan sedikit selisih pendapat, rasa kesal, mengalah, menerima, dan tertawa bersama lagi. Selalu jadi hal yang kurindukan karena Tuhan selalu ada di antara kami, saling mengingatkan dan memotivasi satu sama lain, dan Tuhan selalu jadi alasan kami dalam memutuskan segala sesuatu. Semoga Tuhan selalu melimpahkan kasihnya untuk kita. Aamiin
Aku titipkan cinta dan rinduku padaNYA untuk keluargaku, kalian, dan kamu.
07 Juli 2016, di bawah lampu belajat dibuka dengan tilawatil Qur'an Mama dan ditemani lagu 7 years.

Minggu, 15 Mei 2016

Doa dan Jalan Terbaik



Assalamu’alaykum wr wb
Selamat malam sahabat, sudah cukup lama kita tak bersua.
Tiba-tiba aku mau menuliskan tentang “doa dan jalan terbaik”. Aku hanya berjalan sesuai dengan langkah yang ku pilih, inSyaa Allah selalu diiringi ridho dan diniatkan hanya untuk-Nya. Perjalanan singkatku memang tidak semulus jalan tol yang pada kenyataannya pun selalu dihiasi dengan kemacetan, selalu dihadapkan dengan belokan dalam gelap, pemandangan indah dengan hamparan sawah yang mulai menguning karena terendam air hujan, atau bahkan darah yang berceceran di sepanjang jalan karena terlalu banyak jiwa yang belum siap dilepas berjalan sendirian, dan masih banyak lagi. Aku hanya merasa sedikit takut, terkejut, dan kadang sulit melupakan karena terlalu berkesan meski pada akhirnya akan jadi catatan yang kapan pun dapat muncul kepermukaan dan menghiasi alam pikiranku. Beberapa waktu lalu yang tidak ada sepersekian detiknya jika aku sudah memulai hidup abadi ku di akhirat, aku kehilangan beberapa sosok yang cukup bersejarah dalam hidup singkatku. Mereka hilang bukan tanpa alasan karena aku selalu percaya bahwa semua yang terjadi padaku dan di hadapanku adalah kententuan-Nya dan aku hanya perlu mengelola hatiku untuk menerimanya. Meskipun sampai hari ini aku belum mendengar penjelasan dan mengetahui alasan mereka yang memutuskan untuk menghilang dari sisiku, entah untuk waktu yang lama atau sebentar. Aku teringat pada teori kehilangan yang menyatakan bahwa rasa kehilangan akan menunjukkan banyak sisi yang terabaikan bahkan terlupakan. Aku rasa itu benar, mereka seringkali mengatakan hal baik saat berada di sisiku tapi aku terlanjur menjadi tuli dan buta sampai tidak memahami kebaikan serta peringatan yang mereka tujukan untukku. Meski begitu aku tidak menyesal terlalu lama, aku hanya berusaha memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan pada mereka walau tidak ada mereka di sisiku lagi dan mungkin saja mereka tidak akan pernah mengetahui usaha kecilku ini dan bisa jadi mereka tidak sempat memaafkanku ketika aku harus kembali ke tempatku berasal. Hal pertama yang baru aku ingat adalah ketidak pekaanku, aku ini tidak pandai untuk menjadi peka pada orang-orang terdekatku, aku lebih asik peka untuk jangkauan yang jauh dan bahkan belum tentu akan ku jangkau. Akibatnya adalah kehabisan akal terjadi pada mereka yang berusaha membuatku peka akan mereka sampai akhirnya memutuskan untuk hilang. Aku harus menerima dan menanggungnya karena aku sendiri yang memilih untuk tidak peka pada mereka. Hal kedua adalah rasa sabarku yang terlalu minim, aku ini seringkali mengalami kegagalan untuk menjadi lebih sabar dalam menghadapi banyak hal, aku lebih asik berlari untuk menghindari ketidaksabaranku. Akibatnya adalah kelelahan mengejarku terjadi pada mereka yang peduli, mereka berusaha mengejarku berharap aku akan berhenti dan berani menghadapinya, tapi yang terjadi tidak sesuai dengan harapan dan mereka memutuskan untuk beristirahat sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Aku harus kembali menerima dan menanggungnya karena ini adalah pilihanku, berlari tanpa kaca spion sampai kehilangan teman yang mengajakku berjalan bersama. Hal terakhir yang aku ingat adalah kepercayaan pada diri yang berlebih, aku ini hampir kehilangan suara hati nuraniku karena jarang sekali membiarkan hatiku bertindak atau memutuskan sesuatu, aku lebih sering mengurungnya sampai ia tidak bisa menghirup udara segar karena tidak ingin terlihat lemah dan menangisi kegagalan untuk bahagia. Akibatnya adalah terlalu banyak memendam terjadi pada mereka yang masih berada di sisiku, aku tidak pernah tahu seberapa banyak hal yang mereka kunci rapat agar tidak diketahui olehku. Aku hanya harus menerima dan menanggungnya karena aku memilih untuk menjadi pembohong kelas kakap di hadapan mereka dan menjadi tisu basah yang pada akhirnya akan merasa kering di belakang mereka. Aku terlalu yakin bahwa aku hebat dalam memainkan hatiku, tapi ternyata aku salah besar. Mereka yang berada di sisiku terlalu kuat untuk membuatku tetap menjadi bodoh di hadapan diriku sendiri, kekuatan mereka adalah doa. Sampai hari ini aku tidak pernah mengetahui apa yang mereka panjatkan dalam doa tentang aku atau adakah aku di dalamnya, aku tidak pernah benar-benar mengetahuinya. Namun semua yang terjadi padaku hari ini adalah bentuk kekuatan yang tidak dapat didefinisikan oleh sembarang tafsir dan perspektif. Semua ucapan baik adalah doa, mereka terlalu sering mengucapkan hal baik dan itu adalah doa. Jalan terbaik yang ku temukan adalah wujud nyata dari apa yang mereka ucapkan, aku harus berhenti sebentar dan memperbaiki langkahku agar tetap berada di jalan yang sama dengan mereka meski berjauhan. Mereka yang hilang dari sisiku adalah mereka yang selalu berada di sisiku dan aku hanya akan terus menerima doa mereka serta mencoba memilih jalan terbaik.
Bekasi, 15 Mei 2016 23:05 WIB

Sabtu, 16 Januari 2016

Look Around You

Jakarta, 2016 January 16th
Assalamu'alaykum sahabat..
What do you think about her?
Seorang wanita yang merasakan panasnya ibukota?
Seorang wanita yang tengah memikirkan banyak hal?
Seorang wanita kurang normal?
Seorang wanita gelandangan ibukota?
Aku coba paparkan kenyataan yang nampak saat gambar ini aku ambil. Beliau adalah seorang wanita "tidak biasa" yang jadi fokus tatapan aneh orang-orang di sekitarnya. Beginilah negeriku kurang lebihnya senang menilai, sukar bertindak, tapi tetap patut untuk dicintai, dihargai, dan bela. Kembali kepada sosok wanita ini, menurutku beliau masih berada dalam lingkaran usia produktif, hanya sedikit nampak lusuh karena memang beliau "tidak biasa". Aku coba mainkan opiniku dengan niat agar aku lebih pandai dalam kelola diri dan pastinya bersyukur atas nikmat hidup. Aku pernah berbagi curahan hati dengan salah satu kawan terpercaya yang inSyaa Allah sahabat terbaikku dunia hingga akhirah *aamiin*, begini singkatnya aku sempat merasa hidupku benar-benar diujung tanduk seperti hampir mencapai titik nadir mendekati putus asa. Kemudian kawanku memberiku pertanyaan seperti ini, "Udah nyerah sama hidup? Ngerasa mati jalan terbaik? Berani minta mati udah yakin selamat masuk syurga? Udah banyak amal baiknya?". Seperti disambar petir dan melihat Allah ta'ala menangis atas kelemahan umatNYA satu ini. Aku memilih perbanyak istighfar dan mengingat dosa sambil menangis saat itu. Kawanku tiba-tiba diam dan membuat suasana jadi hening, aku semakin leluasa menangis. Sedikit ceritanya sih seperti itu. Wawllahu'alam kurang lebihnya semoga Allah baikkan. Aamiin.
Jadi sahabat, kesimpulannya dari bahas hasil jepretan amatir dan cerita singkatku adalah "Hidup cuma sekali, lakukan yang terbaik untuk akhir yang baik.". Kalau kita rasa dunia mulai menekan dan berlawanan dengan kita dari segala sisi, sebaiknya kita berdiam diri sejenak sembari diskusi dengan Yang Maha Memiliki kehidupan, berbicara dengan oranglain yang kita kenal baik dan dekat dengan Allah ~jika diperlukan~, banyak-banyak beristighfar dan intropeksi diri. Coba deh, ada yang beda deh inSya Allah sahabat rasanya. ^^ Setelah dampak baik dari cara minimalis tadi, buru-buru maafkan diri, lihat keluar diri, tebar senyum semangat, sering-sering memandang jauh kedepan tanpa mengabaikan yang ada di belakang, perlahan tapi pasti mulai susun dan perbaiki mimpi, dan sugestikan pada diri kalau hidup sekali harus penuh manfaat untuk diri kita dan oranglain. Bismillah, kita pasti bisa sahabat!!! Aku selalu berdoa agar Allah lindungi kita agar terhindar dari rasa kecewa berlebih, amarah, berharap tak realistis, keyakinan yang salah, rasa putus asa, dan segala sifat yang Allah murkai. ^^ Aamiin Allahumma Aamiin

Feel Free

Kalau kamu memutuskan untuk membenciku, aku bisa apa?
Kalau kamu memilih untuk menjauh dariku, aku bisa apa?
Kalau kamu telah yakin untuk berhenti mengenalku, aku bisa apa?
Kalau kamu pada akhirnya akan benar-benar memalingkan pandanganmu dariku, aku bisa apa?
Aku bisa apa, selain terus menyebut namamu disetiap doaku.
Aku bisa apa, selain mengikhlaskan keputusanmu tanpa pernah berniat melupakanmu.
Aku bisa apa, selain membiarkan Tuhan lewat waktuNYA untuk mengembalikanmu atau menggantikan aku dengan sosok yang kamu mau. ^^

The True Love

Cinta sebenarnya adalah ketika membiarkan yang dicinta mendekati yang dicintainya..
Cinta bukan hanya tentang kamu dan aku, namun ini lebih dari bagaimana kamu dengan sekitarmu serta aku dengan sekitarku..
Cinta tak melulu tentang bagaimana nanti kita akan bersatu, namun ini bagaimana Tuhan mengijinkan kita bersatu dalam kebaikan, untuk membaikan, dan terus baik hingga tiba di akhiratNYA kelak..
"Sayangnya aku tidak sebaik tentang cinta yang ku tulis. Aku mungkin jauh lebih baik dibilang -buruk-. Hanya saja cinta yang ku tulis mengajarkanku, bahwa kalau masih diberi nafas untuk hidup hari ini berarti itu kesempatan terakhir mengubah -buruk- menjadi lebih baik. Tuhan selalu terima tangis dan permohonan maafku, maka dari itu hari ini harus jadi hari terakhir aku mengulangi semua kesalahanku."
Karena cinta mengajarkanku, terimakasih Allah, Mama&Papa, Adik, Nenek&Kakek, Saudara/i, Sahabat-sahabat, Guru-guru, dan kamu.