Minggu, 15 Mei 2016

Doa dan Jalan Terbaik



Assalamu’alaykum wr wb
Selamat malam sahabat, sudah cukup lama kita tak bersua.
Tiba-tiba aku mau menuliskan tentang “doa dan jalan terbaik”. Aku hanya berjalan sesuai dengan langkah yang ku pilih, inSyaa Allah selalu diiringi ridho dan diniatkan hanya untuk-Nya. Perjalanan singkatku memang tidak semulus jalan tol yang pada kenyataannya pun selalu dihiasi dengan kemacetan, selalu dihadapkan dengan belokan dalam gelap, pemandangan indah dengan hamparan sawah yang mulai menguning karena terendam air hujan, atau bahkan darah yang berceceran di sepanjang jalan karena terlalu banyak jiwa yang belum siap dilepas berjalan sendirian, dan masih banyak lagi. Aku hanya merasa sedikit takut, terkejut, dan kadang sulit melupakan karena terlalu berkesan meski pada akhirnya akan jadi catatan yang kapan pun dapat muncul kepermukaan dan menghiasi alam pikiranku. Beberapa waktu lalu yang tidak ada sepersekian detiknya jika aku sudah memulai hidup abadi ku di akhirat, aku kehilangan beberapa sosok yang cukup bersejarah dalam hidup singkatku. Mereka hilang bukan tanpa alasan karena aku selalu percaya bahwa semua yang terjadi padaku dan di hadapanku adalah kententuan-Nya dan aku hanya perlu mengelola hatiku untuk menerimanya. Meskipun sampai hari ini aku belum mendengar penjelasan dan mengetahui alasan mereka yang memutuskan untuk menghilang dari sisiku, entah untuk waktu yang lama atau sebentar. Aku teringat pada teori kehilangan yang menyatakan bahwa rasa kehilangan akan menunjukkan banyak sisi yang terabaikan bahkan terlupakan. Aku rasa itu benar, mereka seringkali mengatakan hal baik saat berada di sisiku tapi aku terlanjur menjadi tuli dan buta sampai tidak memahami kebaikan serta peringatan yang mereka tujukan untukku. Meski begitu aku tidak menyesal terlalu lama, aku hanya berusaha memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan pada mereka walau tidak ada mereka di sisiku lagi dan mungkin saja mereka tidak akan pernah mengetahui usaha kecilku ini dan bisa jadi mereka tidak sempat memaafkanku ketika aku harus kembali ke tempatku berasal. Hal pertama yang baru aku ingat adalah ketidak pekaanku, aku ini tidak pandai untuk menjadi peka pada orang-orang terdekatku, aku lebih asik peka untuk jangkauan yang jauh dan bahkan belum tentu akan ku jangkau. Akibatnya adalah kehabisan akal terjadi pada mereka yang berusaha membuatku peka akan mereka sampai akhirnya memutuskan untuk hilang. Aku harus menerima dan menanggungnya karena aku sendiri yang memilih untuk tidak peka pada mereka. Hal kedua adalah rasa sabarku yang terlalu minim, aku ini seringkali mengalami kegagalan untuk menjadi lebih sabar dalam menghadapi banyak hal, aku lebih asik berlari untuk menghindari ketidaksabaranku. Akibatnya adalah kelelahan mengejarku terjadi pada mereka yang peduli, mereka berusaha mengejarku berharap aku akan berhenti dan berani menghadapinya, tapi yang terjadi tidak sesuai dengan harapan dan mereka memutuskan untuk beristirahat sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Aku harus kembali menerima dan menanggungnya karena ini adalah pilihanku, berlari tanpa kaca spion sampai kehilangan teman yang mengajakku berjalan bersama. Hal terakhir yang aku ingat adalah kepercayaan pada diri yang berlebih, aku ini hampir kehilangan suara hati nuraniku karena jarang sekali membiarkan hatiku bertindak atau memutuskan sesuatu, aku lebih sering mengurungnya sampai ia tidak bisa menghirup udara segar karena tidak ingin terlihat lemah dan menangisi kegagalan untuk bahagia. Akibatnya adalah terlalu banyak memendam terjadi pada mereka yang masih berada di sisiku, aku tidak pernah tahu seberapa banyak hal yang mereka kunci rapat agar tidak diketahui olehku. Aku hanya harus menerima dan menanggungnya karena aku memilih untuk menjadi pembohong kelas kakap di hadapan mereka dan menjadi tisu basah yang pada akhirnya akan merasa kering di belakang mereka. Aku terlalu yakin bahwa aku hebat dalam memainkan hatiku, tapi ternyata aku salah besar. Mereka yang berada di sisiku terlalu kuat untuk membuatku tetap menjadi bodoh di hadapan diriku sendiri, kekuatan mereka adalah doa. Sampai hari ini aku tidak pernah mengetahui apa yang mereka panjatkan dalam doa tentang aku atau adakah aku di dalamnya, aku tidak pernah benar-benar mengetahuinya. Namun semua yang terjadi padaku hari ini adalah bentuk kekuatan yang tidak dapat didefinisikan oleh sembarang tafsir dan perspektif. Semua ucapan baik adalah doa, mereka terlalu sering mengucapkan hal baik dan itu adalah doa. Jalan terbaik yang ku temukan adalah wujud nyata dari apa yang mereka ucapkan, aku harus berhenti sebentar dan memperbaiki langkahku agar tetap berada di jalan yang sama dengan mereka meski berjauhan. Mereka yang hilang dari sisiku adalah mereka yang selalu berada di sisiku dan aku hanya akan terus menerima doa mereka serta mencoba memilih jalan terbaik.
Bekasi, 15 Mei 2016 23:05 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar