Jumat, 30 September 2016

Belajar Sebelum Diminta

Assalamu'alaykum sahabat fillah.
Dini hari jelang pergantian tahun hijriah aku ingin menuliskan sedikit kisah sedih dan menyenangkan di penghujung tahun ini.
Bermula dari masuknya tahun kedua ku di perguruan tinggi negeri yang sedang ku jalani sekarang ini. Aku kembali melakukan aktifitas ku seperti mahasiswa pada umumnya. Aku rasa memang sedang waktunya, satu bulan pertama kuliah ku kali ini dipenuhi dengan kebahagiaan yang belum pernah ku bayangkan sebelumnya. Rumah ku yang biasanya hanya ramai di malam hari, sekarang mulai ramai hampir setiap hari. Personil yang biasanya hanya ada dipertengahan tahun, belakangan sering hadir diantara aku, Mama, dan adik ku. Tapi tak berlangsung lama, cukup satu bulan kata Allah.
Kejadian kedua adalah tentang satu buku yang kugunakan satu setengah tahun lalu. Aku adalah pribadi yang terlalu perasa dan baik dalam mengingat hal kecil. Aku hanya mengatakan tentang aku yang sebenarnya, jika ada perbedaan dalam penilaian tentang aku mohon maaf. Sejarah di balik buku ini sangat berkesan untuk ku, meski mungkin tidak berlaku sama dengan sosok yang ada di dalam sejarah buku ini. Singkatnya aku cukup menghargai keberadaan buku ini, sampai akhirnya dosen mata kuliah ku saat ini melihatnya dan meminta untuk kepentingan mengajarnya. Dengan sedikit berat hati aku memberikan buku ini dan berharap amal baiknya bisa berguna bagiku, sosok di dalamnya, dan tentunya Dosen ku. Aamiin
Kalian bisa menangkap alur atau arah curhatan singkat ku kah? Pada intinya aku sedang diajarkan oleh Allah ta'ala makna sebenarnya dari "belajar memberi tanpa diminta". Kalian tahu sahabat, beratnya melepaskan sesuatu yang berarti dan sangat kita sayangi? Pasti masing-masing dari kit pernah ada di posisi ini. Sakit, nangis, galau, dan lain-lain respon manusiawi yang muncul karena sebuah kejadian yang belum sempat dipersiapkan kedatangannya. Alhamdulillah, dua kejadian yang ku alami mengijinkan aku untuk belajar mempersilahkan sebelum diminta. Siapa yang bisa prediksi bahwa ramai rumah ku hanya berlaku sebulan kemudian berubah jadi sepi bahkan seperti penuh duka setelahnya? Siapa juga yang mau peduli kalau ada sejarah yang berkesam di dalam sebuah buku? Sebelum semuanya terjadi aku lebih dulu belajar bahwa di dunia ini memang tidak ada yang abadi dan menyerahkan yang akan terjadi pada Yang Maha Memiliki Kehidupan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. Aku hanya mengajarkan pikiranku untuk menerima apa pun bentuk keputusanNYA atas kehidupan ku dengan begitu respon manusiawi ku akan terjaga dan berwujud dalam bentuk yang tidak sama. Alhamdulillah, sampai hari ini kalau teringat dan harus menghadapi personil yang belum beralih dari respon manusiawinya aku hanya perlu melebarkan telinga dan bahu ku, mengucapkan hal baik dan menenangkan, dan mendoakan agar segera membaik semuanya. Perihal buku bersejarah sebelumnya sudah kusampaikan, aku hanya akan senyum-senyum sendiri dan mendoakannya.
Kali ini rinduku memang harus tertanam dengan baik di dalam hati dan membiarkan waktu menimbunnya dengan bahagia atau menguapkannya dengan airmata. ^^

Rabu, 28 September 2016

Digigit Semut

Digigit Semut

Aku duduk di atas rumput tepat di bibir danau ketika petang baru sebagian datang menyapa

Tanganku mulai menyapa rumput dan beberapa kali memetik mereka tanda aku telah mengakhiri masa hidup mereka

Kali ini aku biarkan angin yang bertiup cukup kencang menggerakan penutup kepalaku dan rasanya menjadi lebih damai

Aku hanya ingin membiarkan angin membawa pergi kata dan kejadian yang ku benci dari dalam pikiran serta hatiku

Aku terlalu bosan mendengar umpatan yang terucap bukan dari hati dan mengatas namakan hati, terlalu munafik

Aku juga terlalu benci mendengar pujian dan rayuan tapi hanya dari rongga mulut yang berisikan lidah tak bertulang, terlalu pandai berdusta

Berkali-kali aku katakan tanpa suara pada mereka untuk diam dan berhenti mengucapkan hal-hal yang hanya membuat hati ku berantakan

Kalau saja berteriak di hadapan danau bisa buat mereka mendengar ingin ku pasti sudah ku lakukan sejak dulu

Sayang, danau tak bertelinga, angin hanya bersuara, dan rumput sesekali bergoyang kemudian pasrah dipetik atau terinjak

Aku sudah tak peduli lagi siapa yang benar dan salah, bahkan aku tak lagi mau peduli dengan keadaan hati ku saat ini

Ahh angin, kata mu Tuhan Maha Baik dan Maha Pengasih?

Tapi kenapa DIA biarkan semut di balik rumput-rumput ini menggigit tanganku yang sedang menyapa mereka?

Kamu tahu angin, sakitnya gigitan mereka buatku tak bisa berteriak, air mata ku mengalir dengan deras, dan meninggalkan bekas yang perlahan memerah di tanganku

Angin, sampaikan pada Tuhan untuk keringkan air mata ku petang ini dan biarkan aku untuk selalu membagikan senyum sederhana ku sampai habis waktu ku di dunia

Aku hanya perlu pertolonganNYA untuk selalu membahagiakan dan membaikan hati mereka yang memilih dan dipilih untuk ada di sisi ku

Karena digigit semut itu sakit dan hidup terlalu baik untuk ditangisi

Senin, 26 September 2016

Bawa Aku Pulang

Semburat jingga petang ini tidak sendiri, dia ditemani angin yang bertiup cukup ramah kemudian menyapa ku yang sedak duduk di salah satu bangku taman pinggir danau.

Aku tidak meminta untuk dibiarkan sendirian tapi manusia lain memang sedang asik dengan urusan dan seakan mengabaikan hal kecil yang menyapa mereka.

Perlahan aku tak lagi mendengar tawa canda mereka, hanya suara angin yang bermain dengan air danau di hadapan ku kali ini yang kudengar seperti suara anak-anak ramai di taman bermain.

Aku tersenyum agar tak ada satu pun yang curiga, bahkan angin dan langit petang itu tak ku ijinkan untuk tahu tentang hal yang selalu ku sembunyikan.

Aku kembali mengingat suara berat dan khas itu yang berbisik "kamu pasti kuat, kamu harus kuat karena peranmu".

Ah, rasanya aku ingin melemparkan diri ku ke dalam danau yang aku tak pernah mau tahu di mana dasarnya dan berharap akan bersama dengan ikan kecil serta lumut yang menetap di dalamnya.

Aku ingin mengakhiri setiap kebahagian yang kudengar, kutemui, dan bahkan yang sekedar menyapaku karena terlalu menyakitkan untuk bisa menikmatinya.

Tuhan, kalau membenci adala hal yang Engkau halalkan. Aku pasti memilih untuk membenci sejak hari itu, sejak langit biru menjadi hitam, matahari bersinar ramah menjadi terlalu panas seperti ingin membakar, bulan dan bintang menganggu indahnya gelap bagi ku.

Tapi Engkau selalu saja menuntun hati ku untuk mengalahkan inginku kemudian aku hanya akan bersikap seperti menerima, tersenyum seakan semua baik-baik saja, dan riang seakan tak pernah ada yang terjadi di baliknya.

Petang kini berganti malam, tak ada lagi angin, jingga, dan permukaan danau yang ramah. Semua selesai ketika aku beranjak dari bangku taman, kemudian gelap, malam, dan bantal di kamar ku akan meminjam sebentar semua yang ku simpan atas tuntunanMU.

Aku hanya perlu melakukannya selama waktu yang tak pernah ku pertanyakan padaMU kapan berakhirnya. Aku hanya akan terus percaya dan menyerahkan langkah ku dalam ketetapan dan kasih MU. Aku yang ingin membenci dan berakhir tetap mencintai karena dan hanya untuk MU.

Minggu, 25 September 2016

Rindu Tak Berujung



 Sabtu pagi ini, sisa hujan masih nyata dalam pandangan, kutemukan daun yang basah, bau khas habis turun hujan masuk bersama dengan udara yang ku hirup, keduanya begitu menenangkan dan kuharap bisa menemukan mereka di setiap pagi. Aku tidak cukup banyak memiliki agenda untuk dilakukan karena sebagian besar agenda ku hari ini untuk memanjakan diri dan mngistirahatkan pikiran ku dari rutinitas hari-hari biasanya. Kemudian suasana pagi ini mengantarkan ku untuk tenggelam sebentar dalam gelap dan sunyi di kamar dengan sisa hujan yang kutemui.
            Aku berjalan perlahan di dalam pikiran ku, berharap bisa menemukan sesuatu yang cukup lama kusimpan rapi dalam laci hati ku. Aku ingin menyapa sebentar rindu ku untuk dia yang kubiarkan berdebu dalam laci yang ku kunci rapat untuk waktu yang cukup lama. Laci itu berisikan dia yang selama ini kubiarkan menetap dan tidak tergantikan meski hanya untuk hitungan persekian detik dengan sosok lain. Entah dia akan berbahagia atau menghilang seperti debu kah ketika dia mengetahui apa yang ku lakukan untuknya. Aku memutuskan untuk menyimpannya bukan tanpa alasan dan usaha ku menemukan alasan terbaik melakukan hal ini masih belum sempurna.
            Aku berhasil menemukan dia tepat di laci ketujuh yang ku miliki di dalam hati ku. Aku mengajaknya keluar dan duduk berhadapan agar aku bisa mengingat wajahnya dengan baik dan coba menemukan rindu yang sudah kusimpan cukup lama.  Aku di dalam pikiran ku tetap tidak pandai untuk bersikap ramah padanya, aku hanya bisa terdiam dan sesekali tersenyum seakan aku tahu bahwa dia dalam keadaan baik dan sedang berbahagia. Aku di dalam pikiran ku coba berimajinasi kalau hal ini benar menjadi sebuah kenyataaan akan seperti apa jantung ku bekerja dan berusaha untuk berdetak normal agar aku bisa bernafas dan tetap hidup ketika berhadapan dengannya. Aku masih asik memandanginya di dalam pikiran terbaik ku pagi ini.
            Aku mengajak dia berjalan sebentar menyusuri jalan panjang yang pernah kami lalui bersama, itu adalah jalan waktu. Aku mengenal dia sejak enam tahun lalu dan keadaannya masih sama aku hanya membiarkan dia diam di dalam laci hati ku dan memendam sedalam mungkin rindu yang aku sendiri belum ingin dia mengetahuinya. Aku tidak sebaik mereka yang pandai memendam dan menyimpan rindu. Beberapa kali setiap sedih dan hujan datang aku mengingatnya kemudian hanya bisa bicara dengan hati ku semoga dia dalam keadaan baik dan kadang sedikit berharap akan ada waktu untuk dia bisa menemani ku ketika sedih dan turun hujan. Sepanjang perjalanan di dalam pikiran ku, aku coba menunjukkan kepada dia setiap bagian cerita sehari-hari ku yang ku tinggalkan di sisi-sisi jalan waktu. Hal itu ku lakukan seakan-akan dia yang ku simpan dalam laci dapat mendengar setiap cerita ku. Aku berjalan tepat di belakang dia dan coba menjelaskan seperti pemandu wisata tanpa bicara sepanjang perjalanan kami. Aku berjalan dengannya sampai pada penghujung jalan yang berkabut dan tidak terlihat apa pun di dalamnya.
            Aku sudah berada di depan pintu keluar dari pikiran ku dan harus membiarkan dia kembali ke dalam laci hati ku. Pertemuan sebentar aku dengan dia berkahir di penghujung jalan berkabut yang entah akan berhenti sampai situ atau akan berlanjut sampai dia benar-benar pergi dari atau menetap di hati ku untuk menempati hati yang dia pilih. Aku hanya akan tetap seperti ini untuk waktu yang aku sendiri  tidak benar-benar mengetahui kapan bisa ku akhiri. Aku kembali membuka mata dan membiarkan sunyi perlahan berubah menjadi alunan suara musik klasik dan kicauan burung yang hinggap di dekat jendela kamar ku. Aku temukan setitik air mata di pelipis mata ku tanda aku benar merindukan dia dan diam menjadi cara terbaik ku untuk menyimpannya sendiri.