Assalamu'alaykum sahabat fillah.
Dini hari jelang pergantian tahun hijriah aku ingin menuliskan sedikit kisah sedih dan menyenangkan di penghujung tahun ini.
Bermula dari masuknya tahun kedua ku di perguruan tinggi negeri yang sedang ku jalani sekarang ini. Aku kembali melakukan aktifitas ku seperti mahasiswa pada umumnya. Aku rasa memang sedang waktunya, satu bulan pertama kuliah ku kali ini dipenuhi dengan kebahagiaan yang belum pernah ku bayangkan sebelumnya. Rumah ku yang biasanya hanya ramai di malam hari, sekarang mulai ramai hampir setiap hari. Personil yang biasanya hanya ada dipertengahan tahun, belakangan sering hadir diantara aku, Mama, dan adik ku. Tapi tak berlangsung lama, cukup satu bulan kata Allah.
Kejadian kedua adalah tentang satu buku yang kugunakan satu setengah tahun lalu. Aku adalah pribadi yang terlalu perasa dan baik dalam mengingat hal kecil. Aku hanya mengatakan tentang aku yang sebenarnya, jika ada perbedaan dalam penilaian tentang aku mohon maaf. Sejarah di balik buku ini sangat berkesan untuk ku, meski mungkin tidak berlaku sama dengan sosok yang ada di dalam sejarah buku ini. Singkatnya aku cukup menghargai keberadaan buku ini, sampai akhirnya dosen mata kuliah ku saat ini melihatnya dan meminta untuk kepentingan mengajarnya. Dengan sedikit berat hati aku memberikan buku ini dan berharap amal baiknya bisa berguna bagiku, sosok di dalamnya, dan tentunya Dosen ku. Aamiin
Kalian bisa menangkap alur atau arah curhatan singkat ku kah? Pada intinya aku sedang diajarkan oleh Allah ta'ala makna sebenarnya dari "belajar memberi tanpa diminta". Kalian tahu sahabat, beratnya melepaskan sesuatu yang berarti dan sangat kita sayangi? Pasti masing-masing dari kit pernah ada di posisi ini. Sakit, nangis, galau, dan lain-lain respon manusiawi yang muncul karena sebuah kejadian yang belum sempat dipersiapkan kedatangannya. Alhamdulillah, dua kejadian yang ku alami mengijinkan aku untuk belajar mempersilahkan sebelum diminta. Siapa yang bisa prediksi bahwa ramai rumah ku hanya berlaku sebulan kemudian berubah jadi sepi bahkan seperti penuh duka setelahnya? Siapa juga yang mau peduli kalau ada sejarah yang berkesam di dalam sebuah buku? Sebelum semuanya terjadi aku lebih dulu belajar bahwa di dunia ini memang tidak ada yang abadi dan menyerahkan yang akan terjadi pada Yang Maha Memiliki Kehidupan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. Aku hanya mengajarkan pikiranku untuk menerima apa pun bentuk keputusanNYA atas kehidupan ku dengan begitu respon manusiawi ku akan terjaga dan berwujud dalam bentuk yang tidak sama. Alhamdulillah, sampai hari ini kalau teringat dan harus menghadapi personil yang belum beralih dari respon manusiawinya aku hanya perlu melebarkan telinga dan bahu ku, mengucapkan hal baik dan menenangkan, dan mendoakan agar segera membaik semuanya. Perihal buku bersejarah sebelumnya sudah kusampaikan, aku hanya akan senyum-senyum sendiri dan mendoakannya.
Kali ini rinduku memang harus tertanam dengan baik di dalam hati dan membiarkan waktu menimbunnya dengan bahagia atau menguapkannya dengan airmata. ^^
In Syaa Allah Mahasiswi yang sedang belajar dan berusaha menjadi umat-Nya yang semakin baik setiap harinya.
Jumat, 30 September 2016
Belajar Sebelum Diminta
Rabu, 28 September 2016
Digigit Semut
Digigit Semut
Aku duduk di atas rumput tepat di bibir danau ketika petang baru sebagian datang menyapa
Tanganku mulai menyapa rumput dan beberapa kali memetik mereka tanda aku telah mengakhiri masa hidup mereka
Kali ini aku biarkan angin yang bertiup cukup kencang menggerakan penutup kepalaku dan rasanya menjadi lebih damai
Aku hanya ingin membiarkan angin membawa pergi kata dan kejadian yang ku benci dari dalam pikiran serta hatiku
Aku terlalu bosan mendengar umpatan yang terucap bukan dari hati dan mengatas namakan hati, terlalu munafik
Aku juga terlalu benci mendengar pujian dan rayuan tapi hanya dari rongga mulut yang berisikan lidah tak bertulang, terlalu pandai berdusta
Berkali-kali aku katakan tanpa suara pada mereka untuk diam dan berhenti mengucapkan hal-hal yang hanya membuat hati ku berantakan
Kalau saja berteriak di hadapan danau bisa buat mereka mendengar ingin ku pasti sudah ku lakukan sejak dulu
Sayang, danau tak bertelinga, angin hanya bersuara, dan rumput sesekali bergoyang kemudian pasrah dipetik atau terinjak
Aku sudah tak peduli lagi siapa yang benar dan salah, bahkan aku tak lagi mau peduli dengan keadaan hati ku saat ini
Ahh angin, kata mu Tuhan Maha Baik dan Maha Pengasih?
Tapi kenapa DIA biarkan semut di balik rumput-rumput ini menggigit tanganku yang sedang menyapa mereka?
Kamu tahu angin, sakitnya gigitan mereka buatku tak bisa berteriak, air mata ku mengalir dengan deras, dan meninggalkan bekas yang perlahan memerah di tanganku
Angin, sampaikan pada Tuhan untuk keringkan air mata ku petang ini dan biarkan aku untuk selalu membagikan senyum sederhana ku sampai habis waktu ku di dunia
Aku hanya perlu pertolonganNYA untuk selalu membahagiakan dan membaikan hati mereka yang memilih dan dipilih untuk ada di sisi ku
Karena digigit semut itu sakit dan hidup terlalu baik untuk ditangisi
Senin, 26 September 2016
Bawa Aku Pulang
Semburat jingga petang ini tidak sendiri, dia ditemani angin yang bertiup cukup ramah kemudian menyapa ku yang sedak duduk di salah satu bangku taman pinggir danau.
Aku tidak meminta untuk dibiarkan sendirian tapi manusia lain memang sedang asik dengan urusan dan seakan mengabaikan hal kecil yang menyapa mereka.
Perlahan aku tak lagi mendengar tawa canda mereka, hanya suara angin yang bermain dengan air danau di hadapan ku kali ini yang kudengar seperti suara anak-anak ramai di taman bermain.
Aku tersenyum agar tak ada satu pun yang curiga, bahkan angin dan langit petang itu tak ku ijinkan untuk tahu tentang hal yang selalu ku sembunyikan.
Aku kembali mengingat suara berat dan khas itu yang berbisik "kamu pasti kuat, kamu harus kuat karena peranmu".
Ah, rasanya aku ingin melemparkan diri ku ke dalam danau yang aku tak pernah mau tahu di mana dasarnya dan berharap akan bersama dengan ikan kecil serta lumut yang menetap di dalamnya.
Aku ingin mengakhiri setiap kebahagian yang kudengar, kutemui, dan bahkan yang sekedar menyapaku karena terlalu menyakitkan untuk bisa menikmatinya.
Tuhan, kalau membenci adala hal yang Engkau halalkan. Aku pasti memilih untuk membenci sejak hari itu, sejak langit biru menjadi hitam, matahari bersinar ramah menjadi terlalu panas seperti ingin membakar, bulan dan bintang menganggu indahnya gelap bagi ku.
Tapi Engkau selalu saja menuntun hati ku untuk mengalahkan inginku kemudian aku hanya akan bersikap seperti menerima, tersenyum seakan semua baik-baik saja, dan riang seakan tak pernah ada yang terjadi di baliknya.
Petang kini berganti malam, tak ada lagi angin, jingga, dan permukaan danau yang ramah. Semua selesai ketika aku beranjak dari bangku taman, kemudian gelap, malam, dan bantal di kamar ku akan meminjam sebentar semua yang ku simpan atas tuntunanMU.
Aku hanya perlu melakukannya selama waktu yang tak pernah ku pertanyakan padaMU kapan berakhirnya. Aku hanya akan terus percaya dan menyerahkan langkah ku dalam ketetapan dan kasih MU. Aku yang ingin membenci dan berakhir tetap mencintai karena dan hanya untuk MU.