Jumat, 03 Februari 2017

Coretan Hati Calon Mama

Assalamu'alaykum.
03 Februari 2017, biar ingat. Hehe.
Kali ini ingin bercerita tentang panggilan teman-teman untuk ku. Kalau membosankan mohon maaf ya kawan. Aku baru sadar bahwa ternyata waktu berlalu begitu cepat, mari sebentar bermain di dalam lorong waktu ku ya.

Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, entah dapat dari mana sifat dan sikap ku sebagian seperti Mamak-mamak. Aku memberi perhatian pada hal-hal kecil, menjaga orang-orang di dekat ku, dan mencereweti banyak hal yang kurang sesusai. Berawal disini aku mendengar sebutan "Ummi" sebelum nama ku. Mungkin karena usia masih belasan tahun awal, jadilah aku kurang pekak dan menganggapnya hanya sebatas sebutan.

Berlanjut ketiga tahun berikutnya di sekolah menengah atas, aku tidak memasukan bayangan tentang sebutan apa yang kuterima. Sifat dan sikap ke mamak-mamak-an ku sebelumnya tetap ada, hanya mungkin ada tambahan sedikit sebagai bumbu di usia remaja ke abege-abegean. Aku jadi lebih emosional dan lebih otoriter, kayak Mamak single parents. Dianugerahkanlah aku dengan sebutan "Mam or Mom" sebelum nama ku. Kali ini mulao terasa bapernya, mungkin karena pengaruh rasa tertarik dengan lawan jenis yang muncul dan bahasan dengan teman-teman mulai menjurus pada masa depan.

Sampai pada empat tahun masa kuliah yang luar biasa penuh cerita, aku mencoba untuk memperbaiki banyak hal hingga jadilah aku sekarang yang sedikit lebih kejam. Aku belajar banyak dari sisi ke Mamak-mamak-an yang ada, dan mengontrolnya bukan hal yang menyenangkan ternyata. Meski begitu belajar membatasi itu tidak selamanya buruk. Jadilah aku dengan sifat dan sikap yang sama namun sedikit dikontrol, dan tetap menerima sebutan "Bunda/Momi". Kali ini jelas berbeda rasanya karena memang sudah memasuki fase untuk mempersiapkan banyak hal yang berhubungan dengan sebutan tiga masa berturut-turut.

Terkesan hanya sepenggal kata sebutan "Ummi, Mom, Mam, Bunda, Mommi"? Tapi aku terlanjur jadi yang percaya bahwa ucapan yang dilafalkan berulang kali bisa jadi doa. Jadi, aku aamiin kan dalam hati setiap kali mendengar atau membaca sebutan itu untuk ku. Kalau diperhatikan mungkin benar kata sebagian orang aku terlihat seperti "kebelet" nikah. Mungkin, tapi yang aku tahu begini memang cara tersederhana ku bersahabat dan berteman, cara ku belajar menghargai yang orang lain beri, sekaligus belajar memahami makna dari sebutan yang mengarah kepada sosok seorang IBU. Aku tidak masalah dengan kesederhanaan ku dalam berpenampilan yang kemudian membuat ku terlihat seperti Mamak betulan, karena yang aku tahu ini yang terbaik dan ternyaman untuk ku kenakan. Jadi, kalau bukan hanya teman-teman yang menggunakan sebutan itu untuk ku melainkan beberapa orang seperti supir angkot, ojek, dll mereka semua adalah tambahan pemberi doa terbaik bagi ku. Sebelum jadi Mamak betulan, resmi dihalakan oleh suami, beranak sholeh dan sholehah, jadi mamak rumah tangga profesional, aku perlu belajar dalam masa kesendirian ku ditemani dengan sebutan yang kuterima sebagai alarm untuk lebih mempersiapkan dan mempelajari banyak hal.

InSyaa Allah kalau sampai jodoh usia ku untuk dinikahi dan berkeluarga akan kuceritakan rasa yang terkandung di dalamnya kepada suami ku atau anak-anak ku ketika cukup usia mereka. Aamiin

Selasa, 24 Januari 2017

Gelap Ku

Biar gelap yang mengundang.
Aku tidak membutuhkan seseorang yang bersedia menerangi gelap ku.
Aku terlanjur tahu bahwa hanya satu penerang yang cahayanya tulus pada ku.
Saat semua orang sibuk dengan usahanya mencari cahaya untuk dirinya dan menerangi gelap orang lain, aku menemukan sisi gelap ku yang tidak tersentuh oleh cahaya mereka.
Saat itu terjadi, aku sudah melepaskan semua orang yang selama ini kurasa cahayanya telah menerangi sisi gelap ku.
Aku memilih jalan ku sendiri, berusaha mengenggam cintaNYA tanpa ragu, dan hilang sudah rasa takut ku kehilangan cahaya-cahaya kecil sementara.
Aku tidak menjadi jahat karena memilih sendiri, aku hanya akan terus melakukan yang terbaik karena rindu pada gelap ku yang berduaan denganNYA.
Aku hanya mengingat semua perlakuan baik siapa saja yang mungkin pernah mencoba untuk menerangi sisi gelap ku.
Cinta dan hati yang kubiarkan gelap ini hanya selalu membutuhkan cahayaNYA.
Biarkan dulu ku tersusun rapi dalam lemari yang perlahan gelap dan tenggelam dalam cahaya yang tidak bersinar.

Selasa, 17 Januari 2017

Rindu Untuk Sahabat

Assalamu'alaykum sahabat.
Lama tak mencoret-coret cantik.
Maafkan atas kelabilan yang terjadi, karena beberapa waktu lalu sedang mengalami banyak hal yang membuat mood ku menjadi lebih random.
Oke, sekian prolognya. Mari kita bagi kisahnya.
Aku terlalu lemah sahabat, maka dari itu aku membutuhkan sahabat-sahabat yang kuat dan ingin menguatkan ku. Aku hanya butuh usaha dan sikap mereka menjadi contoh baik agar aku bisa menguatkan diri ku dan memantapkan langkah ku. Namun, Tuhan memberikan ingin ku melalu jalan lain dan tentu dengan cara yang tidak kuduga.

Saat DIA menempatkan ku di antara mereka yang sama biasa sajanya dengan ku. Awalnya rasa nyaman yang kurasakan, karena kebahagiaan dunia terasa amat dekat. Aku bisa menghabiskan banyak waktu bersama mereka dengan tertawa dan mengenang, kadang seringkali lupa bedanya kesalahan dan kebenaran. Betul kata para alim bahwa tertawa itu ada batasnya dan segala sesuatu yang berlebihan hanya akan mengantarkan pada kelalaian.

Saat hati berbisik untuk bisa dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang lebih baik lagi. Aku hanya meminta belas kasihnya agar aku dibersamakan dengan mereka yang lebih kuat dan sama-sama ingin saling menguatkan. Betapa bahagianya aku ketika DIA antarkan aku ke depan masjid cantik yang di dalamnya terdapat banyak orang yang sedang belajar untuk menjadi lebih baik. Aku akhirnya memahami makna persahabatan sebenarnya, bersama mereka aku masih bisa tertawa dan bahagia namun bukan hanya dunia ini yang kami kenal melainkan kehidupan setelah di dunia ini. Aku terlanjur percaya bahwa persahabatan yang baik adalah persahabatan yang dilandasi karena DIA dan di dalamnya selalu ada DIA.

Saat ini, aku ditempatkan pada kedua suasana. Sebagian teman ku cenderung biasa saja, kami lebih sering menghabiskan waktu sebagai teman sedunia. Kemudian sebagian lagi teman ku cenderung berproses untuk menjadi baik, kami lebih sering menghabiskan waktu sebagai teman sebagian dunia sebagian akhirat. Kemudian sebagian lain lagi teman ku cenderung diam ditempat atau bahkan menjauhi perubahan baik, kami lebih sering menghabiskan waktu sebagai teman pengingat masa lalu dan keduniaan. Mereka semua bukan masalah atau virus berbahaya untuk kemudian menjadi baik jika kutinggalkan. Dalam hukum etika sosial itu sangat menyimpang atau dekat dengan kata mengotak-ngotakan atau rasis.

Maka dari itu, kalimat panjang yang disampaikan oleh guru ku dan dituliskan dalam riwayat para alim, "aku hanya perlu menyakini bahwa ketentuan, aturan, tuntunan, pengawasan, pencatatan, dan ridhoNYA adalah hal dasar yang perlu kuteguhkan karena hanya dengan pertolonganNYA hidup di dunia yang sebentar ini akan mengantarkan ku pada kebaikan di kehidupan setelahnya. Jika memang benar bahagia di dunia hingga di akhirat yang kucari." Toleransi berlaku ketika di dalamnya berdiri tegak aturanNYA, apa pun yang dibuat untuk meringankan ketentuanNYA hanya akan berdampak kurang baik bagi pelakunya.

Terlalu banyak manusia di dunia ini, maka untuk menemukan dan dibersamakan dengan teman-teman yang baik dunia dan akhiratnya perlulah kita berkonsultasi dan meminta kepadaNYA penuh kesungguhan agar usaha mencari dapat dikabulkan olehNYa. Aamiin.

Tentang teman untuk jadi sahabat dunia hingga akhirat.

Selasa, 03 Januari 2017

Sengaja Ku Biarkan

Assalamu'alaykum
Sahabat, kali ini aku sedang ingin bercerita tentang cara ku yang sepertinya kurang tepat dalam menyikapi banyak hal baik dan buruk yang menghampiri ku. Maka dari itu aku memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk sendirian, namun bukan sendiri dalam arti sebenarnya. Aku sedang ingin bercerita banyak dan berudaan dengan Dia yang telah mengatur dan menentukkan jalan cerita hidup ku. Tapi sekali lagi, mungkin cara ku berpamitan sebentar dengan penghuni dunia yang berada di sekitar ku kurang tepat. Sangat manusia kah? Aku hanya manusia biasa yang terlalu lama berdiam di tempat yang kurang tepat dan sudah menyadarinya sejak lama namun memilih untuk berdiam lebih lama. Aku hanya mencoba untuk bertahan lebih lama. Andai mereka tahu berjuta-juta alasan yang coba ku rangkai dan harapan dalam doa selalu kupanjatkan, namun aku menjadi lebih lemah ketika berada di antara mereka. Maka dari itu, menjauh sebentar kurasa jadi jalan terbaik agar aku kembali menguatkan keyakinan ku dan memaksimalkan pemahaman ku tentng dasar penciptaan ku. Cerita kali ini tentang kesulitan memahami orang lain ketika hati dan diri sedang ingin dimengerti oleh diri sendiri. ^^
Tidak butuh pemakluman, hanya ingin sendiri lebih sering. Cukup.