Minggu, 18 Oktober 2015

Happy Family

Assalamu'alaykum warrohmatullah wabarokatuh.. ^^
Halo sahabat fillah, semoga selalu dalam lindungan Allah ta'ala.
Aku mau cerita tentang beberapa kejadian yang coba aku rangkai ya, wawllahu'alam semoga Allah berkenan mengampuni kesalahan dan kekeliruanku dalam berpikir serta menuliskannya.

Aku seringkali bertanya kepada Allah, kenapa aku selalu diijinkan mendengar kisah orang-orang yang unik tentang keluarganya. Aku pernah mendengar kutipan dalam salah satu kajian yang kutemui bahwa "sebaiknya kita menjaga aib keluarga kita karena hanya akan ada dua kemungkinan oranglain mendengarkan dan sekedar bersimpati pada diri atau oranglain mendengar dan menyebarkannya kemudian". Aku mungkin salah memaknainya, karena ketika oranglain bercerita tanpa ku minta mengatakan untuk berhenti bercerita sepertinya membuatku begitu jahat. Karena yang aku pahami setiap individu berbagi tidak selalu ingin dinasehati atau didengarkan, kadang berbicara dengan oranglain membuat individu merasa lebih baik. Sebelum aku mendengarkan lebih dalam inSyaa Allah aku selalu memastikan apakah kisah ini sudah dicurahkan kepada Yang Maha Memiliki kehidupan. Wawllahu'alam jikalau ternyata mereka tak menjawab jujur atas pertanyaanku. Beginilah aku dengan segala keterbatasanku.

Prologku usai, kalian tahu bagaimana rasanya ketika harus mendengar berulangkali kisah yang hampir sama kemudian mereka yang bercerita menangis dan meminta untuk berdiskusi jalan keluar atas permasalahan yang mereka hadapi. Mungkin aku memang bukan pribadi yang cukup baik apalagi bijak dalam hal ini. Pengalaman dan usiaku belum cukup matang untuk menjawabnya, akupun belum berkeluarga. Aku seringkali dibuat takut karena harus mendengar kemudian menjadi saksi atas airmata mereka. Namun aku tak bisa lakukan apa-apa, selain mendengarkan dan berusaha memposisikan diri seperti mereka. Hanya saja kawan, akibat kejadian yang aku yakini Allah tak akan ijinkan terjadi kalau bukan karena ada hikmah yang harus kupetik. Tidak jarang aku menangis ketika satu persatu kejadian itu terjadi kepadaku, mereka semua berkisah dan aku mulai merasakan hal aneh. Mungkin aku harus lebih sabar dan membuka mata atas apa yang terjadi di sekitarku.

Fenomena "happy family" yang memiliki arti tak sebenarnya memang sering terjadi. Namun tahukah kalian yang mengalaminya langsung, kalian adalah generasi berlian yang jelas harganya lebih mahal dari emas di pasaran. Boleh aku mengatakan ini sahabat, "Kalian jelas berbeda dengan yang lain karena ketika seusia kalian kebanyakan mereka sibuk dengan urusannya sendiri, sedang kalian tengah diperhatikan Tuhan untuk menjadi lebih kuat dan sibuk agar mempercepat langkah ke arah yang lebih baik. Kalian itu pilihan, apa yang terjadi pada kalian adalah bukti bahwa kalian adalah yang terpilih dan dipilih langsung oleh Tuhan untuk mengalaminya. Jadi kalian harus tahu betapa Tuhan menyayangi kalian, maka dari itu menangis dan berkisahlah dalam segala situasi langsung kepadaNYA. Percaya padaku kawan, bahwa Tuhan akan langsung melihat ke arahmu, mendengar ceritamu, menatap dan mengulurkan tangan penuh kasih-NYA karena setelah dirimu bercerita Tuhan ingin kamu semakin kuat. Aku tidak samasekali ingin mentertawaimu atau kemudian melihatmu dengan pandangan berbeda, karena ketika kalian percaya membaginya denganku dengan begitu aku bersyukur kepada Tuhan karena aku masih diijinkan menjadi umat yang dipercaya menanggung amanah berupa ceritamu. Kalau aku tak menangis saat dirimu bercerita bukan karena hatiku keras, melainkan sepertinya aku sudah terlalu sering menangis dilain kesempatan dan aku hanya ingin melihat senyummu lebih sering. Kalau aku menaikan nada bicaraku saat dirimu mengeraskan kepalamu bukan karena aku tak memahami posisimu, aku hanya ingin kamu tahu kawan menjadi lebih lembut akan mendamaikan hati dan pikiranmu. Kalau kamu melihat kekuranganku dan membuatmu tak lagi nyaman denganku, cukup jauhi aku dan hindari segala kekuranganku. Aku menjadi baik saat di dekatmu karena aku ingin kamu menjadi lebih baik daripada aku, akan sangat merasa bahagia ketika dirimu berhasil bangkit kemudian meninggalkanku".

Kawan, aku tak bisa jabarkan bagaimana kisah masing-masing mereka. Namun aku hanya ingin menyampaikan ini. Aku lebih sering menangis ketika aku tengah sendiri dan bukan saat dirimu menatapku penuh harap untuk didengarkan dengan baik. Aku lebih sering memikirkan kalian ketika kalian mulai sibuk dengan kegiatan kalian atau seusai kalian berbagi cerita denganku. Beginilah aku, semoga sikap dan perbuatanku tak banyak melukai hati kalian. ^^ aamiin

Teruntuk siapapun yang telah percaya untuk berbagi cerita denganku, semoga Allah ampuni dosamu, limpahkan berkah dan hidayah kepadamu, bahagiakan dirimu di dunia hingga akhirat. Aku mencintai setiap yang ku kenal karena Allah dan untuk Allah, tanpaNYA kalian tak akan ada di dekatku dan mewarnai hari-hariku. Jazakumullah katsiron.

Sabtu, 12 September 2015

Mimpi Kecil



Assalamu’alaykum warrohmmatullahi wabarrokatuh..
Hola sahabat ^_^
12 September 2015, seharian ini aku menghabiskan waktu bersama adik  dan juga temanku. Gadis sholehah yang sedikit mirip sifatnya denganku, meski tetap banyak yang jauh lebih baik dariku. Gadis asal Sukabumi ini mengajarkanku banyak hal dan lagi-lagi mengenai kehidupan. Semoga Allah ijinkan kebersamaan kami semakin baik di dunia hingga di akhirat kelak. Aamiin
Toko buku menjadi salah satu tempat yang kami kunjungi hari itu. Ketika sampai di sana sudah menjadi kebiasaanku untuk menghampiri rak bertuliskan buku-buku agama Islam. Saat aku sedang asik membaca bagian belakang buku-buku yang bulan lalu belum ku temukan  di rak itu, kemudian dia menghampiri sambil menanyakan buku apa yang akan aku beli. Sebelum menjawab  pertanyaannya, aku mengeluarkan handphone kemudian asik memotret cover buku yang ku inginkan sambil  mengatakan dalam hati semoga Allah mau kasih buku-buku ini untukku. Tak lama kemudian, Adikku kembali menagih jawabanku. Lalu, sambil tersenyum aku menjmjawab kalau ini  adalah caraku agar tahu buku mana yang baik menurut Allah untukku baca dan sambil berdoa agar bisa dikasih semua buku yang terbaik. Adikku pun langsung tertawa dan mengatakan kalau caraku lucu. Aku hanya dapat tersenyum dan berbisik dalam hati semoga Allah memberikan dia cara yang lebih baik dan unik untuk meminta apa pun kepada Allah. Aamiin
Sahabat, aku suka membaca dan menulis, atau sama dengan aku suka dengan buku bacaan dan buku tulis. Suka, membuatku jadi sering menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mendatangi toko buku untuk membaca buku yang sudah tidak tersegel karena dibuka oleh orang lain atau sekedar membaca catatan belakang buku yang menarik perhatiaanku. Akhirnya aku sering membayangkan cover buku yang membuatku tertarik, selesai sholat kadang minta lewat lisan lebih sering ya hanya terbayang aja. Allah ta’ala Maha Baik, tiba-tiba aku punya ide untuk foto covernya dengan niat awal kalau kebayang jelas deh judul, pengarang, dan penerbitnya supaya kalau minta lebih jelas gitu. Lama-lama seperti ada inovasi baru dalam ide  mewujudkan keinginan, karena Allah ta’ala ga akan kasih cuma-cuma kalau kita masih bisa usaha tapi ga ngelakuinnya. Alhamdulillah,pelan-pelan jadi bisa nabung, ga terasa uang tabungan sudah terkumpul, ada aja kesempatan bisa ke toko buku, dan bisa beli satu atau lebih buku sesuai yang diinginkan.  ^_^
Ini hanya tips kecil yang mungkin sahabat fillah punya cerita lebih unik, menarik, dan baik tentang seni menjadikan nyata keinginan. Sekian coretan kecilku hari ini, semoga Allah berkenan mengampuni kesalahanku dan menerima amalan baikku J aamiin

Senin, 07 September 2015

Salam Rindu..

Salam rindu..
Assalamu'alaykum teruntuk dua orang terkasih dalam hidupku.
Bersyukur dan mendoakan keduanya adalah cara terbaik yang saat ini bisa kulakukan, karena masa tugas keduanya  di muka bumi telah lebih dulu berakhir.
Dari sekian banyak impian yang coba ku tuliskan dan ku minta kepada yang Maha Memiliki kehidupan, inSyaa Allah terselip banyak yang ingin ku lakukan untuk keduanya dan Allah berkenan mewujudkan impian ku.
Teruntuk dua orang terkasih yang dari keduanya Allah ta'ala jadikan Papa sebagai ayahku. ^^
Aku begitu ingin mengucapkan banyak terimakasih karena sudah dengan ikhlas dan penuh kasih sayang serta kerja keras untuk membesarkan juga mendidik Papa ^^
Rasanya aku ingin mengatakannya langsung, karena saat keduanya pergi usiaku masih terbilang anak-anak dan belum banyak tahu yang sebenarnya terjadi dalam hidupku yang sebenarnya.^^
Aku menghabiskan masa kecilku bersama kalian, duhai nenek dan abah yang telah bersedia mengasuh cucunya dengan penuh ketulusan. Aku selalu merindukan saat kedua orangtuaku mengantarkanku ke rumah keduanya, kemudian kembali di jemput saat pulang kerja. Bersama keduanya aku menempuh pendidikan paud serta banyak pelajaran lima tahun usia emasku dilalui di dampingi keduanya.
Sungguh Allah ta'ala Maha Mengetahui apa yang jarang sekali terucap dari lisanku namun selalu terbesit dan menetap dalam pikiranku. Aku selalu mengingat setiap kenangan manis yang Allah ta'ala tuliskan untuk terjadi bersa kalian. Bahkan aku mengingat setiap petuah baik, doa baik, senyum, tawa, dan setiap kegiatan yang ku lalui dengan keduanya. Masyaa Allah, sebaik-baiknya hal yang terjadi adalah keputusan terbaik dari Allah ta'ala..
Semoga keduanya selalu mendapat syafa'at, diringankan siksa kuburnya, dilapangkan kuburnya, dan kelak termasuk golongan orang-orang yang sholeh/sholehah. Aamiin Allahumma aamiin..

Dear Nenek, Icha kangen nek. Icha mau cerita banyak sama nenek. Icha mau tidur di pangkuan nenek lag. Icha kangen lihat senyum nenek, icha kangen dengar suara nenek, icha kangen pegang tangan nenek. Nenek, Icha mau cerita banyak. Sekarang icha ga suka main siang-siang karena harus kuliah, icha ga suka minta jajan kok masih sama kayak yang dulu. Nenek, icha mau nangis di pelukan nenek. Icha mau bilang kalau ada yang nakal sama icha. Nenek harus marahin yang nakal itu, biar ga nakal lagi. Nenek, semoga kita bisa berkumpul lagi dalam barisan orang sholehah kemudian bersama masuk SyurgaNYA Allah ta'ala yaa ^^ Aamiin

Rabu, 12 Agustus 2015

Dilema dan Mimpi

Assalamu'alaykum..
Halo sahabat fillah, lama aku tak bersua disini.

Saat ini aku kembali berada dalam dilema, sedikit berlebihan karena ini bukan untuk yang pertama kali. Sahabat, memiliki mimpi adalah salah satu tanda kita masih memiliki harapan hidup dan untuk menjadi lebih baik lagi dikemudian hari. Sebaik-baiknya mimpi adalah yang ditujukan untukNYA, dijalani dalam usaha sesuai aturanNYA, dan dipenuhi dengan pengharapan DIA melimpahkan ridhonya. Hehe, wawllahu'alam bishowab. Dilema dan mimpi lagi berhubungan nih sama hari-hariku baru sebentar hidup di dunia tapi rasanya seperti sudah lama dan belum melakukan hal apapun untuk keduanya. Dilema pasti menghantarkan kehadapan dua pilihan yang memang harus ada yang dipilih. Mimpi ada untuk diwujudkan dan pasti menemui banyak jalan yang bisa dipilih. Hehe pilih dipilih dipilih, aku seperti tengah menjajakan dagangan berupa pilihan pada diri sendiri. Singkat prolognya sih gitu, dilema dalam mimpi.
Kita kenalan lagi yuk, ini aku yang sekarang gadis yang hobi sekali berpikir saking hobinya suka tidak menemukan tindakan terbaik. Astagfirullah, tidak bermaksud untuk lagi-lagi menghakimi diri sendiri. sejak setahun ini aku lebih senang untuk memandang sejauh-jauhnya mata sanggup memandang, melakukan segala sesuatunya sendiri, mendengarkan lebih banyak cerita dari lingkungan baru, dan menghabiskan akhir pekan dengan mengurus adik-adik sepupuku. Aku merasa jauh lebih tenang dan seakan-akan berpikir lebih baik ketika aku berada ditengan-tengah tiga adik sepupuku. Atas izin Allah ta'ala dengan di tempatkan di antara mereka aku seperti disadarakan sudah sejauh mana aku berpikir dan sudah sekuat apa aku berusaha selama ini. Aku seperti dibangunkan dari tidur panjangku selama ini, diterangkan dari gelapku selama ini, dan didorong untuk tidak lagi menetap dalam bayang-bayang masalalu. Selama ini banyak hal yang ku lewati dan terlalu ku nikmati. Dilema selalu menjadi alasanku dalam membenarkan tingkah polaku yang kadang tidak mencerminkan apa yang ada dalam pikiranku. Dilema selalu jadi teman terbaikku dalam melangkahkan kaki menggapai mimpi yang sudah ku rangkai. Astagfirullah, karena ulahku sendiri aku menjadi seperti aku saat ini.
Sahabat, meski aku menjadi seperti aku saat ini aku juga tidak sepenuhnya merubah diriku yang banyak dikenal selama ini. Aku tetaplah aku yang periang, berisik, keras kepala, dan lain-lain. Aku menulis bukan karena ingin kalian tahu seperti apa aku, hanya saja aku merasa ini hal terbaik yang dapat ku lakukan. Dengan hal ini aku bisa selalu mengingatkan diriku, me-refresh pikiranku, dan mengeluarkan sedikit isi hatiku. Dilema dan mimpi, kembali lagi kebahasan yang sedang ingin ku angkat. Aku ingin mengatakan hal ini :
"Dear Dilema, maafkan aku yang terlalu lama memelukmu erat bahkan memaksakanmu untuk selalu hadir mengisi hariku. Maafkan aku yang seringkali menyalahkanmu setiap kali aku tidak puas dengan hasil akhir perjalanan per-episodeku. Aku hanya ingin berdamai denganmu, aku ingin kita tetap bersama dan lebih baik kedepannya. Aku percaya dirimu ada bukan untuk membuatku menjadi tidak baik. Setiap kali aku sampai pada persimpangan jalan dirimu hadir bukan untuk mengantarkanku ke jalan yang gelap, namun dirimu hadir untuk menguji seberaba kuat aku dalam keyakinanku. Selama ini bukan hasilnya yang tidak baik kemudian itu karenamu, melainkan semua hasilnya adalah yang terbaik dan dirimu yang dikirim Allah ta'ala untuk menyadarkanku bahwa itu adalah yang terbaik untukku. Semoga dirimu berkenan memafkan ku dan tetap menjadi sahabat terbaikku."
"Dear Mimpi, apa kabar dirimu duhai sahabat yang seringkali ku pandang dengan sinis? Mimpi, maafkan aku yang seringkali membuatmu terlihat kecil dan jauh. Maafkan aku yang seringkali mengisi harimu dengan pandangan negatif dan usahaku untuk mendekatimu yang semakin melemah setiap harinya. Mimpi terimakasih atas kesabaranmu menantiku, atas keikhlasanmu menjadi bagian dari diri yang jauh dari sempurna selam ini. Mimpi, maukah dirimu untuk tetap menanti disana? Masih bolehkah aku mencoba menatapmu lebih positif dan menguatkan langkahku untuk mendekatimu? Semoga dirimu masih berkenan menjadi mimpi yang terwujudkan oleh orang sepertiku dan semoga dirimu akan terus menjadi penyemangat hari-hariku."
Alhamdulillah, akhirnya bisa bicara dengan Dilema dan Mimpi. Sahabat, aku percaya kalian pasti punya mimpi yang luar biasa hebat. Aku hanya ingin berpesan untuk diriku sendiri dan kalian yang mungkin membaca ini, ketika berhasil membentuk mimpi dan menyusun langkah menggapainya pastikan kedua hal tersebut kalian rajut dan kaitkan dengan erat. Kalau sudah terkait erat jangan lupa selalu lumuri dengan pelumas yang tidak ada duanya yaitu do'a dan ketentuanNYA, inSyaa Allah dengan begitu kita bisa berjalan dengan tenang dan dimudahkan untuk menerima segala bentuk hasil dari pengaitan gapai mimpi. Kita masing-masing pasti punya cara dan sudut pandang sendiri tentang hal ini, semoga setiap kita selalu menjadikan Allah ta'ala pengisi bagian terbanyak dari keduanya.
Penutupan, aku bukan pribadi yang pandai apalagi baik. Aku masih banyak sekali kurang dan bolongnya. Hanya saja aku selalu yakin dan percara jikalau Allah ta'ala Maha Pengampun dan Maha Pemurah, semoga DIA berkenan memaafkan setiap salahku, meridhoi setiap langkah dan mimpi ku, menguatkan setiap usahaku, berkenan untuk mewafatkanku dalam iman islam, mernyelamatkanku dari siksa kubur, serta bertemu denganku kelak di tempat yang paling indah (syrugaNYA). Aamiin

Kamis, 16 April 2015

Be My Self, and Do The Best

Assalamu'alaykum warrrohmatullah..
hai kawan-kawan yang selalu dalam lindungan Allah ta'ala. ^.^
Satu semester telah berlalu dan aku tak lagi dapat menghitung berapa  banyak nikmat  yang Allah ta'ala berikan untukku. Kawan aku ingin bercerita bagaimana rasanya menjadi pribadi yang selalu melihat  segala sesuatu dari hal terburuk yang mungkin terjadi. Aku adalah pribadi pesimis untuk sesuatu yang ku sebut "masa depan". Aku rasa hal ini sangat tidak menyenangkan, meski aku baru benar-benar mengetahui tidak ada keuntungannya sama sekali berpikiran negatif. Kawan,aku tahu memang sebaiknya kita dalam melakukan segala  sesuatu itu penuh kehati-hatian hanya saja jangan jadikan hal tersebut menjadi sesuatu yang buruk. Aku belajar dari apa yang tengah ku alami saat ini. Aku menyayangi salah satu sahabat terbaikku sangat berlebihan,  sehingga aku tidak lagi bisa memilahkan mana yang benar-benar wujud kasih sayang dengan sesuatu yang menunjukan sisi egoisku. Aku rasa aku gagal mengelola dorongan dalam diriku, aku terlalu menjadi diriku dari sisi negatif yang ku punya. aku bersyukur karena sahabat yang menghadapi sisi terburukku ini tidak pergi menjauh, namun dia  dengan cara terbaiknya selalu mencoba untuk mengingatkan dan mengembalikan diriku dari sisi yang berlawanan. Kawan, aku sadar betul seharusnya aku tidak menjadi seperti ini. Aku percaya bahwa setiap individu mampu mengelola dorongan dalam dirinya. Maka dari itu kutuliskan ini dengan doa agar kalian bisa menyadari siapa diri kalian sebenarnya dan bagaimana seharusnya kalian mengelola segala sisi baik buruk yang kalian miliki. Tetap menjadi diri sendiri itu sangat penting, namun terkadang manusia sebagai tempatnya berbuat salah tidak benar-benar mencermati seperti apa  harusnya kita. Aku punya sedikit informasi mengenai bagaimana kelola  diri, in Syaa Allah ini adalah cara  yang tengah ku coba terapkan pada diri, yaitu:
1. Kenali siapa Tuhan kita, dari situ kita akan menemukan keyakinan yang tidak dapat ditemukan dalam wujud lain.
2. Cari tahu hakikat penciptaan kita, coba berfilsafat untuk diri sendiri buat deskripsi tentang siapa kita dan mengapa kita ada dengan begitu kita akan lebih menyadari banyak hal yang akan menuntun kita dalam berkehidupan.
3. Jadikan rasa haus dan lapar untuk ilmu, karena kebutuhan dasar kita salah satunya adalah makan dan minum yang terpenuhi maka coba jadikan ilmu sebagai dasar yang membedakan kita dengan mahluk ciptaanNYA yang lain tidak pernah terputus atau bahkan kosong semasa hidup.
4. Lakukan sekarang atau tidak sama sekali, hehe itu motto hidupku sih kawan. Namun aku punya maksud dari kalimat itu, kebanyakan dari kita adalah pemikir baik atau buruk dan fitrah kita sebagai manusia juga memiliki dua sisi  yaitu baik atau buruk. Oleh karena itu sebagai perwujudan dari apa yang  seharusnya kita lakukan, aku menghapuskan kata "nanti" dalam banyak hal teruntuk segala niat dan keputusan baik. Karena dengan begitu aku tidak memiliki kesempatan untuk mendalami sisi negatif yang sebenarnya hanya menjadi persepsiku.

Kawan, itu adalah tips kecil yang ku tuliskan bukan untuk menggurui kalian karena aku hanya sedang mengingatkan diriku sendiri. Maka dari itu jikalau kalian tidak sependapat atau bahkan memiliki cara mengatasi kontrol diri yang jauh lebih baik, aku sangat bersyukur. Aku rasa untuk ceritaku malam ini cukup, semoga Allah ta'ala berkenan mengampuni kesalahanku dan menuntunku untuk selalu berada dalam jalanNYA. Aamiin

Kamis, 09 April 2015

love of child

Assalamu'alaykum warrohmatullah, sahabat.
Apa kabar?
Hehe, salah satu sahabatku yang mulai terusik dengan cerita-cerita panjangku menyarankan agar aku berbagi kisahku disini. Hehe
Karena aku sangat menyayangi sahabatku satu itu, maka aku coba untuk membaginya disini.
Laporan langsung dari Denpasar 10 April 2015.
Aku sangat menyukai anak kecil, karena dengan melihat mereka saja aku merasa tenang. ^^
Mungkin tidak hanya aku yang merasakannya, kalian pasti punya cara memahami yang lebih baik dan berbeda. *khususnya akhawat* ^^
Entah kenapa aku seperti mendapat tambahan semangat tiap kali bertemu anak-anak. Mungkin karena memang mereka adalah anugerah terindah dari Allah Ta'ala bagi kedua orangtuanya, keluarganya, bahkan orang lain yang melihatnya. ^^
Semoga suatu hari nanti akan ada anak-anak dalam kehidupanku yang tidak hanya menenangkan dan membahagiakan aku, suamiku, keluarga besar, kerabat, teman, namun juga seluruh penghuni alam semesta ^^ aamiin
Hehe Ummi rindu kalian. :') Semoga kita dapat dipertemukan di dunia dan akhirat terbaik Allah ta'ala ya. Aamiin

Jumat, 06 Maret 2015

Ku Panggil Beliau Mama



Assalamu’alaykum wr.wb
Pagi itu seperti biasa tepat sebelum pukul 05.30 WIB rumahku sudah kosong ditinggal penghuninya. Ayah dan Ibu ku adalah pegawai negeri yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat Ibu Kota, sedangkan adik ku bersekolah di salah satu SMA Negeri di Jakarta, dan aku saat itu kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Kami selalu berpisah saat matahari belum terbit dan kembali bertemu saat matahari telah berganti menjadi bulan. Begitulah rutinitas kami setiap harinya, bahkan waktu weekend pun kami jarang melewatinya bersama karena adikku dan aku memiliki kegiatan ekstra.
Rahasia kekuatan Ayah, Adik, dan aku dalam melewati hari-hari yang bisa dibilang ‘sibuk’ karena adanya Super Mom diantara kami. Mama, dia adalah sosok yang kekuatannya berkali-kali lipat dibandingkan kami. Beliau selalu lebih dulu berdiri dan siap  melayani keluarganya sekalipun beliau juga harus menuntaskan amanahnya diluar rumah. Sosok inspiratif yang jadi panutanku untuk menjalani hidup yang sebenarnya. Beliau adalah seorang  anak, ibu rumah tangga,  dan  juga pelayan kesahatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat berbagai lapisan. Kalian tahu sahabat, beliau tidak pernah mengeluh atau bahkan kehilangan senyum setiap harinya. Itu hal  yang selalu membuatku malu ketika berhadapan langsung dengan setumpuk tugas dan segudang kegiatan yang membuatku ingin menyerah.
Akhir tahun 2013 aku menagih janji kepada kedua orangtuaku. Kami membuat perjanjian bahwa aku akan mengikuti ujian masuk PTN tahun berikutnya (2014) untuk capai apa yang aku mau, maklum sahabat jurusan ku di universitas swasta ini tidak sepenuh hati ku jalani. Alhamdulillah kedua orangtuaku termasuk yang tidak banyak aturan, selama anak-anaknya bertanggung jawab atas apa yang dilakukan  in syaa Allah mereka selalu restui. Akhirnya perjuangku dimulai, ada satu kalimat kunci yang Mama sering ucapkan “Apapun yang kamu pilih dan jalani, lakukannya sepenuh hati dan niatkan untuk dapat ridho Allah karena dengan begitu in syaa Allah doa-doa Mama akan terkabul”. Ayo kita berangkat sahabat, mana mimpimu?
Seminggu sebelum seleksi masuk PTN Mama mencoba meyakinkan kembali atas urutan pilihan universitas yang ku pilih. Beliau mengatakan apakah aku yakin dengan pilihanku, kemudian mengatakan kalau rumah akan menjadi lebih sepi kalau aku diterima di salah satu universitas yang ku pilih. Sahabat mendengar beliau mengatakan hal itu air mataku langsung menetes, saat itu aku tidak sama sekali memilih universitas yang ada di Jakarta. Mama dan aku selalu menghabiskan malam bersama, biasanya beliau selalu curhat tentang kesehariaannya sambil  minta dipijetin.  Kami memang seperti sahabat, kalau sudah berdua itu rasanya banyak hal yang bisa diceritakan, meski lebih sering beliau yang bercerita. Mungkin hal tersebut menjadi salah satu alasan kenapa beliau menanyakan keyakinanku dalam pilihan.
Hari yang ku nanti pun tiba, dengan penuh semangat Mama bersiap untuk mengantarku ke tempat ujian. Saat itu kami berangkat dengan angkutan umum, bermodalkan alamat yang tertera pada kertas ujian bismillah kami berangkat. Lucunya saat itu Mama dan aku belum pernah pergi kesana, coba cari-cari lokasi lewat google map sambil berdoa semoga diselamatkan sampai tujuan dan tepat waktu sama Allah. Kami sempat bingung untuk naik angkutan berikutnyasetelah sampai di salah satu halte yang ada di GM sedangkan waktu tes sudah dekat, Mama memutuskan agar kami naik taksi saat itu. Bersyukurnya kami dapat taksi yang supirnya sangat ramah. Perbincangan pun dimulai antara Mama dan supir taksi itu yang intinya mereka membahas harapan-harapan mereka pada anak-anaknya. Kulihat kaca spion taksi dan kudapati wajah Mama mulai gelisah, beliau tak  henti berdzikir dan mengingatkanku untuk melakukan hal yang sama. Sampai akhirnya Alhamdulillah aku sampai di lokasi dan tepat waktu. Sebelum memaasuki ruang tes Mama mengatakan agar aku tetap tenang, baca doa, yakin, dan bersyukur. Beliau memang tidak seperti ibu-ibu yang paham agamanya baik, beliau tidak mengenakan hijab yang panjang ataupun mengenakan rok sesuai syari’at, namun aku selalu berdoa agar beliau dimudahkan untuk menjadi lebih taat pada Allah SWT.
Bel tanda tes berakhirpun berbunyi, aku melihat Mama tengah menantiku di depan pintu keluar sambil memegang sesuatu di  tangannya. Sahabat, kalian tahu itu adalah plastik yang berisi makan siang untukku karena beliau tahu perutku pasti lapar setelah mengerjakan soal. Rasa sungkan untuk makan itu muncul karena aku tahu beliau tengah menjalani puasa saat itu. Alhamdulillah beliau lagi-lagi mengajarkan arti kesungguhan menjalani hidup, sudah hampir 6 tahun ini beliau melaksankan puasa sunnah daud. Akhirnya tiba waktu pengumuman seleksi, saat aku membukanya aku sedang di rumah dan Mama di kantornya. Alhamdulillah aku diterima di jurusan yang aku mau di salah satu universitas negeri di Bali. Saat ku hubungi Mama, beliau tak henti mengucap syukur sambil menangis. Kalian tahu rasanya bahagia namun disertai kesedihan, karena aku harus menghabiskan masa menuntut ilmu ku jauh dari keluarga.
Sekitar satu minggu kami punya waktu untuk bersama, kalian tahu sahabat  aku mulai berat untuk meninggalkan rumah  padahal  sebelumnya aku memang pernah membayangkan hal ini terjadi. Semakin dekat, semakin sering aku habiskan waktu bersama Mama.kami mulai  sibuk mempersiapkan perlengkapan dan kebutuhanku untuk merantau nanti. Mama  belakangan ini cenderung sedikit  bicara entah seperti banyak yang beliau pikirkan, sepertinya memang  sangat  berat  melepas gadinya pergi jauh. Kamimemang hampir tak  pernah berpisah untuk waktu yang lama. Selang waktu berjalan, hari itu tiba  dimana aku harus memulai perjalanan panjangku jauh dari keluargaku. Mama  mengantar dan menemani 3 hari pertamaku di Bali, setelah itu beliau harus kembali pulang. Ketika mengantarnya ke Bandara I.G.N Rai beliau memeluku sambil berkata, “Mama percaya gadisku ini pasti  bisa jadi orang yang berhasil  dunia dan akhirat. Luruskan niat kakak ya, semoga semakin sholihah dan dimudahkan jalan dakwah kakak”. Semenjak hari itu Mama dan aku sering berbicara via telepon, beliau selalu menceritakan bagaimana keadaan rumah  dan aktifitas hariannya. Sahabat, jarak adalah nikmat yang terbatas begitulah cara Mama dan aku menikmati semua ini. Ketika rindu datang, rasa ingin memeluk namun tangan tak sampai, jarak mengajarkan kami untuk membesarkan doa-doa agar rindu kami tersampaikan langsung pada hati-hati  kami. Mama selalu menjadi cahaya dalam hari-hariku, hampir di setiap habis shalat ku temukan wajahnya yang penuh kedamaian. Semoga semua Mama di dunia ini dapat merasakan kasih sayang buah hatinya dan kesabaran ekstra dalam mendidik harapan-harapannya agar menjadi khalifah terbaik di bumi Allah ta’ala.

Kamis, 08 Januari 2015

Membenarkan Cinta

Aku tak pernah bayangkan hari itu
Hari dimana Tuhan mempertemukanku dengan kamu
Aku juga tak pernah meminta untuk mengenalmu
Namun lagi-lagi Tuhan yang mengaturnya untukku

Lalu haruskah aku menyesali semua?
Atau haruskah aku meminta untuk menghapusnya dari sejarah hidupku?
Ku rasa itu bukan permintaan yang akan Tuhan kabulkan
Karena yang Tuhan berikan adalah yang terbaik untukku

Sekarang apa? Melanjutkan pertemanan kita?
Atau aku harus mengakhirinya dan menjadi seperti bukan teman?
Karena setenang apapun sikapku, aku tahu Tuhan mengetahui kebenarannya
Aku malu pada-Nya yang telah mengizinkan pertemuan kita

Begini caraku untuk bersyukur atas kasih sayang-Nya
Aku akan tetap menjadi temanmu, namun tak seperti biasanya
Biarkan waktu yang menutup setiap jengkal cerita pertemanan kita
Biarkan waktu pula yang akan menjadikan indah pertemanan kita

Aku hanya harus lebih bersabar atas hembus angin yang kubuat berbeda
Aku hanya harus menerima hasil dari apa yang kuhembuskan
Aku takkan menyalahkan mereka yang memandangku seperti sekarang
Aku hanya akan mempedulikan pandangan Tuhan atas usahaku sekarang

Langit, catat ini..
Aku tak meminta-NYA untuk menghapuskan sepenggal cerita hidupku ini
Aku hanya meminta-NYA untuk menerima maaf dan usaha kecilku
Aku hanya ingin terus berada dalam peluk-NYA selamanya
Aku yang tak sempurna ini hanya ingin bisa menatap wajah-NYA dan kekasih-NYA

Aamiin

Rabu, 07 Januari 2015

Aku dan Ambisiku

Aku sama seperti pemuda pemudi lainnya, banyak sekali mimpi yang aku gantungkan di langit setinggi-tingginya.

Aku sama seperti pemuda pemudi lainnya, ingin mencicipi semua rasa yang yang Allah Azza wa Jalla teteskan di dunia fana ini.
Aku mempunyai banyak cita-cita tinggi, sama seperti yang lainnya.
Aku ingin jadi ahli psikologi di perusahaan profit besar di Indonesia, dan menjadi motivator bagi orang banyak. Aku ingin bersekolah di luar negeri,
tepatnya di benu eropa atau di negara-negara arab.
Aku ingin mengikuti berbagai ajang kepemudaan di nasional maupun internasional.
Aku ingin serba bisa, pintar di semua bidang, alias multitalented.
Aku ingin membuat novel di berbagai genre, menjadi penulis, dan punya usaha kuliner.
Aku ingin keliling daerah wisata di Indonesia, aku ingin keliling dunia!
Aku ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku dari berbagai provinsi dan latar belakang.
Oh! Sungguh! Aku ingin menikmati masa mudaku!

TAPI
Tiap aku berpikir jauh.
Aku teringat, seorang muslimah kodratnya adalah mengurusi rumah dan beraksi di balik layar.
Aku teringat bahwa, hal-hal tadi tidak akan menjadi cerita manis di hari tuaku kelak.
Aku teringat pepatah "jangan mati-matian mengejar apa yang tidak kamu bawa mati".
Oh! Wahai!
Aku juga jadi teringat bahwa, sejatinya hidup ini adalah untuk menjadi orang yang
paling bermanfaat bagi sesamanya.

ADUH!
Aku harus bagaimana dong?
Sayang sekali kalau hal-hal tadi terlewatkan!
Masa mudaku mau dikemanakan?
Mau diapakan?

Aku merenung...
Eh, kok aku lupa?
"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (Q.S
Adz-Zariyat : 59).
Mahluk di muka bumi ini diciptakan untuk menyembah-Nya.
Seharusnya semua yang kulakukan adalah bentuk pengabdianku terhadap-Nya.

Aku lupa, seharusnya aku bersyukur.
Aku hidup di negeri mayoritas muslim yang aman dan tentram, serta penuh toleransi.
Aku dikelilingi mereka yang tulus menyayangi dan mencintaiku karena Allah.
Aku hidup sehat tanpa penyakit berarti.
Aku berada diantara orang-orang yang membimbing dan membantuku menuju Jannah-Mu.
Karena hanya kepada-Mu lah aku kembali. Sejauh-jauhnya, setinggi-tingginya aku
mengejar duniawi ini.
Karena sejatinya hidup hanyalah sepotong cerita singkat bagi mereka yang
bahagia, atau sepotong cerita panjang bagi mereka yang bersedih.
Aku ingin mati. Mati dan mati. Tanpa harus masuk surga atau neraka.
Tapi disinilah aku telah diberi anugerah atas hidup ini.

Apalagi yang kurang?
Yang mana kata Nabi saw., hanya dengan shalat 5 waktu, shadaqoh harian,
berpuasa, menjaga kehormatan diri dan taat pada suami (kelak), aku bisa
masuk Syurga dari pintu mana saja yang kusuka.
Apalagi yang kurang?
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?

Lantas apa yang bisa kulakukan untuk mengisi masa mudaku agar bermanfaat, seru,
dan menjadi cerita manis di hari tuaku nanti?