Pembohong,
Mereka bilang kamu baik dan peduli. Tapi kamu tidak begitu dengan ku. Laku kasarmu dan tidak berperasaanmu pada ku.
Penjahat,
Mereka bilang kamu sangat tulus dan kamu bilang kamu bukan pemilih. Jelas tatapan dan kata-katamu selalu palsu dan tidak sama dengan ku.
Perhatikan ini,
Aku tidak bisa membencimu barang sedetik pun dan aku tidak bisa berhenti menangis dengan menjadikanmu sebagai alasannya.
Uhh, aku ingin tenggelam bersama gelap.
Aku hampir kehilangan setitik cahaya, dan membuyarkan semua kekacauan yang coba kusembunyikan.
Uhh, bom waktu yang orang bilang.
Aku hanya akan berusaha membuatnya tidak menjadi kenyataan, biarkan orang bilang aku hanya akan terus memandaikan diri ku untuk menyembunyikan semuanya.
Aku pastikan hal ini,
Manusia lain hanya akan tahu apa yang kutunjukan di hadapan mereka.
Satu-satunya manusia yang kupercaya dan kutemui dengan semua sisi sebenarnya aku adalah kamu.
Kamu yang memilih untuk tidak berada di sisi ku lagi dan lebih memilih jalan untuk membahagiakan dan dibahagiakan dengan mereka yang memang sudah sejak lama merasakan bahagia seperti kamu.
In Syaa Allah Mahasiswi yang sedang belajar dan berusaha menjadi umat-Nya yang semakin baik setiap harinya.
Rabu, 28 Desember 2016
Gelap Aku dan Kamu
Selasa, 27 Desember 2016
Bintang dan Awan Gelap
Kamu satu-satunya yang paling tahu aku selain DIA. Bahkan di hadapan Ibu ku masih bisa ku sembunyikan banyak hal karena aku terlanjur tahu beliau telah menanggung banyak beban. Perasaan bersalah ku padamu mungkin tidak pernah nampak, mungkin karena terlalu tinggi harga diri ku atau terlalu banyak kesalahan ku. Teruntuk kamu, Bintang yang selalu bersinar baik dalam hidup ku atau pun orang lain di sekitarmu.
Bintang selalu disibukkan dengan banyak hal yang tentunya membuat dia semakin bersinar. Dia bisa tertawa dan menikmati indahnya cahaya matahari sebelum malam tiba dan memintanya untuk bersinar. Aku hanya awan gelap yang selalu siap menurunkan hujan dan tentu menghalangi sinarmu, seperti malam yang berawan. Kemarin, setelah hitungan minggu aku tidak bertemu kamu dan rasanya masih sama. Rasanya aku hanya ingin semakin menggelapkan langitmu dengan menahan bendungan air hujan serta petir-petir kecil yang siap mengkilatkan cahaya. Selalu seperti itu bukan aku? Bintang selalu gagal bersinar ketika bersama ku.
Bintang terlalu baik untuk ku. Dia selalu memenuhi kebutuhan ku dan selalu ada untuk ku. Tapi aku? Selalu jadi yang paling gagal memahaminya, selalu sibuk dengan banyak urusan yang berakhir jadi masalah untuk ku kemudian memaksakan pengertiannya atas semua tingkah pola ku. Begitulah aku selama ini, sama dengan awan gelap berisi air hujan dan sesuka angin berhembus menutupi sinar yang coba Bintang pancarkan. Dan dia masih jadi satu-satunya yang paling mengenal dan mengetahui tentang aku dari banyak sisi terburuk ku.
Uhh, Bintang mungkin sudah tahu atau terlalu muak untuk mencari tahu tentang aku. Bukan dia yang meminta ku pergi karena dia tidak sejahat aku. Aku telah memilih untuk melihat dia hidup benar-benar bersinar tanpa ada aku awan gelap tidak tahu diri seperti aku. Aku hanya telah memutuskan untuk melihatnya dari langit bagian lain dan memastikan hanya ada awan gelap kecil yang sesekali menutupinya, tapi bukan aku. Bintang akan bahagia dan aku akan berkelana sambil terus menatapnya dengan cara ku.
*Nangis deui. Inti inspirasinya mungkin sebagian teman terdekat ku tahu. InSyaa Allah lebih dari lima puluh persennya murni kerena angin dan galau mau masuk rumah tapi tak ada kunci.
Senin, 26 Desember 2016
Aku Bukan Kamu
Sore itu aku berjalan sebentar dengan dia yang ku kasihi. Sebentar bersama hari itu menyadarkan seperti apa aku sebenarnya. Aku terlanjur menjadi pribadi yang serba apa adanya, penuh keterbukaan, terkesan berantakan, dan selalu mampu membuat suasana bahagia. Jelas sudah sejauh apa perbedaan antara kamu dan aku. Kamu hidup dalam banyak batasan, aturan mengikat, dan tidak suka kegaduhan yang ku buat untuk membahagiakan orang lain.
Sepuluh menit lalu, sebelum aku berpisah dengan dia aku asih menemukan langit membiru dengan awan tipis dan cahaya matahari. Tapi, sekarang langit menghitam, awan mulai berkumpul menebal, dan cahaya matahari tersimpan rapi di balik awan tebal dan langit menjadi benar-benar hitam. Seburuk itu ternyata usaha melepaskan kamu yang terjaga selama banyak hitungan tahun di dalam hati dan doa ku.
Aku berdiri di halte sore itu menanti bus antar kota yang siap mengantarkan ku ke tempat tujuan. Niat ku kali ini lebih lurus dibanding niat-niat ku sebelumnya. Aku tidak lagi pergi untuk menyembunyikan kamu di balik semua kesibukkan yang ku buat. Tapi aku telah memilih untuk membiarkan kamu tetap di tempatmu dan aku melakukan kesibukan ku untuk menggapai banyak cita-cita yang telah kubuat. Aku membiarkanmu menetap itu seperti gedung-gedung tinggi yang sering ku lihat mereka tetap berdiri gagah disana dan perlahan gedung-gedung besar dan megah lain menutupinya. Benar, ini perihal "waktu" yang sedang coba ku bahas.
Aku lebih pantas merasa kekurangan dalam banyak hal dan lebih tidak tahu diri karena harus tetap menyimpan kamu yang sudah jelas telah menyimpan orang lain di dalam hatimu. Tapi Tuhan meminta ku untuk mencintai orang lain bukan membenci, jadi akan kubiarkan fitrah ku sebagai manusia menetap. Aku hanya percaya Tuhan akan membaikkan kekurangan ku, memaafkan kesalahan ku, mencintai aku apa adanya, maka dengan begitu aku akan merasa sangat bahagia dengan mereka yang ku kasihi meski tidak ada dan tidak dengan kamu.
**Aku tidak tahu hatimu, tapi hati ku tetap memilihmu.