Assalamu’alaykum wr wb
Selamat malam sahabat, sudah cukup lama
kita tak bersua.
Tiba-tiba aku mau menuliskan tentang
“doa dan jalan terbaik”. Aku hanya berjalan sesuai dengan langkah yang ku
pilih, inSyaa Allah selalu diiringi ridho dan diniatkan hanya untuk-Nya.
Perjalanan singkatku memang tidak semulus jalan tol yang pada kenyataannya pun
selalu dihiasi dengan kemacetan, selalu dihadapkan dengan belokan dalam gelap,
pemandangan indah dengan hamparan sawah yang mulai menguning karena terendam
air hujan, atau bahkan darah yang berceceran di sepanjang jalan karena terlalu
banyak jiwa yang belum siap dilepas berjalan sendirian, dan masih banyak lagi.
Aku hanya merasa sedikit takut, terkejut, dan kadang sulit melupakan karena
terlalu berkesan meski pada akhirnya akan jadi catatan yang kapan pun dapat
muncul kepermukaan dan menghiasi alam pikiranku. Beberapa waktu lalu yang tidak
ada sepersekian detiknya jika aku sudah memulai hidup abadi ku di akhirat, aku
kehilangan beberapa sosok yang cukup bersejarah dalam hidup singkatku. Mereka
hilang bukan tanpa alasan karena aku selalu percaya bahwa semua yang terjadi
padaku dan di hadapanku adalah kententuan-Nya dan aku hanya perlu mengelola
hatiku untuk menerimanya. Meskipun sampai hari ini aku belum mendengar penjelasan
dan mengetahui alasan mereka yang memutuskan untuk menghilang dari sisiku,
entah untuk waktu yang lama atau sebentar. Aku teringat pada teori kehilangan
yang menyatakan bahwa rasa kehilangan akan menunjukkan banyak sisi yang
terabaikan bahkan terlupakan. Aku rasa itu benar, mereka seringkali mengatakan
hal baik saat berada di sisiku tapi aku terlanjur menjadi tuli dan buta sampai
tidak memahami kebaikan serta peringatan yang mereka tujukan untukku. Meski
begitu aku tidak menyesal terlalu lama, aku hanya berusaha memperbaiki
kesalahan yang telah aku lakukan pada mereka walau tidak ada mereka di sisiku lagi
dan mungkin saja mereka tidak akan pernah mengetahui usaha kecilku ini dan bisa
jadi mereka tidak sempat memaafkanku ketika aku harus kembali ke tempatku
berasal. Hal pertama yang baru aku ingat adalah ketidak pekaanku, aku ini tidak
pandai untuk menjadi peka pada orang-orang terdekatku, aku lebih asik peka
untuk jangkauan yang jauh dan bahkan belum tentu akan ku jangkau. Akibatnya
adalah kehabisan akal terjadi pada mereka yang berusaha membuatku peka akan
mereka sampai akhirnya memutuskan untuk hilang. Aku harus menerima dan
menanggungnya karena aku sendiri yang memilih untuk tidak peka pada mereka. Hal
kedua adalah rasa sabarku yang terlalu minim, aku ini seringkali mengalami
kegagalan untuk menjadi lebih sabar dalam menghadapi banyak hal, aku lebih asik
berlari untuk menghindari ketidaksabaranku. Akibatnya adalah kelelahan
mengejarku terjadi pada mereka yang peduli, mereka berusaha mengejarku berharap
aku akan berhenti dan berani menghadapinya, tapi yang terjadi tidak sesuai
dengan harapan dan mereka memutuskan untuk beristirahat sampai waktu yang tidak
dapat ditentukan. Aku harus kembali menerima dan menanggungnya karena ini
adalah pilihanku, berlari tanpa kaca spion sampai kehilangan teman yang
mengajakku berjalan bersama. Hal terakhir yang aku ingat adalah kepercayaan
pada diri yang berlebih, aku ini hampir kehilangan suara hati nuraniku karena
jarang sekali membiarkan hatiku bertindak atau memutuskan sesuatu, aku lebih
sering mengurungnya sampai ia tidak bisa menghirup udara segar karena tidak
ingin terlihat lemah dan menangisi kegagalan untuk bahagia. Akibatnya adalah
terlalu banyak memendam terjadi pada mereka yang masih berada di sisiku, aku
tidak pernah tahu seberapa banyak hal yang mereka kunci rapat agar tidak
diketahui olehku. Aku hanya harus menerima dan menanggungnya karena aku memilih
untuk menjadi pembohong kelas kakap di hadapan mereka dan menjadi tisu basah
yang pada akhirnya akan merasa kering di belakang mereka. Aku terlalu yakin
bahwa aku hebat dalam memainkan hatiku, tapi ternyata aku salah besar. Mereka
yang berada di sisiku terlalu kuat untuk membuatku tetap menjadi bodoh di
hadapan diriku sendiri, kekuatan mereka adalah doa. Sampai hari ini aku tidak
pernah mengetahui apa yang mereka panjatkan dalam doa tentang aku atau adakah
aku di dalamnya, aku tidak pernah benar-benar mengetahuinya. Namun semua yang
terjadi padaku hari ini adalah bentuk kekuatan yang tidak dapat didefinisikan
oleh sembarang tafsir dan perspektif. Semua ucapan baik adalah doa, mereka
terlalu sering mengucapkan hal baik dan itu adalah doa. Jalan terbaik yang ku
temukan adalah wujud nyata dari apa yang mereka ucapkan, aku harus berhenti
sebentar dan memperbaiki langkahku agar tetap berada di jalan yang sama dengan
mereka meski berjauhan. Mereka yang hilang dari sisiku adalah mereka yang
selalu berada di sisiku dan aku hanya akan terus menerima doa mereka serta
mencoba memilih jalan terbaik.
Bekasi, 15 Mei 2016 23:05 WIB