Sabtu, 19 November 2016

#21 Y.O

Assalamu'alaykum.

11 hari lalu, aku rasa berkurang lagi masa aktifku untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Aku hanya ingin berterimakasih untuk Sang Maha Pemilik kehidupan karena telah berbaik hati dengan penuh kasih menemani serta memberi warna hidupku. Aku hanya akan berusaha lebih keras dan bersunguh-sungguh agar mampu menjadi seperti yang DIA mau. Aamiin.

Harapan? Hmm, aku rasa banyak harapan terselip dalam doa yang seringkali ku sampaikan padaNYA. Spesifik harapan akan jadi sulit kupaparkan karena cukup banyak. Satu yang terpenting adalah semoga aku meraih kebahagiaan di dunia hingga akhirat dan diwafatkan dalam keadaan khusnulqotimah. Aamiin.

Terimakasih banyak atas ucapan dan doa yang telah kuterima. Aku yakin doa terbaik kalian akan dikabulkan juga untuk kalian. Alhamdulillah, aku cukup berbahagia karena kalian. Aku tersadarkan bahwa cinta kalian yang mencintai tanpa harap dicintai itu lebih sering kuabaikan atau bahkan kulupakan. Aku sangat berterimakasih pada kalian. Maaf untuk semua kekurangan dan kesalahanku.

21 kali ini aku diminta untuk mengikhlaskan banyak hal. Meski rasanya cukup menyakitkan, mengecewakan, menyedihkan, dan hal kacau lain yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan hal kurang menyenangkan kali ini jadi hadiah terbaik untukku langsung dari DIA. Aku hanya percaya bahwa ada maksud dari yang terjadi dan aku hanya perlu menerima serta berdoa agar ikhlas yang kulakukan sesuai dengan ketentuanNYA.

Terimakasih 21.

Selasa, 08 November 2016

Pas Cinta atau Cinta Pas?

Assalamu'alaykum.
Lama tidak bercerita bukan?
Uhh, sahabat-sahabatku bilang bahwa membahas "cinta" tidak akan pernah ada habisnya. Entah benar atau tidak yang mereka bilang, sepertinya belakangan atau sejak lama aku salah satu dari yang membenarkan apa yang mereka bilang. Kali ini tentang aku dan perjalanan cintaku. Semoga bermanfaat dan dipenuhi kejujuran di dalamnya. Aamiin

Aku dalam pandanganku hanya perempuan biasa yang cukup periang, agak kurang peka, cengeng, dan susah mencintai sekaligus menyudahi. Kalau bagaimana aku dalam pandangan sahabat dan teman-temanku sepertinya bisa ditanyakan langsung pada mereka. Kurang lebih sebagai perempuan biasa aku pastikan masih menyukai lawan jenis karena memang kodratku sebagai mahluk berperasaan. Permasalahannya sudah waktunya kah? Tepat sasarankah? Sesuai cara mencintainyakah? Nah lhoo ada yang bisa jawab?

Pertama, sebagai manusia yang masih diberi waktu untuk sendiri alias tidak berpasangan pasti ada bagian dalam hatiku yang sengaja Tuhan biarkan kosong untuk kemudian diisi oleh semua tentang "kamu". Persoalan satu ini, aku bukan termasuk yang rinci untuk menyusun daftar kriteria lelaki idaman, meski beberapa kali ikut kajian pranikah sebagian Ustadz dan Ustadzah menyarankan untuk membuatnya. Jadi, hal utama daripada yang paling utama menurutku adalah agama. Bagaimana bisa aku yang ilmu agamanya pas-pasan memilih lelaki yang sama denganku? Jelas sisi perfeksionisku lebih memilih si dia yang menurutku agamanya lebih baik dari aku, dengan harapan klasik bisa dibimbing dan berjalan bersama menuju syurgaNYA. Itu si aku beberapa bulan lalu.

Kedua, aku berada di dalam lingkungan yang biasa saja. Maksudku biasa saja adalah tidak sepenuhnya bernuansa islami, segala macam jenis manusia lain dengan keyakinan masing-masing berada tepat di sekitarku. Lantas apa hubungannya dengan cinta? Jelas ada, mereka menjadi salah satu alasan cara yang ku gunakan untuk mencintai. Apalagi, si aku yang periang dan cenderung sangat terbuka ini pasti lebih mudah berbagi cerita yang umum atau biasa saja. Cinta untuk lawan jenis termasuk hal biasa saja bukan privasi menurutku, jadi kalau aku merasa senang, sedih, naksir, suka, mungkin cinta aku akan lebih senang menceritakannya tentu dengan orang-orang terpilih dan terkasih. Kali ini aku katakan begitulah si aku beberapa bulan lalu.

Ketiga, aku sungkan berteman dengan lawan jenis. Urusan satu ini aku rasa karena belajar mengantarkanku. Aku tetap punya teman laki-laki karena sebagian besar kegiatanku di luar kampus bercampur dengan lawan jenis, teman baik laki-laki inSyaa Allah bisa kuhitung dengan jari sekitar 3-5 orang. Itu saja sudah repot mengurusnya, padahal kata orang lebih asik berteman dengan laki-laki karena ga repot. Jadi, pada intinya aku jarang melihat ke arah laki-laki atau tahu jenis-jenis mereka ada yang seperti apa saja. Kecuali memdengar cerita seikhlasnya yang orang lain bagi denganku. Semoga ini adalah hal baik dan sesuai dengan yang Tuhan mau. Ini aku sampai hari ini sejak tiga tahun lalu.

Keempat, aku sulit suka dengan orang (*lawan jenis). Kali ini aku akan menceritakan sedikit, selama SMP zamannya jadi ABG aku cuma sempat suka dengan satu orang teman satu sokelah sampai aku lulus SMP. Berlanjut ke SMA hal itu terulang lagi. Sampai kuliah...? Aku yakin masih sama dan terulang lagi. Entah apa yang salah dari mata, pikiran, dan hatiku karena sampai urusan enteng seperti ini saja aku bisa selebay ini. Kalau aku mau rasanya aku bisa naksir atau mengalihkan rasa tertarik ku pada beberapa laki-laki tapi sepertinya aku tidak mau. Itu aku beberapa bulan lalu, masih sama, cuma kamu.

Keempat plot penjelasan singkat dan mungking kurang jelas di atas aku harap sudah dapat memberi gambaran ke arah mana aku akan melangkahkan jemariku di halaman ini. Sepertinya, inSyaa Allah kalau aku tidak salah ingat, aku pernah membahas urusan "cinta" dengan versi yang berbeda dari yang kutuliskan sekarang. InSyaa Allah arah berakhirnya tulisan ini masih sama kok dengan sebagian tulisanku lainnya.

Kesimpulan dari pertanyaan dan penjelasanku mungkin aku akan coba jawab dengan caraku.

Pertama, urusan waktu itu hal paling termisteri dari segala macam misteri yang tersedia di bioskop-bioskop terdekat. Coba kita ingat, adakah dari kita yang sebelumnya dengan sangat rinci membayangkan hari ini akan terjadi hal yang sama, sesusai, pas, tepat sasaran, dan sesempurnanya bayangan yang kita coba buat di buku agenda harian? Masyaa Allah kalau ada yang bisa melakukannya sesempurna itu. InSyaa Allah banyak dari kita yang ikhtiarnya maksimal jadi agenda harian punya nilai manfaat. Aamiin. Tapi aku rasa untuk detailnya kita lapar di menit kesekian setelah target agenda kesekian atau bertemu si a-z di jam kesekian sebelum menuju agenda kesekian sulit kita bayangkan atau bahkan tidak muncul dalam benak kita bukan? Itu yang kumaksud dengan waktu adalah misteri. Hebatnya Allah ta'ala dengan sebaik-baik aturan dan ketetapanNYA telah lebih dulu menuliskan surat cinta dalam Al-Qur'an surat Ali Imron ayat 14 berisikan tentang bagaimana Allah menjadikan indah pandangan kita hampir disepanjang waktu selama hembusan nafas masih jadi nikmat terindah dariNYA agar bahagia di dunia sekaligus sadar bahwa kembali ke sisiNYA adalah keindahan yang tidak ternilai. Ayat tersebut menyadarkanku bahwa fitrah untuk merasa kagum dan cinta dengan mahluk ciptaanNYA termasuk lawan jenis.

Kedua, urusan tepat sasaran atau mungkin meleset dikit itu salah satu hal yang terkesan ringan tapi berat nyatanya. Coba deh kita bayangin kalau kita disuruh pilih bawa satu plastik yang isinya batu dan satu lagi isinya kapas, pasti kita pilih yang berisikan kapas bukan? Nah kalau sudah tahu gitu kam enak, masalahnya kali ini mata kita ditutup dan hanya punya kesempatan memilih sekali kemudian harus menentengnya dari bundaran HI sampai Monas. Kebayangkan kemungkinan kalau kita pas milih kapas bahagia deh tuh, kalau meleset? Nangis dan pegel-pegel atau pingsan bisa jadi kita. Kali ini Allah lebih dulu menyampaikan di dalam surat cintaNYA, Al Qur'an surat Ar-Ruum ayat 21 berisikan tentang telah Allah ciptakan isteri/suami agar kita merasa tenteram kepadaNYA dan dijadikan pula rasa kasih sayang diantara keduanya sebagai tanda kebesaranNYA bagi kaum yang berpikir. Jelas sekali Allah lebih dulu mencintai kita sebelum kita bisa kenal sama cinta kepada mahlukNYA. Terus kita tahu tepat atau tidaknya dari mana? Dari rasa kasih sayang yang muncul kemudian setelah taat dan berada dalam koridorNYA menjadi pilihan menjalani kesendirian yang bersifat sementara. Jadi, kalau pacaran atau kayak aku naksir berlebihan berani bilang cinta-cintaan berarti kita masih menutup mata dan memilih secara acak tanpa kepastian. Kalau mau tepat sasaran ya itu si dia yang menjaga iman untuk dan karena DIA kemudian datang untuk menghalalkan penuh kemapanan, memunculkan kita dan dimunculkan tepat dihadapan kita lewat malam-malam istikhoroh dan doa-doa terbaik kita. InSyaa Allah bisa kita pastikan dalam lillahita'ala si dia adalah jodoh kita yang tepat sasaran.

Ketiga, kesesuaian cara kita menanti cinta, dicintai dan mencintai ini adalah proses belajar yang kudu musti banget diseriusin biar tidak melewati zona batas aman. Ayat pertama yang Allah tuliskan dalam surat cintaNYA, surat Ali Imron ayat 31 berisikan tentang kewajiban kita mengikuti jejak Rosululloh dalam mencintai Allah agar berlimpah kasih dan pegampunan hidup kita. Ayat kedua, surat Adz Dzariyaat ayat 49 berisikan tentang ketetapan Allah menjadikan kita berpasang-pasangan agar kita mengingat kebesaranNYA. Kedua ayat ini jelas sekali memastikan langkah dan cara kita harus sesuai ketentuan serta ketetapan yang berlaku di dalam ajaran agamaNYA. Coba kita bayangkan kalau lolos uji pembuatan sim C tapi yang dudapat lisensi sim A, ibarat kata kita belajarnya nyetir motor tapi disuruh bawa mobil. Ya resikonya kalau ga mobil rusak, nyawa terancam, dan susah menentukan kebaikan di dalamnya bukan? Sama aja kalau kita maunya dapat cinta yang tepat waktu dan tepat sasaran tapi jalan yang kita pilih tidak sesuai aturan yang berlaku dalam perjalan hidup di dunia? Mungkin kacaunya sama kayak ibarat sim tadi bukan? Jadi, cukup ikuti jalur yang telah ditetapkan InSyaa Allah disampaikan tepat waktu dan sasaran kok.

Alasan terbaik yang bisa kutuliskan kenapa ada kata-kata 'itu aku beberapa waktu lalu' karena aku baru saja menggeser sedikit langkahku dan berusaha menyadarkan diriku bahwa kesenangan sebentar yang Allah pinjamkan diterima dengan cara tidak baik jelas akan terasa sakitnya. Jadi, Bismillah mengantarkan aku pada titik terbaik yang telah Allah tetapkan dalam perjalanan hidupku yang sebentar di dunia ini. Salah dan kesalahan berulang selama ini tentang rasa cinta atau sejenisnya dengan lawan jenis adalah pelajaran termahal sekaligus pengantar terbaik untuk ku dalam usaha menemukan pintu-pintu cahaya yang Allah janjikan pada setiap mahlukNYA yang berusaha mendekatiNYA. Satu langkah kecilku bernilai untuk setiap doa serta harap mendapati ribuan langkah Allah mendekati dan mendekapku lebih erat lagi agar baikku dalam pandanganNYA serta seluruh penghuni alam semesta. ^^

Bagiamana? Udah jujur belum aku? InSyaa Allah teman, ini hal terbaik yang bisa kubagi. Aamiin

Alhamdulillah, terimakasih telah bersedia singgah dan membaca coretan panjang kali ini tentang "Pas Cinta atau Cinta Pas?". Tepat pada #amandemenhati ke-65.

Wassalamu'alaykum.