Sore itu aku berjalan sebentar dengan dia yang ku kasihi. Sebentar bersama hari itu menyadarkan seperti apa aku sebenarnya. Aku terlanjur menjadi pribadi yang serba apa adanya, penuh keterbukaan, terkesan berantakan, dan selalu mampu membuat suasana bahagia. Jelas sudah sejauh apa perbedaan antara kamu dan aku. Kamu hidup dalam banyak batasan, aturan mengikat, dan tidak suka kegaduhan yang ku buat untuk membahagiakan orang lain.
Sepuluh menit lalu, sebelum aku berpisah dengan dia aku asih menemukan langit membiru dengan awan tipis dan cahaya matahari. Tapi, sekarang langit menghitam, awan mulai berkumpul menebal, dan cahaya matahari tersimpan rapi di balik awan tebal dan langit menjadi benar-benar hitam. Seburuk itu ternyata usaha melepaskan kamu yang terjaga selama banyak hitungan tahun di dalam hati dan doa ku.
Aku berdiri di halte sore itu menanti bus antar kota yang siap mengantarkan ku ke tempat tujuan. Niat ku kali ini lebih lurus dibanding niat-niat ku sebelumnya. Aku tidak lagi pergi untuk menyembunyikan kamu di balik semua kesibukkan yang ku buat. Tapi aku telah memilih untuk membiarkan kamu tetap di tempatmu dan aku melakukan kesibukan ku untuk menggapai banyak cita-cita yang telah kubuat. Aku membiarkanmu menetap itu seperti gedung-gedung tinggi yang sering ku lihat mereka tetap berdiri gagah disana dan perlahan gedung-gedung besar dan megah lain menutupinya. Benar, ini perihal "waktu" yang sedang coba ku bahas.
Aku lebih pantas merasa kekurangan dalam banyak hal dan lebih tidak tahu diri karena harus tetap menyimpan kamu yang sudah jelas telah menyimpan orang lain di dalam hatimu. Tapi Tuhan meminta ku untuk mencintai orang lain bukan membenci, jadi akan kubiarkan fitrah ku sebagai manusia menetap. Aku hanya percaya Tuhan akan membaikkan kekurangan ku, memaafkan kesalahan ku, mencintai aku apa adanya, maka dengan begitu aku akan merasa sangat bahagia dengan mereka yang ku kasihi meski tidak ada dan tidak dengan kamu.
**Aku tidak tahu hatimu, tapi hati ku tetap memilihmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar