Sabtu pagi ini, sisa
hujan masih nyata dalam pandangan, kutemukan daun yang basah, bau khas habis
turun hujan masuk bersama dengan udara yang ku hirup, keduanya begitu menenangkan
dan kuharap bisa menemukan mereka di setiap pagi. Aku tidak cukup banyak
memiliki agenda untuk dilakukan karena sebagian besar agenda ku hari ini untuk
memanjakan diri dan mngistirahatkan pikiran ku dari rutinitas hari-hari
biasanya. Kemudian suasana pagi ini mengantarkan ku untuk tenggelam sebentar
dalam gelap dan sunyi di kamar dengan sisa hujan yang kutemui.
Aku
berjalan perlahan di dalam pikiran ku, berharap bisa menemukan sesuatu yang
cukup lama kusimpan rapi dalam laci hati ku. Aku ingin menyapa sebentar rindu ku
untuk dia yang kubiarkan berdebu dalam laci yang ku kunci rapat untuk waktu
yang cukup lama. Laci itu berisikan dia yang selama ini kubiarkan menetap dan
tidak tergantikan meski hanya untuk hitungan persekian detik dengan sosok lain.
Entah dia akan berbahagia atau menghilang seperti debu kah ketika dia
mengetahui apa yang ku lakukan untuknya. Aku memutuskan untuk menyimpannya
bukan tanpa alasan dan usaha ku menemukan alasan terbaik melakukan hal ini
masih belum sempurna.
Aku
berhasil menemukan dia tepat di laci ketujuh yang ku miliki di dalam hati ku.
Aku mengajaknya keluar dan duduk berhadapan agar aku bisa mengingat wajahnya
dengan baik dan coba menemukan rindu yang sudah kusimpan cukup lama. Aku di dalam pikiran ku tetap tidak pandai
untuk bersikap ramah padanya, aku hanya bisa terdiam dan sesekali tersenyum
seakan aku tahu bahwa dia dalam keadaan baik dan sedang berbahagia. Aku di dalam
pikiran ku coba berimajinasi kalau hal ini benar menjadi sebuah kenyataaan akan
seperti apa jantung ku bekerja dan berusaha untuk berdetak normal agar aku bisa
bernafas dan tetap hidup ketika berhadapan dengannya. Aku masih asik
memandanginya di dalam pikiran terbaik ku pagi ini.
Aku
mengajak dia berjalan sebentar menyusuri jalan panjang yang pernah kami lalui
bersama, itu adalah jalan waktu. Aku mengenal dia sejak enam tahun lalu dan
keadaannya masih sama aku hanya membiarkan dia diam di dalam laci hati ku dan
memendam sedalam mungkin rindu yang aku sendiri belum ingin dia mengetahuinya.
Aku tidak sebaik mereka yang pandai memendam dan menyimpan rindu. Beberapa kali
setiap sedih dan hujan datang aku mengingatnya kemudian hanya bisa bicara
dengan hati ku semoga dia dalam keadaan baik dan kadang sedikit berharap akan
ada waktu untuk dia bisa menemani ku ketika sedih dan turun hujan. Sepanjang
perjalanan di dalam pikiran ku, aku coba menunjukkan kepada dia setiap bagian
cerita sehari-hari ku yang ku tinggalkan di sisi-sisi jalan waktu. Hal itu ku
lakukan seakan-akan dia yang ku simpan dalam laci dapat mendengar setiap cerita
ku. Aku berjalan tepat di belakang dia dan coba menjelaskan seperti pemandu
wisata tanpa bicara sepanjang perjalanan kami. Aku berjalan dengannya sampai
pada penghujung jalan yang berkabut dan tidak terlihat apa pun di dalamnya.
Aku
sudah berada di depan pintu keluar dari pikiran ku dan harus membiarkan dia
kembali ke dalam laci hati ku. Pertemuan sebentar aku dengan dia berkahir di
penghujung jalan berkabut yang entah akan berhenti sampai situ atau akan
berlanjut sampai dia benar-benar pergi dari atau menetap di hati ku untuk
menempati hati yang dia pilih. Aku hanya akan tetap seperti ini untuk waktu
yang aku sendiri tidak benar-benar
mengetahui kapan bisa ku akhiri. Aku kembali membuka mata dan membiarkan sunyi
perlahan berubah menjadi alunan suara musik klasik dan kicauan burung yang
hinggap di dekat jendela kamar ku. Aku temukan setitik air mata di pelipis mata
ku tanda aku benar merindukan dia dan diam menjadi cara terbaik ku untuk
menyimpannya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar