Minggu, 25 September 2016

Rindu Tak Berujung



 Sabtu pagi ini, sisa hujan masih nyata dalam pandangan, kutemukan daun yang basah, bau khas habis turun hujan masuk bersama dengan udara yang ku hirup, keduanya begitu menenangkan dan kuharap bisa menemukan mereka di setiap pagi. Aku tidak cukup banyak memiliki agenda untuk dilakukan karena sebagian besar agenda ku hari ini untuk memanjakan diri dan mngistirahatkan pikiran ku dari rutinitas hari-hari biasanya. Kemudian suasana pagi ini mengantarkan ku untuk tenggelam sebentar dalam gelap dan sunyi di kamar dengan sisa hujan yang kutemui.
            Aku berjalan perlahan di dalam pikiran ku, berharap bisa menemukan sesuatu yang cukup lama kusimpan rapi dalam laci hati ku. Aku ingin menyapa sebentar rindu ku untuk dia yang kubiarkan berdebu dalam laci yang ku kunci rapat untuk waktu yang cukup lama. Laci itu berisikan dia yang selama ini kubiarkan menetap dan tidak tergantikan meski hanya untuk hitungan persekian detik dengan sosok lain. Entah dia akan berbahagia atau menghilang seperti debu kah ketika dia mengetahui apa yang ku lakukan untuknya. Aku memutuskan untuk menyimpannya bukan tanpa alasan dan usaha ku menemukan alasan terbaik melakukan hal ini masih belum sempurna.
            Aku berhasil menemukan dia tepat di laci ketujuh yang ku miliki di dalam hati ku. Aku mengajaknya keluar dan duduk berhadapan agar aku bisa mengingat wajahnya dengan baik dan coba menemukan rindu yang sudah kusimpan cukup lama.  Aku di dalam pikiran ku tetap tidak pandai untuk bersikap ramah padanya, aku hanya bisa terdiam dan sesekali tersenyum seakan aku tahu bahwa dia dalam keadaan baik dan sedang berbahagia. Aku di dalam pikiran ku coba berimajinasi kalau hal ini benar menjadi sebuah kenyataaan akan seperti apa jantung ku bekerja dan berusaha untuk berdetak normal agar aku bisa bernafas dan tetap hidup ketika berhadapan dengannya. Aku masih asik memandanginya di dalam pikiran terbaik ku pagi ini.
            Aku mengajak dia berjalan sebentar menyusuri jalan panjang yang pernah kami lalui bersama, itu adalah jalan waktu. Aku mengenal dia sejak enam tahun lalu dan keadaannya masih sama aku hanya membiarkan dia diam di dalam laci hati ku dan memendam sedalam mungkin rindu yang aku sendiri belum ingin dia mengetahuinya. Aku tidak sebaik mereka yang pandai memendam dan menyimpan rindu. Beberapa kali setiap sedih dan hujan datang aku mengingatnya kemudian hanya bisa bicara dengan hati ku semoga dia dalam keadaan baik dan kadang sedikit berharap akan ada waktu untuk dia bisa menemani ku ketika sedih dan turun hujan. Sepanjang perjalanan di dalam pikiran ku, aku coba menunjukkan kepada dia setiap bagian cerita sehari-hari ku yang ku tinggalkan di sisi-sisi jalan waktu. Hal itu ku lakukan seakan-akan dia yang ku simpan dalam laci dapat mendengar setiap cerita ku. Aku berjalan tepat di belakang dia dan coba menjelaskan seperti pemandu wisata tanpa bicara sepanjang perjalanan kami. Aku berjalan dengannya sampai pada penghujung jalan yang berkabut dan tidak terlihat apa pun di dalamnya.
            Aku sudah berada di depan pintu keluar dari pikiran ku dan harus membiarkan dia kembali ke dalam laci hati ku. Pertemuan sebentar aku dengan dia berkahir di penghujung jalan berkabut yang entah akan berhenti sampai situ atau akan berlanjut sampai dia benar-benar pergi dari atau menetap di hati ku untuk menempati hati yang dia pilih. Aku hanya akan tetap seperti ini untuk waktu yang aku sendiri  tidak benar-benar mengetahui kapan bisa ku akhiri. Aku kembali membuka mata dan membiarkan sunyi perlahan berubah menjadi alunan suara musik klasik dan kicauan burung yang hinggap di dekat jendela kamar ku. Aku temukan setitik air mata di pelipis mata ku tanda aku benar merindukan dia dan diam menjadi cara terbaik ku untuk menyimpannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar