Rabu, 09 Juli 2014

Tulip :)


Assalamu’alaykum wr.wb
Heidy mau coba ceritakan tentang apa yang pernah dialami, mungkin saat kalian membaca tulisan ini ada kesamaan dalam cara pandang atau kejadian.
Silahkan menyimak,

                                                           Anakku, Maaf Ibu Berbeda

            Hari itu aku sampai di sekolah terlalu pagi, karena biasanya aku menjadi ratu “telat”. Saat itu aku duduk di kelas VIII salah satu SMP Negeri di Bekasi. Aku suka mengamati dan menganalisis kejadian yang terjadi di sekitarku, kemudian aku simpan dalam memoriku berharap bisa jadi rambu-rambu dalam tindakanku. Duduk di pelataran kelas sambil menikmati dinginnya udara pagi kala itu, tak sengaja mataku melihat sesosok perempuan yang berdiri tepat di ujung lorong dekat pintu masuk sekolah. Setelah kupertegas sosok itu adalah seorang ibu yang cukup sering kulihat di sekolahku. Aku berpikir dia sama seperti ibu pada umumnya, berada di sekolah karena mengantarkan anaknya. Namun kali ini berbeda, setelah aku mendengar cerita dari salah satu sahabatku mengenai siapa sebenarnya ibu itu.
            Bel tanda mulai pelajaranpun berbunyi, seluruh siswa sudah masuk ke dalam kelas, kecuali mereka yang datang terlambat. Tradisi yang cukup berkesan dan selalu ku kenang sebagai langganan “hukuman terlambat”, 100 sampah untuk telat pertama dan bertambah 50 untuk telat berikutnya. Beruntungnya hari itu aku tidak terlambat. Tepat pukul 11.30 bel istirahat berbunyi, aku dan teman-teman segera keluar menuju kantin. Sampai di kantin temanku melanjutkan ceritanya tentang siapa ibu itu, rasa antusiasku untuk tahu sudah memuncak sampai makanpun tak enak. Temanku bilang kalau anaknya memang sekolah di sini, dia adik kelas ku bahkan ternyata dulu aku yang jadi PJ MOSnya. Disebutkan oleh temanku nama anak itu adalah Tulip,  ia tinggal di kontrakan dekat dengan rumahnya. Tulip dikenal cukup galak dengan ibunya, pernah terjadi saat dia dan ibunya belanja di warung temanku kemudian dia memarahi ibunya dikarenakan tidak membelikan yang dia mau. Cerita singkat itu membuat pikiranku terfokus untuk mengetahui lebih dalam lagi.
            Keesokan harinya, disaat istirahat tiba aku melihat segerombolan anak laki-laki sedang tertawa sambil mengolok-olok seseorang. Sampai ketika aku melewati mereka kutemukan ibu Tulip sedang tertawa dan bahagia yang tak “biasa”, saat itu aku mulai mengerti dia tidak seperti ibu pada umumnya. Dalam perjalanan menuju koperasi sekolahku, aku berharap semoga saat pulang nanti ibu Tulip masih ada di sekolah, karena biasanya beliau hanya ada di sekolah sampai jam istirahat saja. Beruntungnya aku hari itu, beliau masih ada, tengah duduk di depan pos satpam sekolahku. Segera aku berlari menghampiri babe(satpam sekolah) untuk menitipkan tas di ruangannya, kemudian menghampiri ibu Tulip. Awalnya aku agak takut untuk memulai pembicaraan, pakai rumus kepo ekstrim akhirnya berani juga, begini dialogku dengan beliau.
Aku                : “Assalamu’alaykum, ibu nunggu anaknya?”
Ibu Tulip       : “Iya, kamu temennya anak saya ya? Tulip.”
Aku                : “Oh bukan ibu, saya kakak kelasnya.”
Ibu Tulip       : “Gak galakkan sama Tulip? Dia anak baik kok.”
Aku                : “Insyaa Allah enggak kok bu, kenapa ibu bicara begitu.”
Ibu Tulip       : “Banyak orang jahat, banyak yang suka sakitin Tulip. Saya marah, benci, sakit. Saya ga mau Tulip nangis.”
Aku                : (menghela nafas dan dada terasa sesak) “Subhanallah, iya bu di sini Tulip ga ada yang menyakiti kok insya Allah.”
Ibu Tulip       : “Tulip selalu marah-marah kalau saya kesini, dia bilang dia malu kalau saya kesini. Saya cuma mau jagain anak saya kok.”
Aku                : “Iya bu, saya ngerti. Yasudah ya bu, saya pamit dulu mau ada rapat.”
Ibu Tulip       : “Udah kerja ya? Yaudah si Tulip mana ya?”
Aku                : “Tidak bu, eskul. Tunggu saja bu nanti kalau saya ketemu saya bilang ada ibu di sini ke Tulip.”
Ibu Tulip       : “Ga usah ga usah, makasih. Saya pulang duluan saja, biar Tulip ga malu.”

Kalian tahu ga? Aku ga bisa detail jabarin yang sebenarnya. Kalau boleh jujur ingat kejadian ini buat aku ingin terus menangis. Bicara dengan beliau tak semulus yang ku tuliskan. Saat kami bicara pandangannya tak fokus, senyum atau kadang tertawa sendiri, seketika mukanya serius, nadanya naik turun, ya layaknya orang yang ada di Rumah Sakit Jiwa. Tapi aku tahu beliau berbeda, dia diberi kesadaran penuh untuk menyayangi anak-anaknya, termasuk Tulip. Namun kalian harus tahu, setelah pembicaraan kami ini sempat beberapa kali aku melihat dan mendengar langsung bagiamana Tulip memaki dan memarahi ibunya. Beliau tidak menunjukan senyumnya saat Tulip lakukan itu, namun beliau juga tidak menangis. Semenjak saat itu aku cukup sering mengajak beliau berbicara disaat luang.
            Aku tidak menyalahkan sikap Tulip, saat itu aku juga tidak menyalahkan ibunya. Mungkin jika aku dihadapkan dengan posisi sebagai Tulip akan melakukan hal yang sama. Tulip hidup dalam keterbatasan ekonomi, ibu yang memiliki kesadaran tak sepenuhnya, lingkungan yang mengasingkan dirinya dan keluarganya. Pelajaran berharga yang dapat ku ambil, sungguh benar “kasih ibu sepanjang masa”. Sempat aku mengatakan pada Tulip bahwa yang dia lakukan terhadap ibunya sama sekali tidak memiliki pembenaran, justru jelas dilarang dalam Al-Qur’an. Ada satu kejadian yang cukup besar dampaknya bagi Tulip, mungkin dia sangat merasa malu sehingga tiap kali ibunya datang kesekolah atau dirumah dia tidak memarahi ibunya lagi, namun dia hanya diam kemudian pergi. Kata-kata ibu Tulip yang dinyatakan kurang sehat jiwanya selalu teringat dipikiranku “Saya tahu banyak orang yang benci saya, saya tahu saya ga sama kayak yang lain, tapi saya tahu juga kalau Tulip dan adiknya adalah anak saya. Saya nangis tiap kali ada orang yang jahatin anak saya.” *tears*. Saat ini Tulip sudah selesai sekolah di salah satu SMK di Bekasi, aku masih sering bertemu ibunya saat pulang kuliah namun hanya menyapa lewat senyum. Entah beliau mengingatku atau tidak, namun aku ingin berterimakasih dan sangat bangga dengan kegigihannya sebagai seorang ibu yang tak biasa.
Semoga Tulip dan keluarganya selalu dalam lindungan Allah SWT, dan semakin baik kehidupan mereka setiap harinya. Aamiin Allahumma aamiin

Sabtu, 05 Juli 2014

Marhaban Ya Ramadhan

Assalamu'alaykum wr.wb
Hola saudariku :) Lama tak bersua..
Kangen ngepost di sini, rasanya banyak banget yang mau diceritain.
Apa kabar puasa kalian kawan? Semoga semakin baik ya puasanya semakin hari. Aamiin Allahumma aamiin :)
Sekian intermezonya ya kawan, hehe insyaa Allah aku akan kembali nanti malam dengan satu cerita seru. :) can' wait fot tonight.. :)