Assalamu’alaykum
wr.wb
Heidy
mau coba ceritakan tentang apa yang pernah dialami, mungkin saat kalian membaca tulisan
ini ada kesamaan dalam cara pandang atau kejadian.
Silahkan
menyimak,
Anakku,
Maaf Ibu Berbeda
Hari itu aku sampai di sekolah
terlalu pagi, karena biasanya aku menjadi ratu “telat”. Saat itu aku duduk di
kelas VIII salah satu SMP Negeri di Bekasi. Aku suka mengamati dan menganalisis
kejadian yang terjadi di sekitarku, kemudian aku simpan dalam memoriku berharap
bisa jadi rambu-rambu dalam tindakanku. Duduk di pelataran kelas sambil
menikmati dinginnya udara pagi kala itu, tak sengaja mataku melihat sesosok
perempuan yang berdiri tepat di ujung lorong dekat pintu masuk sekolah. Setelah
kupertegas sosok itu adalah seorang ibu yang cukup sering kulihat di sekolahku.
Aku berpikir dia sama seperti ibu pada umumnya, berada di sekolah karena
mengantarkan anaknya. Namun kali ini berbeda, setelah aku mendengar cerita dari
salah satu sahabatku mengenai siapa sebenarnya ibu itu.
Bel tanda mulai pelajaranpun
berbunyi, seluruh siswa sudah masuk ke dalam kelas, kecuali mereka yang datang
terlambat. Tradisi yang cukup berkesan dan selalu ku kenang sebagai langganan “hukuman
terlambat”, 100 sampah untuk telat pertama dan bertambah 50 untuk telat
berikutnya. Beruntungnya hari itu aku tidak terlambat. Tepat pukul 11.30 bel
istirahat berbunyi, aku dan teman-teman segera keluar menuju kantin. Sampai di kantin
temanku melanjutkan ceritanya tentang siapa ibu itu, rasa antusiasku untuk tahu
sudah memuncak sampai makanpun tak enak. Temanku bilang kalau anaknya memang
sekolah di sini, dia adik kelas ku bahkan ternyata dulu aku yang jadi PJ
MOSnya. Disebutkan oleh temanku nama anak itu adalah Tulip, ia tinggal di kontrakan dekat dengan rumahnya.
Tulip dikenal cukup galak dengan ibunya, pernah terjadi saat dia dan ibunya
belanja di warung temanku kemudian dia memarahi ibunya dikarenakan tidak
membelikan yang dia mau. Cerita singkat itu membuat pikiranku terfokus untuk
mengetahui lebih dalam lagi.
Keesokan harinya, disaat istirahat
tiba aku melihat segerombolan anak laki-laki sedang tertawa sambil
mengolok-olok seseorang. Sampai ketika aku melewati mereka kutemukan ibu Tulip
sedang tertawa dan bahagia yang tak “biasa”, saat itu aku mulai mengerti dia
tidak seperti ibu pada umumnya. Dalam perjalanan menuju koperasi sekolahku, aku
berharap semoga saat pulang nanti ibu Tulip masih ada di sekolah, karena
biasanya beliau hanya ada di sekolah sampai jam istirahat saja. Beruntungnya aku
hari itu, beliau masih ada, tengah duduk di depan pos satpam sekolahku. Segera aku
berlari menghampiri babe(satpam sekolah) untuk menitipkan tas di ruangannya,
kemudian menghampiri ibu Tulip. Awalnya aku agak takut untuk memulai
pembicaraan, pakai rumus kepo ekstrim akhirnya berani juga, begini dialogku
dengan beliau.
Aku : “Assalamu’alaykum, ibu nunggu
anaknya?”
Ibu
Tulip : “Iya, kamu temennya anak
saya ya? Tulip.”
Aku :
“Oh bukan ibu, saya kakak kelasnya.”
Ibu
Tulip : “Gak galakkan sama Tulip? Dia
anak baik kok.”
Aku :
“Insyaa Allah enggak kok bu, kenapa ibu bicara begitu.”
Ibu
Tulip : “Banyak orang jahat, banyak
yang suka sakitin Tulip. Saya marah, benci, sakit. Saya ga mau Tulip nangis.”
Aku : (menghela nafas dan dada
terasa sesak) “Subhanallah, iya bu di sini Tulip ga ada yang menyakiti kok
insya Allah.”
Ibu
Tulip : “Tulip selalu marah-marah
kalau saya kesini, dia bilang dia malu kalau saya kesini. Saya cuma mau jagain
anak saya kok.”
Aku : “Iya bu, saya ngerti. Yasudah
ya bu, saya pamit dulu mau ada rapat.”
Ibu
Tulip : “Udah kerja ya? Yaudah si
Tulip mana ya?”
Aku : “Tidak bu, eskul. Tunggu saja
bu nanti kalau saya ketemu saya bilang ada ibu di sini ke Tulip.”
Ibu
Tulip : “Ga usah ga usah, makasih.
Saya pulang duluan saja, biar Tulip ga malu.”
Kalian tahu ga? Aku ga bisa detail
jabarin yang sebenarnya. Kalau boleh jujur ingat kejadian ini buat aku ingin
terus menangis. Bicara dengan beliau tak semulus yang ku tuliskan. Saat kami
bicara pandangannya tak fokus, senyum atau kadang tertawa sendiri, seketika
mukanya serius, nadanya naik turun, ya layaknya orang yang ada di Rumah Sakit
Jiwa. Tapi aku tahu beliau berbeda, dia diberi kesadaran penuh untuk menyayangi
anak-anaknya, termasuk Tulip. Namun kalian harus tahu, setelah pembicaraan kami
ini sempat beberapa kali aku melihat dan mendengar langsung bagiamana Tulip
memaki dan memarahi ibunya. Beliau tidak menunjukan senyumnya saat Tulip
lakukan itu, namun beliau juga tidak menangis. Semenjak saat itu aku cukup
sering mengajak beliau berbicara disaat luang.
Aku
tidak menyalahkan sikap Tulip, saat itu aku juga tidak menyalahkan ibunya.
Mungkin jika aku dihadapkan dengan posisi sebagai Tulip akan melakukan hal yang
sama. Tulip hidup dalam keterbatasan ekonomi, ibu yang memiliki kesadaran tak
sepenuhnya, lingkungan yang mengasingkan dirinya dan keluarganya. Pelajaran
berharga yang dapat ku ambil, sungguh benar “kasih ibu sepanjang masa”. Sempat
aku mengatakan pada Tulip bahwa yang dia lakukan terhadap ibunya sama sekali
tidak memiliki pembenaran, justru jelas dilarang dalam Al-Qur’an. Ada satu
kejadian yang cukup besar dampaknya bagi Tulip, mungkin dia sangat merasa malu
sehingga tiap kali ibunya datang kesekolah atau dirumah dia tidak memarahi
ibunya lagi, namun dia hanya diam kemudian pergi. Kata-kata ibu Tulip yang
dinyatakan kurang sehat jiwanya selalu teringat dipikiranku “Saya tahu banyak
orang yang benci saya, saya tahu saya ga sama kayak yang lain, tapi saya tahu
juga kalau Tulip dan adiknya adalah anak saya. Saya nangis tiap kali ada orang
yang jahatin anak saya.” *tears*. Saat ini Tulip sudah selesai sekolah di salah
satu SMK di Bekasi, aku masih sering bertemu ibunya saat pulang kuliah namun
hanya menyapa lewat senyum. Entah beliau mengingatku atau tidak, namun aku
ingin berterimakasih dan sangat bangga dengan kegigihannya sebagai seorang ibu
yang tak biasa.
Semoga Tulip dan keluarganya selalu
dalam lindungan Allah SWT, dan semakin baik kehidupan mereka setiap harinya. Aamiin Allahumma aamiin