Rabu, 28 September 2016

Digigit Semut

Digigit Semut

Aku duduk di atas rumput tepat di bibir danau ketika petang baru sebagian datang menyapa

Tanganku mulai menyapa rumput dan beberapa kali memetik mereka tanda aku telah mengakhiri masa hidup mereka

Kali ini aku biarkan angin yang bertiup cukup kencang menggerakan penutup kepalaku dan rasanya menjadi lebih damai

Aku hanya ingin membiarkan angin membawa pergi kata dan kejadian yang ku benci dari dalam pikiran serta hatiku

Aku terlalu bosan mendengar umpatan yang terucap bukan dari hati dan mengatas namakan hati, terlalu munafik

Aku juga terlalu benci mendengar pujian dan rayuan tapi hanya dari rongga mulut yang berisikan lidah tak bertulang, terlalu pandai berdusta

Berkali-kali aku katakan tanpa suara pada mereka untuk diam dan berhenti mengucapkan hal-hal yang hanya membuat hati ku berantakan

Kalau saja berteriak di hadapan danau bisa buat mereka mendengar ingin ku pasti sudah ku lakukan sejak dulu

Sayang, danau tak bertelinga, angin hanya bersuara, dan rumput sesekali bergoyang kemudian pasrah dipetik atau terinjak

Aku sudah tak peduli lagi siapa yang benar dan salah, bahkan aku tak lagi mau peduli dengan keadaan hati ku saat ini

Ahh angin, kata mu Tuhan Maha Baik dan Maha Pengasih?

Tapi kenapa DIA biarkan semut di balik rumput-rumput ini menggigit tanganku yang sedang menyapa mereka?

Kamu tahu angin, sakitnya gigitan mereka buatku tak bisa berteriak, air mata ku mengalir dengan deras, dan meninggalkan bekas yang perlahan memerah di tanganku

Angin, sampaikan pada Tuhan untuk keringkan air mata ku petang ini dan biarkan aku untuk selalu membagikan senyum sederhana ku sampai habis waktu ku di dunia

Aku hanya perlu pertolonganNYA untuk selalu membahagiakan dan membaikan hati mereka yang memilih dan dipilih untuk ada di sisi ku

Karena digigit semut itu sakit dan hidup terlalu baik untuk ditangisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar