Aku sama seperti pemuda pemudi lainnya, banyak sekali mimpi yang aku gantungkan di langit setinggi-tingginya.
Aku sama seperti pemuda pemudi lainnya, ingin mencicipi semua rasa yang yang Allah Azza wa Jalla teteskan di dunia fana ini.
Aku mempunyai banyak cita-cita tinggi, sama seperti yang lainnya.
Aku ingin jadi ahli psikologi di perusahaan profit besar di Indonesia, dan menjadi motivator bagi orang banyak. Aku ingin bersekolah di luar negeri,
tepatnya di benu eropa atau di negara-negara arab.
Aku ingin mengikuti berbagai ajang kepemudaan di nasional maupun internasional.
Aku ingin serba bisa, pintar di semua bidang, alias multitalented.
Aku ingin membuat novel di berbagai genre, menjadi penulis, dan punya usaha kuliner.
Aku ingin keliling daerah wisata di Indonesia, aku ingin keliling dunia!
Aku ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku dari berbagai provinsi dan latar belakang.
Oh! Sungguh! Aku ingin menikmati masa mudaku!
TAPI
Tiap aku berpikir jauh.
Aku teringat, seorang muslimah kodratnya adalah mengurusi rumah dan beraksi di balik layar.
Aku teringat bahwa, hal-hal tadi tidak akan menjadi cerita manis di hari tuaku kelak.
Aku teringat pepatah "jangan mati-matian mengejar apa yang tidak kamu bawa mati".
Oh! Wahai!
Aku juga jadi teringat bahwa, sejatinya hidup ini adalah untuk menjadi orang yang
paling bermanfaat bagi sesamanya.
ADUH!
Aku harus bagaimana dong?
Sayang sekali kalau hal-hal tadi terlewatkan!
Masa mudaku mau dikemanakan?
Mau diapakan?
Aku merenung...
Eh, kok aku lupa?
"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (Q.S
Adz-Zariyat : 59).
Mahluk di muka bumi ini diciptakan untuk menyembah-Nya.
Seharusnya semua yang kulakukan adalah bentuk pengabdianku terhadap-Nya.
Aku lupa, seharusnya aku bersyukur.
Aku hidup di negeri mayoritas muslim yang aman dan tentram, serta penuh toleransi.
Aku dikelilingi mereka yang tulus menyayangi dan mencintaiku karena Allah.
Aku hidup sehat tanpa penyakit berarti.
Aku berada diantara orang-orang yang membimbing dan membantuku menuju Jannah-Mu.
Karena hanya kepada-Mu lah aku kembali. Sejauh-jauhnya, setinggi-tingginya aku
mengejar duniawi ini.
Karena sejatinya hidup hanyalah sepotong cerita singkat bagi mereka yang
bahagia, atau sepotong cerita panjang bagi mereka yang bersedih.
Aku ingin mati. Mati dan mati. Tanpa harus masuk surga atau neraka.
Tapi disinilah aku telah diberi anugerah atas hidup ini.
Apalagi yang kurang?
Yang mana kata Nabi saw., hanya dengan shalat 5 waktu, shadaqoh harian,
berpuasa, menjaga kehormatan diri dan taat pada suami (kelak), aku bisa
masuk Syurga dari pintu mana saja yang kusuka.
Apalagi yang kurang?
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?
Lantas apa yang bisa kulakukan untuk mengisi masa mudaku agar bermanfaat, seru,
dan menjadi cerita manis di hari tuaku nanti?
Aku sama seperti pemuda pemudi lainnya, ingin mencicipi semua rasa yang yang Allah Azza wa Jalla teteskan di dunia fana ini.
Aku mempunyai banyak cita-cita tinggi, sama seperti yang lainnya.
Aku ingin jadi ahli psikologi di perusahaan profit besar di Indonesia, dan menjadi motivator bagi orang banyak. Aku ingin bersekolah di luar negeri,
tepatnya di benu eropa atau di negara-negara arab.
Aku ingin mengikuti berbagai ajang kepemudaan di nasional maupun internasional.
Aku ingin serba bisa, pintar di semua bidang, alias multitalented.
Aku ingin membuat novel di berbagai genre, menjadi penulis, dan punya usaha kuliner.
Aku ingin keliling daerah wisata di Indonesia, aku ingin keliling dunia!
Aku ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku dari berbagai provinsi dan latar belakang.
Oh! Sungguh! Aku ingin menikmati masa mudaku!
TAPI
Tiap aku berpikir jauh.
Aku teringat, seorang muslimah kodratnya adalah mengurusi rumah dan beraksi di balik layar.
Aku teringat bahwa, hal-hal tadi tidak akan menjadi cerita manis di hari tuaku kelak.
Aku teringat pepatah "jangan mati-matian mengejar apa yang tidak kamu bawa mati".
Oh! Wahai!
Aku juga jadi teringat bahwa, sejatinya hidup ini adalah untuk menjadi orang yang
paling bermanfaat bagi sesamanya.
ADUH!
Aku harus bagaimana dong?
Sayang sekali kalau hal-hal tadi terlewatkan!
Masa mudaku mau dikemanakan?
Mau diapakan?
Aku merenung...
Eh, kok aku lupa?
"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (Q.S
Adz-Zariyat : 59).
Mahluk di muka bumi ini diciptakan untuk menyembah-Nya.
Seharusnya semua yang kulakukan adalah bentuk pengabdianku terhadap-Nya.
Aku lupa, seharusnya aku bersyukur.
Aku hidup di negeri mayoritas muslim yang aman dan tentram, serta penuh toleransi.
Aku dikelilingi mereka yang tulus menyayangi dan mencintaiku karena Allah.
Aku hidup sehat tanpa penyakit berarti.
Aku berada diantara orang-orang yang membimbing dan membantuku menuju Jannah-Mu.
Karena hanya kepada-Mu lah aku kembali. Sejauh-jauhnya, setinggi-tingginya aku
mengejar duniawi ini.
Karena sejatinya hidup hanyalah sepotong cerita singkat bagi mereka yang
bahagia, atau sepotong cerita panjang bagi mereka yang bersedih.
Aku ingin mati. Mati dan mati. Tanpa harus masuk surga atau neraka.
Tapi disinilah aku telah diberi anugerah atas hidup ini.
Apalagi yang kurang?
Yang mana kata Nabi saw., hanya dengan shalat 5 waktu, shadaqoh harian,
berpuasa, menjaga kehormatan diri dan taat pada suami (kelak), aku bisa
masuk Syurga dari pintu mana saja yang kusuka.
Apalagi yang kurang?
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?
Lantas apa yang bisa kulakukan untuk mengisi masa mudaku agar bermanfaat, seru,
dan menjadi cerita manis di hari tuaku nanti?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar