Assalamu’alaykum wr.wb
Pagi itu seperti biasa
tepat sebelum pukul 05.30 WIB rumahku sudah kosong ditinggal penghuninya. Ayah
dan Ibu ku adalah pegawai negeri yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat Ibu
Kota, sedangkan adik ku bersekolah di salah satu SMA Negeri di Jakarta, dan aku
saat itu kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Kami selalu
berpisah saat matahari belum terbit dan kembali bertemu saat matahari telah
berganti menjadi bulan. Begitulah rutinitas kami setiap harinya, bahkan waktu weekend
pun kami jarang melewatinya bersama karena adikku dan aku memiliki kegiatan
ekstra.
Rahasia kekuatan Ayah,
Adik, dan aku dalam melewati hari-hari yang bisa dibilang ‘sibuk’ karena adanya
Super Mom diantara kami. Mama, dia adalah sosok yang kekuatannya berkali-kali
lipat dibandingkan kami. Beliau selalu lebih dulu berdiri dan siap melayani keluarganya sekalipun beliau juga harus
menuntaskan amanahnya diluar rumah. Sosok inspiratif yang jadi panutanku untuk
menjalani hidup yang sebenarnya. Beliau adalah seorang anak, ibu rumah tangga, dan
juga pelayan kesahatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat
berbagai lapisan. Kalian tahu sahabat, beliau tidak pernah mengeluh atau bahkan
kehilangan senyum setiap harinya. Itu hal
yang selalu membuatku malu ketika berhadapan langsung dengan setumpuk
tugas dan segudang kegiatan yang membuatku ingin menyerah.
Akhir tahun 2013 aku
menagih janji kepada kedua orangtuaku. Kami membuat perjanjian bahwa aku akan
mengikuti ujian masuk PTN tahun berikutnya (2014) untuk capai apa yang aku mau,
maklum sahabat jurusan ku di universitas swasta ini tidak sepenuh hati ku
jalani. Alhamdulillah kedua orangtuaku termasuk yang tidak banyak aturan,
selama anak-anaknya bertanggung jawab atas apa yang dilakukan in syaa Allah mereka selalu restui. Akhirnya
perjuangku dimulai, ada satu kalimat kunci yang Mama sering ucapkan “Apapun
yang kamu pilih dan jalani, lakukannya sepenuh hati dan niatkan untuk dapat
ridho Allah karena dengan begitu in syaa Allah doa-doa Mama akan terkabul”. Ayo
kita berangkat sahabat, mana mimpimu?
Seminggu sebelum
seleksi masuk PTN Mama mencoba meyakinkan kembali atas urutan pilihan
universitas yang ku pilih. Beliau mengatakan apakah aku yakin dengan pilihanku,
kemudian mengatakan kalau rumah akan menjadi lebih sepi kalau aku diterima di
salah satu universitas yang ku pilih. Sahabat mendengar beliau mengatakan hal
itu air mataku langsung menetes, saat itu aku tidak sama sekali memilih
universitas yang ada di Jakarta. Mama dan aku selalu menghabiskan malam
bersama, biasanya beliau selalu curhat tentang kesehariaannya sambil minta dipijetin. Kami memang seperti sahabat, kalau sudah
berdua itu rasanya banyak hal yang bisa diceritakan, meski lebih sering beliau
yang bercerita. Mungkin hal tersebut menjadi salah satu alasan kenapa beliau
menanyakan keyakinanku dalam pilihan.
Hari yang ku nanti pun
tiba, dengan penuh semangat Mama bersiap untuk mengantarku ke tempat ujian.
Saat itu kami berangkat dengan angkutan umum, bermodalkan alamat yang tertera
pada kertas ujian bismillah kami berangkat. Lucunya saat itu Mama dan aku belum
pernah pergi kesana, coba cari-cari lokasi lewat google map sambil berdoa
semoga diselamatkan sampai tujuan dan tepat waktu sama Allah. Kami sempat
bingung untuk naik angkutan berikutnyasetelah sampai di salah satu halte yang
ada di GM sedangkan waktu tes sudah dekat, Mama memutuskan agar kami naik taksi
saat itu. Bersyukurnya kami dapat taksi yang supirnya sangat ramah. Perbincangan
pun dimulai antara Mama dan supir taksi itu yang intinya mereka membahas
harapan-harapan mereka pada anak-anaknya. Kulihat kaca spion taksi dan kudapati
wajah Mama mulai gelisah, beliau tak
henti berdzikir dan mengingatkanku untuk melakukan hal yang sama. Sampai
akhirnya Alhamdulillah aku sampai di lokasi dan tepat waktu. Sebelum memaasuki
ruang tes Mama mengatakan agar aku tetap tenang, baca doa, yakin, dan
bersyukur. Beliau memang tidak seperti ibu-ibu yang paham agamanya baik, beliau
tidak mengenakan hijab yang panjang ataupun mengenakan rok sesuai syari’at,
namun aku selalu berdoa agar beliau dimudahkan untuk menjadi lebih taat pada
Allah SWT.
Bel tanda tes
berakhirpun berbunyi, aku melihat Mama tengah menantiku di depan pintu keluar
sambil memegang sesuatu di tangannya.
Sahabat, kalian tahu itu adalah plastik yang berisi makan siang untukku karena
beliau tahu perutku pasti lapar setelah mengerjakan soal. Rasa sungkan untuk
makan itu muncul karena aku tahu beliau tengah menjalani puasa saat itu.
Alhamdulillah beliau lagi-lagi mengajarkan arti kesungguhan menjalani hidup,
sudah hampir 6 tahun ini beliau melaksankan puasa sunnah daud. Akhirnya tiba
waktu pengumuman seleksi, saat aku membukanya aku sedang di rumah dan Mama di
kantornya. Alhamdulillah aku diterima di jurusan yang aku mau di salah satu universitas
negeri di Bali. Saat ku hubungi Mama, beliau tak henti mengucap syukur sambil
menangis. Kalian tahu rasanya bahagia namun disertai kesedihan, karena aku
harus menghabiskan masa menuntut ilmu ku jauh dari keluarga.
Sekitar satu minggu
kami punya waktu untuk bersama, kalian tahu sahabat aku mulai berat untuk meninggalkan rumah padahal
sebelumnya aku memang pernah membayangkan hal ini terjadi. Semakin
dekat, semakin sering aku habiskan waktu bersama Mama.kami mulai sibuk mempersiapkan perlengkapan dan
kebutuhanku untuk merantau nanti. Mama
belakangan ini cenderung sedikit
bicara entah seperti banyak yang beliau pikirkan, sepertinya memang sangat
berat melepas gadinya pergi jauh.
Kamimemang hampir tak pernah berpisah
untuk waktu yang lama. Selang waktu berjalan, hari itu tiba dimana aku harus memulai perjalanan panjangku
jauh dari keluargaku. Mama mengantar dan
menemani 3 hari pertamaku di Bali, setelah itu beliau harus kembali pulang.
Ketika mengantarnya ke Bandara I.G.N Rai beliau memeluku sambil berkata, “Mama
percaya gadisku ini pasti bisa jadi
orang yang berhasil dunia dan akhirat.
Luruskan niat kakak ya, semoga semakin sholihah dan dimudahkan jalan dakwah kakak”.
Semenjak hari itu Mama dan aku sering berbicara via telepon, beliau selalu
menceritakan bagaimana keadaan rumah dan
aktifitas hariannya. Sahabat, jarak adalah nikmat yang terbatas begitulah cara
Mama dan aku menikmati semua ini. Ketika rindu datang, rasa ingin memeluk namun
tangan tak sampai, jarak mengajarkan kami untuk membesarkan doa-doa agar rindu
kami tersampaikan langsung pada hati-hati
kami. Mama selalu menjadi cahaya dalam hari-hariku, hampir di setiap
habis shalat ku temukan wajahnya yang penuh kedamaian. Semoga semua Mama di
dunia ini dapat merasakan kasih sayang buah hatinya dan kesabaran ekstra dalam
mendidik harapan-harapannya agar menjadi khalifah terbaik di bumi Allah ta’ala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar