Jumat, 06 Maret 2015

Ku Panggil Beliau Mama



Assalamu’alaykum wr.wb
Pagi itu seperti biasa tepat sebelum pukul 05.30 WIB rumahku sudah kosong ditinggal penghuninya. Ayah dan Ibu ku adalah pegawai negeri yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat Ibu Kota, sedangkan adik ku bersekolah di salah satu SMA Negeri di Jakarta, dan aku saat itu kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Kami selalu berpisah saat matahari belum terbit dan kembali bertemu saat matahari telah berganti menjadi bulan. Begitulah rutinitas kami setiap harinya, bahkan waktu weekend pun kami jarang melewatinya bersama karena adikku dan aku memiliki kegiatan ekstra.
Rahasia kekuatan Ayah, Adik, dan aku dalam melewati hari-hari yang bisa dibilang ‘sibuk’ karena adanya Super Mom diantara kami. Mama, dia adalah sosok yang kekuatannya berkali-kali lipat dibandingkan kami. Beliau selalu lebih dulu berdiri dan siap  melayani keluarganya sekalipun beliau juga harus menuntaskan amanahnya diluar rumah. Sosok inspiratif yang jadi panutanku untuk menjalani hidup yang sebenarnya. Beliau adalah seorang  anak, ibu rumah tangga,  dan  juga pelayan kesahatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat berbagai lapisan. Kalian tahu sahabat, beliau tidak pernah mengeluh atau bahkan kehilangan senyum setiap harinya. Itu hal  yang selalu membuatku malu ketika berhadapan langsung dengan setumpuk tugas dan segudang kegiatan yang membuatku ingin menyerah.
Akhir tahun 2013 aku menagih janji kepada kedua orangtuaku. Kami membuat perjanjian bahwa aku akan mengikuti ujian masuk PTN tahun berikutnya (2014) untuk capai apa yang aku mau, maklum sahabat jurusan ku di universitas swasta ini tidak sepenuh hati ku jalani. Alhamdulillah kedua orangtuaku termasuk yang tidak banyak aturan, selama anak-anaknya bertanggung jawab atas apa yang dilakukan  in syaa Allah mereka selalu restui. Akhirnya perjuangku dimulai, ada satu kalimat kunci yang Mama sering ucapkan “Apapun yang kamu pilih dan jalani, lakukannya sepenuh hati dan niatkan untuk dapat ridho Allah karena dengan begitu in syaa Allah doa-doa Mama akan terkabul”. Ayo kita berangkat sahabat, mana mimpimu?
Seminggu sebelum seleksi masuk PTN Mama mencoba meyakinkan kembali atas urutan pilihan universitas yang ku pilih. Beliau mengatakan apakah aku yakin dengan pilihanku, kemudian mengatakan kalau rumah akan menjadi lebih sepi kalau aku diterima di salah satu universitas yang ku pilih. Sahabat mendengar beliau mengatakan hal itu air mataku langsung menetes, saat itu aku tidak sama sekali memilih universitas yang ada di Jakarta. Mama dan aku selalu menghabiskan malam bersama, biasanya beliau selalu curhat tentang kesehariaannya sambil  minta dipijetin.  Kami memang seperti sahabat, kalau sudah berdua itu rasanya banyak hal yang bisa diceritakan, meski lebih sering beliau yang bercerita. Mungkin hal tersebut menjadi salah satu alasan kenapa beliau menanyakan keyakinanku dalam pilihan.
Hari yang ku nanti pun tiba, dengan penuh semangat Mama bersiap untuk mengantarku ke tempat ujian. Saat itu kami berangkat dengan angkutan umum, bermodalkan alamat yang tertera pada kertas ujian bismillah kami berangkat. Lucunya saat itu Mama dan aku belum pernah pergi kesana, coba cari-cari lokasi lewat google map sambil berdoa semoga diselamatkan sampai tujuan dan tepat waktu sama Allah. Kami sempat bingung untuk naik angkutan berikutnyasetelah sampai di salah satu halte yang ada di GM sedangkan waktu tes sudah dekat, Mama memutuskan agar kami naik taksi saat itu. Bersyukurnya kami dapat taksi yang supirnya sangat ramah. Perbincangan pun dimulai antara Mama dan supir taksi itu yang intinya mereka membahas harapan-harapan mereka pada anak-anaknya. Kulihat kaca spion taksi dan kudapati wajah Mama mulai gelisah, beliau tak  henti berdzikir dan mengingatkanku untuk melakukan hal yang sama. Sampai akhirnya Alhamdulillah aku sampai di lokasi dan tepat waktu. Sebelum memaasuki ruang tes Mama mengatakan agar aku tetap tenang, baca doa, yakin, dan bersyukur. Beliau memang tidak seperti ibu-ibu yang paham agamanya baik, beliau tidak mengenakan hijab yang panjang ataupun mengenakan rok sesuai syari’at, namun aku selalu berdoa agar beliau dimudahkan untuk menjadi lebih taat pada Allah SWT.
Bel tanda tes berakhirpun berbunyi, aku melihat Mama tengah menantiku di depan pintu keluar sambil memegang sesuatu di  tangannya. Sahabat, kalian tahu itu adalah plastik yang berisi makan siang untukku karena beliau tahu perutku pasti lapar setelah mengerjakan soal. Rasa sungkan untuk makan itu muncul karena aku tahu beliau tengah menjalani puasa saat itu. Alhamdulillah beliau lagi-lagi mengajarkan arti kesungguhan menjalani hidup, sudah hampir 6 tahun ini beliau melaksankan puasa sunnah daud. Akhirnya tiba waktu pengumuman seleksi, saat aku membukanya aku sedang di rumah dan Mama di kantornya. Alhamdulillah aku diterima di jurusan yang aku mau di salah satu universitas negeri di Bali. Saat ku hubungi Mama, beliau tak henti mengucap syukur sambil menangis. Kalian tahu rasanya bahagia namun disertai kesedihan, karena aku harus menghabiskan masa menuntut ilmu ku jauh dari keluarga.
Sekitar satu minggu kami punya waktu untuk bersama, kalian tahu sahabat  aku mulai berat untuk meninggalkan rumah  padahal  sebelumnya aku memang pernah membayangkan hal ini terjadi. Semakin dekat, semakin sering aku habiskan waktu bersama Mama.kami mulai  sibuk mempersiapkan perlengkapan dan kebutuhanku untuk merantau nanti. Mama  belakangan ini cenderung sedikit  bicara entah seperti banyak yang beliau pikirkan, sepertinya memang  sangat  berat  melepas gadinya pergi jauh. Kamimemang hampir tak  pernah berpisah untuk waktu yang lama. Selang waktu berjalan, hari itu tiba  dimana aku harus memulai perjalanan panjangku jauh dari keluargaku. Mama  mengantar dan menemani 3 hari pertamaku di Bali, setelah itu beliau harus kembali pulang. Ketika mengantarnya ke Bandara I.G.N Rai beliau memeluku sambil berkata, “Mama percaya gadisku ini pasti  bisa jadi orang yang berhasil  dunia dan akhirat. Luruskan niat kakak ya, semoga semakin sholihah dan dimudahkan jalan dakwah kakak”. Semenjak hari itu Mama dan aku sering berbicara via telepon, beliau selalu menceritakan bagaimana keadaan rumah  dan aktifitas hariannya. Sahabat, jarak adalah nikmat yang terbatas begitulah cara Mama dan aku menikmati semua ini. Ketika rindu datang, rasa ingin memeluk namun tangan tak sampai, jarak mengajarkan kami untuk membesarkan doa-doa agar rindu kami tersampaikan langsung pada hati-hati  kami. Mama selalu menjadi cahaya dalam hari-hariku, hampir di setiap habis shalat ku temukan wajahnya yang penuh kedamaian. Semoga semua Mama di dunia ini dapat merasakan kasih sayang buah hatinya dan kesabaran ekstra dalam mendidik harapan-harapannya agar menjadi khalifah terbaik di bumi Allah ta’ala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar