Cinta-cinta Terakhir
Hari ini lagi-lagi aku masih tidak
bisa temukan apa yang aku cari? Apa yang buat rasanya semua yang terjadi
berlalu begitu saja. Aku, Hani, siswi kelas 1 SMA di salah satu sekolah swasta
di Jakarta. Aku gadis yang riang dan lebih tepatnya agak sensitive. Aku punya
banyak teman karena aku memang senang berteman. Di sekolahku yang sebagian
besar mereka dari keluarga berada memang membuat sebagian dari mereka bergaul
dengan orang-orang yang menurut mereka pantas. Di kelas aku punya 2 teman dekat
Shasa dan Jane, meski kita gak selalu bersama tapi mereka tetap teman yang
selalu ada untukku. Shasa pernah bilang kalo aku tuh terlalu cuek, mereka
berdua bilang apa mungkin seorang Hani yang punya banyak teman cowok atau cewek
ini bisa naksir cowok? Mereka berdua selalu berusaha buat mengaku atau
menjodoh-jodohkan aku dengan cowok. Secuek-cueknya
aku pasti ada seseorang yang buat aku tertarik, masalahnya aku gak tau siapa
cowok itu.
Ujian semester 1 semakin dekat, gak
terasa sudah setengah tahun aku ada di sekolah ini. Ruang 6 adalah ruang ujianku,
yang kata anak-anak di sekolahku ruang ujian para the best lah di sekolah.
Masalah itu gak terlalu aku pikirkan, biasa kalo udah ujian gini jarang banyak
bicara kecuali gangguin teman-teman yang lagi belajar. Hari pertama ujian baru
berasa beda banget ini ruangan sama ruangan ujian yang lain keliatannya, gak
ada yang bisa aku ajak becanda sepertinya teman sekelasku yang pakai kaca mata
tebal banget itu gak mau diganggu Reza namanya. Bu Monic yang mengawas
ruanganku. Guru astronomi super gaul, dia asik banget kalau dah diajak becanda.
“Ibu cantik ngawas kelas Hani manis.. :) ”, nyeletuk gitu malah buat anak-anak
seruangan itu heran ngeliat aku. Beruntungya bu Monic senyum bahkan membalas
kata-kataku dengan tawa. Bel istirahat berbunyi setelah selesai mengerjakan
ujian Bahasa Indonesia, karena itu aku jadi gak mood ngomong apa lagi bangun
dari tempat dudukku. Tiba-tiba Shasa dan Jane datang menghampiriku di depan
ruanganku, dan dengan sedikit terpaksa aku bangun sambil memberikan senyum
mautku agar mereka tidak curiga. Berbincang , tertawa sebentar dan kami pun
harus kembali ke ruang ujian masing-masing, sadar atau gak aku rasa ada sorot
mata yang cukup mengganggu memandangiku. Pelajaran terakhir yang diuji adalah
perbumian, bel berbunyi tanda waktunya pulang yang sangat ku tunggu itu hadir
di saat yang tepat.
Hampir seminggu ujian tulis semester 1
selesai aku dapat teman baru Yogi yang cukup tenar dikalangan gadis-gadis di
sekolahku, cowok ini terkenal jaim, pintar, tampan, dll. Tapi ternyata gak
semua yang mereka bilang benar tentang cowok itu. Yogi cowok yang tiba-tiba sok
asik ini dengan penuh percaya diri menghampiriku dengan alasan nanyain catatan
biologi, minjem penghapus dengan sejuta lelucon dia yang cukup garing menurut
temen-temen dekatku tapi bisa buat ku tertawa dan nyambung aja sama cara
becanda ku. Cuek nya aku sampai gak sadar kalau banyak fans-fans beratnya si
Yogi ngegerutu karena bisanya si Yogi deket dan ketawa bareng aku, peduli banget
sih gak, pokoknya kalau mereka gak sentuh aku gak masalah deh. Minggu depan
jadwalnya ujian praktek prepare buat tambahan nilai+latihan ke jurusan yang mau
aku ambil, kebetulan ruang ujianku itu satu tujuan IPA jadi dilakukan perubahan
sedikitpun. Hari pertama ujian praktek Biologi dibagi 2 orang/kelompok nama ku disebut kemudian Yogi, dari jauh itu
orang udah nahan senyum. Dengan pikiran buruk melayang dipikiranku sepertinya
ni orang bakal duduk santai trus aku yang kerjain. Yogi benar-benar susah di tebak
semua pikiranku tentang dia salah semua, kita benar-benar kerjasama selama
praktek gak berhenti ganti-gantian mulut kita ngocehin hal-hal yang mungkin
menurut orang lain gak penting untuk dibahas. Suasana kayak gitu gak bertahan
lama, sampai pada akhirnya Shasa, Jane dan teman-temanku yang lain meledekku
mereka pikir aku sama si Yogi ada apa-apa. Ujian selesai bagi raport pokoknya
ritual-ritual penting itu selesai aku libur 2minggu ngabisin waktu kalau gak
main sama teman-teman SMP, teman dekat rumah atau jalan sama teman sekelas aja.
Awal semester 2 ku rasa gak ada yang berbeda, Cuma jadi
sering lihat tampangnya si Yogi, padahal selama ini sering lihat tapi gak tahu
kalau itu yang namanya Yogi. Ketemu di tangga mau ke kantin mau nyapa gak enak
jadi cuma pasang senyum lebar-lebar dibalas dengan senyum pelitnya tuh cowok.
Kejadian tadi di tangga gak cukup mengganggu pikiranku. Justru cerita Shasa dan
Jane yang bikin aku tertawa geli, mereka bilang ada salah satu kelompok putri
kakak kelas yang cukup tenar di sekolah mereka suka memberi pelajaran pada
adik-adik kelas yang mereka anggap mengganggu atau menghalangi mereka dalam
hal-hal yang menurut mereka penting. Santai aja itulah aku. Boro-boro peduli,
bawa santai aja toh si Yogi sama aku gak deket yang gimana-gimana just friend
aja. Pokoknya di sekolah gak ada yang berubah malah makin asik.
Januari awal papaku pulang dari Jerman.
Dia punya perusahaan disana, ya mungkin itu yang jadi salah satu alasan banyak
kelompok-kelompok anak gaul yang mengajak aku untuk jadi salah satu anggota
kelompok mereka . Papaku pulang setelah 1 bulan mengurus saham barunya itu, dia
kembali dengan memberi surpise yang gak pernah aku bayangin sebelumnya. Papa
hampir gak pernah mau peduli dengan cita-cita dan anganku karena yang dia tahu
aku akan jadi apa yang dia mau. Tiket bersekolah di Jerman dengan rencana aku
mama dan papa tinggal disana sampai saham papa disana stabil. Hanya satu minggu
waktu ku bisa kumpul sama teman-temanku di sekolah. Rencananya aku baru mau
kasih tahu mereka nanti kalau waktunya udah dekat, tapi gagal deh. “Hani gimana
persiapanmu tuk pindah sekolah? Ibu dengar kamu mau pindah ke Jerman ya?”
dengan nada bahagia bu Monic yang sangat menyayangiku itu bertanya dan membuat
kaget teman sekelasku. Aku jawab dengan wajah sedikit terkejut dengan
pertanyaan itu, “Iya gak gimana-gimana bu.. hmmm rencananya sih gitu”. Shasa
dan Jane terkejut mereka gak berhenti beri pertanyaan dan mencari kepastianku
akan pertanyaan bu Monic tadi, mereka bilang gak mau kehilangan aku. Tapi itu
sudah jadi keputusan dan memang sejak lama jadi impianku, untuk itu aku banyak
habiskan waktuku dengan mereka sebelum aku benar-benar berangkat ke Jerman.
Yogi yang semenjak habis liburan tak lagi seperti Yogi yang ku kenal itu
tiba-tiba datang dengan wajah sedikit terkejut menanyakan berita akan
kepindahanku. Ini cowok minta alamat Fb, Twitter, Blog, pin BB dll pokoknya ini
orang ribet banget deh.
Gak terasa udah hampir seminggu, hari
terakhir di sekolah aku habisin waktu sama kedua sahabatku dan tuh cowok sok
asik “si Yogai” biasa ku panggil dia. Ketawa bareng, narsiz dan cerita-cerita
banyak hal. Hari itu mereka kasih aku kenangan yang gak akan pernah aku lupain,
so di akhir kisah ku di SMA ini adalah masuknya Yogi jadi salah satu daftar teman
terdekatku. Malam harinya tepat tanggal 11 Januari 2011 aku dan keluarga
berangkat menuju kota dimana aku akan tinggal dan menghabiskan waktu disana,
diantar kedua sahabatku dan Yogi sahabat baru ku itu. “Han, tetap jadi lo yang
kita kenal ya, komunikasi harus jalan terus jangan sombong, kalo lo lagi di
Indonesia jangan lupa ketemuan, kita bertiga dan yang lain sayang lo Han !”
kata mereka serempak, dan aku selalu ingat .
Keberangkatan
ku dan hari-hari ku disana pun akan segeran ku mulai.
to be continued ::)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar